Aprinus Salam

Di pinggiran sebuah kampus yang megah,
tapi juga gerah
duduklah seorang pemulung tua
dengan sekarung plastik rongsokan
dan secuil harapan

Seorang mahasiswa berlalu
melirik sejenak, seperti berpikir
tak tahu harus berbuat apa
dan terus berjalan

Di kelas, sambil menunggu dosen
membuka gejet, membaca berita
ratusan trilyun uang rakyat dijarah

sembari mendengar dosen ngoceh
terbayang wajah pemulung
terlintas pula seorang pejabat
naik jet pribadi, sambil pesta pora

Dalam hati, sang mahasiswa bertanya
pelajaran seperti apa yang diterimanya
teori-teori membuncah
hidup harus sukses menjadi warga negara

Dari duduk terhenyak, Sang pemulung beranjak,
kembali melihat gedung bertingkat
membayangkan anaknya bisa sekolah
dan bermimpi bisa menabung, agar bisa beli buku
buku pelajaran membuat puisi

Buku pelajaran lain tidak bermanfaat
Karena tidak bisa menjelaskan
kenapa babi-babi berkeliaran
kenapa tikus terus menggerogoti
dan rayap-rapap yang tak kenal ampun
Biarlah puisi yang membantu
untuk belajar bersedih
untuk belajar berperasaan
menangkap sinyal semesta

Mahasiswa meninggalkan bangku
Berlari kecil di antara mobil-mobil yang parkir
mencari pemulung tua
berniat berdiskusi tentang cinta

Tapi ia tidak menemukan
Sang pemulung telah moksa
Ke surga

Yogya, Kampus UGM, Akhir Februari 2026

Advertisement
Artikulli paraprakMakan Siang Gratis

Tinggalkan Komentar