Oleh : Dr. Drs. Agus Syihabudin, MA


Setiap manusia pernah berpuasa, meski tidak selalu menyadarinya. Ketika makanan tidak tersedia, kita menahan lapar. Ketika makanan terhidang tapi tubuh tidak memungkinkan untuk makan, kita memilih tidak menyantapnya. Bahkan ketika hidangan terhampar dan tubuh sedang bugar, tak sedikit orang berpuasa demi kesehatan atau keindahan bentuk tubuh. Secara sederhana, puasa adalah kemampuan manusia untuk menahan diri, menunda yang diinginkan sekarang demi sesuatu yang lebih bernilai.

Namun manusia bukan hanya raga. Ia terdiri dari dua dimensi: jasmani dan ruhani. Raga memiliki kebutuhan biologis: makan, minum, istirahat, dan lainnya. Jiwa memiliki kebutuhan maknawi: ketenangan, arah hidup, dan kedekatan dengan Sang Pencipta. Ketika hidup hanya berpusat pada raga, manusia bergerak pada level instingtif: memenuhi dorongan dan mengejar kenikmatan fisik. Tetapi ketika jiwa mengambil kendali, hidup naik kelas, dari sekadar memenuhi kebutuhan menjadi memaknai hakikat keberadaan.

Di sinilah Ramadan menemukan relevansinya. Jika manusia memiliki dua dimensi yakni raga dan jiwa, maka puasa Ramadan adalah momentum ketika jiwa dididik untuk memimpin. Ketika Islam datang, puasa tidak lagi sekadar praktik natural, tetapi diangkat menjadi ibadah yang sarat makna transendental.

Advertisement

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 183:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini menarik bukan hanya karena perintahnya, tetapi karena cara Allah menyampaikannya. Kata yang digunakan adalah “kutiba” (كُتِبَ), “telah dituliskan”. Secara semantik dan balaghah, pilihan diksi ini menyiratkan kesinambungan sejarah. Puasa bukanlah ritual yang muncul secara tiba-tiba; ia telah hadir dalam tradisi umat-umat terdahulu. Frasa “kutiba ‘alaykum” juga memberi nuansa kelembutan psikologis. Ada unsur tasliyah (penguatan jiwa) dan takhfif (peringanan beban mental) dalam menjalani puasa.

Tetapi Islam tidak berhenti pada aspek historis. Islam menggeser orientasinya. Jika sebelumnya puasa dilakukan karena keterpaksaan situasional atau motivasi pragmatis seperti kesehatan dan kebugaran, maka dalam Ramadan ia diberi tujuan yang jauh lebih dalam: “La‘allakum tattaqun”, agar kamu sekalian bertakwa.

Inilah titik kenaikan kelas itu. Puasa memindahkan pusat kendali manusia dari raga ke jiwa. Dari dorongan menuju kesadaran, dari insting menuju nilai, dari sekadar hidup menuju hidup yang bermakna.

Saat raga meminta, jiwa berkata: tunggu. Saat nafsu mendesak, kesadaran menahan. Saat haus membakar tenggorokan, jiwa tetap tegak. Saat lapar terasa, ruh justru menguat. Dalam keadaan lapar, dahaga, dan dorongan syahwat menguat, manusia belajar bahwa ia bukan budak tubuhnya. Ia mampu mengatakan “tidak” pada dorongan biologisnya. Di situlah martabatnya terangkat.

Barangkali di saat-saat lapar itulah kita baru menyadari betapa sering raga mengendalikan arah hidup kita. Jika hidup hanya mengikuti raga, manusia tidak jauh berbeda dari makhluk biologis lain yang digerakkan oleh insting. Tetapi ketika ia mampu mengendalikan raga demi nilai yang lebih tinggi, ia menjadi makhluk spiritual. Puasa adalah latihan intensif untuk itu, sebuah madrasah tahunan yang mendidik manusia agar jiwa menjadi pemimpin, dan raga menjadi pengikut.

Pemahaman ini tidak hanya bersifat moral, tetapi juga memperoleh elaborasi teologis yang mendalam dari para ulama. Salah satunya adalah Imam Fakhr al-Din al-Razi dalam Mafātīḥ al-Ghayb (juz 5, hlm. 76). Ia menjelaskan bahwa ketika jiwa telah diliputi rasa takut (khauf) kepada Allah—hingga dorongan itu membuatnya rela meninggalkan kebutuhan paling kuat seperti makan, minum, dan hasrat seksual, padahal semuanya halal dan tersedia—maka jiwa tersebut telah mencapai derajat pengendalian diri yang tinggi.

Sebab, kebutuhan makan dan syahwat adalah dorongan biologis paling primer dan paling mendesak. Jika terhadap dorongan yang sekuat itu seseorang mampu berkata “tidak” demi ketaatan, maka secara logis ia akan lebih mudah mengendalikan dorongan-dorongan lain yang tingkat urgensinya berada di bawahnya, seperti amarah, keserakahan, cinta dunia yang berlebihan, dan kecenderungan maksiat.

Dengan demikian, puasa menurut Al-Razi adalah proses penataan hierarki dalam diri manusia: menempatkan akal dan kesadaran spiritual di atas insting, serta menjadikan rasa takut kepada Allah sebagai pusat kendali. Dari sinilah lahir pribadi yang tidak lagi digerakkan oleh dorongan naluriah semata, melainkan oleh nilai dan kesadaran ilahiah.

Demikianlah keistimewaan puasa yang ditegaskan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis Qudsi yang diriwayatakan oleh Imam Al-Bukhari (no. 1904) dan Imam Al-Muslim (no. 1151): “Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Puasa disebut “untuk-Ku” karena ia sangat batiniah. Ia bekerja di ruang sunyi antara hamba dan Rabb-nya. Tidak makan bisa saja berpura-pura, tetapi menahan diri sepanjang hari dalam kesadaran iman adalah urusan jiwa. Di situlah raga tunduk dan jiwa naik.

Jadi, Ramadan bukan sekadar perubahan jadwal makan. Ia adalah reposisi orientasi hidup. Ia mengajarkan bahwa kebebasan sejati bukanlah mengikuti semua keinginan, melainkan mampu mengendalikan keinginan. Ia membimbing manusia untuk tidak berhenti pada level fisik, tetapi menembus ke kedalaman spiritual.

Pada akhirnya, puasa bukan sekadar disiplin biologis. Ia adalah rekonstruksi makna atas pengalaman universal manusia, mengangkatnya dari sekadar tradisi menjadi jalan penyucian jiwa. Ramadan adalah momentum kenaikan kelas: dari raga menuju jiwa, dari lapar menuju takwa.

Dari tradisi menuju jiwa suci. Dari tubuh yang menahan, menuju ruh yang dimuliakan. Maka pertanyaannya bukan lagi: sudahkah kita menahan lapar? Tetapi: sudahkah jiwa kita benar-benar memimpin hidup kita?


Dr. Drs. Agus Syihabudin, MA. Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung. HP: 0816.618.315.

Advertisement

Tinggalkan Komentar