Requiem di Bawah Langit Bulaksumur
Oleh: Gus Nas Jogja
Di pelataran Bulaksumur, di mana akar-akar Pohon Bhodi atau Ficus Religiosa membelit bumi seperti urat-urat purba yang menyimpan memori peradaban, kini kita menyaksikan sebuah teater bayangan yang ganjil, superficial dan penuh anomali. Sebuah drama eksistensial sedang dipentaskan, bukan oleh para empu kebijaksanaan, melainkan oleh mereka yang menyandang gelar “Mahasiswa”—sang pewaris tahta Kampus Kerakyatan. Namun, koridor-koridor nalar itu kini terasa lebih menyerupai agora yang bising dengan gema kosong daripada kuil pengetahuan. Kritik yang dilontarkan—oleh BEM UGM dan sekutunya—bukanlah fenomena tunggal, melainkan sebuah simtom dari penyakit yang lebih kronis: persetubuhan gelap antara Banalitas Kekuasaan dan Kritik Ornamental, sebuah krisis intelektual yang meluruhkan substansi demokrasi menjadi sekadar dekorasi digital.
Hari ini kita hidup dalam era di mana kekuasaan tak lagi tampil dalam jubah tirani yang megah, melainkan dalam bentuknya yang paling menakutkan: Banalitas. Mengambil inspirasi dari Hannah Arendt, kekuasaan hari ini bekerja bukan melalui pedang, melainkan melalui administrasi yang dingin dan rutinitas yang membunuh nalar kritis. Banalitas kekuasaan adalah kondisi di mana ketidakadilan dianggap sebagai prosedur standar operasi (SOP), dan kebijakan yang menindas dibungkus dengan eufemisme birokratis yang sopan.
Secara filosofis, ini adalah krisis ontologis. Kekuasaan telah kehilangan “ada”-nya yang substansial dan berubah menjadi sekadar simulasi. Jean Baudrillard akan melihat kritik mahasiswa sebagai upaya untuk menembus lapisan Hyper-reality tersebut. Namun, celakanya, kritik itu sendiri seringkali terjebak dalam banalitas yang sama; ia menjadi rutin, menjadi ritual musiman yang kehilangan daya ledak metafisiknya. Mahasiswa terjebak dalam apa yang disebut Martin Heidegger sebagai Das Man—keberadaan yang “anonim”, di mana mereka mengkritik bukan karena panggilan jiwa atau Dasein, melainkan karena itulah yang diharapkan oleh algoritma media sosial.
Kritik Ornamental Gen-Z: Mimesis Tanpa Akar
Kritik yang lahir dari rahim Gen-Z seringkali tampil memukau namun rapuh—apa yang kita sebut sebagai Kritik Ornamental. Secara antropologis, ini adalah kegagalan Indonesianitas dalam bertransformasi. Kuntjaraningrat pernah memperingatkan tentang “Mentalitas Terabas”, sebuah kecenderungan untuk menginginkan hasil instan tanpa melewati proses perjuangan yang panjang dan berliku. Kritik ornamental adalah kritik yang mengutamakan estetika visual daripada kedalaman riset; ia lebih sibuk dengan typography poster daripada akurasi data primer.
Selo Soemardjan, sang sosiolog yang tajam, melihat perubahan sosial di Indonesia seringkali hanya menyentuh lapisan material-teknologis namun gagal menyentuh nilai-nilai sosial mendasar. Kritik BEM UGM, dalam wajah ornamentalnya, hanya menjadi “ornamen demokrasi”—sebuah pajangan yang membuat kekuasaan seolah-olah demokratis, padahal nalar kritisnya telah dijinakkan oleh hasrat akan viralitas. Inilah tragedi mimesis: mahasiswa meniru gaya pahlawan era ’66 dan ’98, namun kehilangan ruh kesahajaan dan ketajaman intelektual mereka.
Krisis intelektual kampus hari ini adalah bentuk dari “deforestasi mental”. Kita telah mengkhianati trilogi pendidikan Ki Hadjar Dewantara: Ngerti, Ngroso, Nglakoni. Kita mungkin Ngerti (tahu) banyak informasi, namun kita kehilangan Ngroso (rasa/empati) terhadap penderitaan rakyat, dan gagap dalam Nglakoni (menjalankan) tindakan nyata yang transformatif.
Pendidikan tidak lagi menjadi “Taman Siswa” yang memanusiakan manusia, melainkan pabrik tenaga kerja yang memproses manusia menjadi sekadar sekrup-sekrup birokrasi. Sudjatmoko memandang intelektual bukan sebagai teknokrat yang menyembah angka, melainkan sebagai pengawal martabat manusia. Ketika kampus hanya sibuk mengejar peringkat internasional, ia sedang melakukan bunuh diri eksistensial. Intelektual kampus telah menjadi “priyayi baru” yang terasing dari tanahnya sendiri—mereka fasih bicara teori global di ruangan berpendingin, namun gemetar saat harus bersentuhan dengan lumpur sawah petani.
Di sinilah kita merindukan Kuntowijoyo dengan paradigma Ilmu Sosial Profetik-nya. Bagi Kuntowijoyo, intelektualitas harus mengandung tiga unsur: Humanisasi, Liberasi, dan Transendensi. Kritik BEM UGM seringkali hanya menyentuh aspek liberasi (pembebasan) yang dangkal, namun melupakan humanisasi (memanusiakan manusia) dan kehilangan sauh transendensi (makna luhur di hadapan Tuhan).
Kampus telah mengalami “sekularisasi nalar” dalam arti yang paling buruk: hilangnya rasa takjub dan tanggung jawab moral di hadapan kebenaran. Ilmu pengetahuan hanya menjadi alat untuk mendaki tangga kelas sosial. Jika mahasiswa hanya mengkritik demi kekuasaan baru, maka mereka tidak sedang melakukan transformasi profetik, melainkan sekadar sirkulasi elit dalam skala mikrokosmos kampus. Humanisasi berarti mengembalikan wajah manusia pada setiap data statistik kemiskinan; transendensi berarti menyadari bahwa setiap kebijakan adalah pertanggungjawaban di hadapan Sejarah dan Sang Khalik.
Dalam kacamata Tan Malaka, setiap pergerakan harus memiliki MADILOG (Materialisme, Dialektika, Logika). Krisis intelektual kampus saat ini terjadi karena mahasiswa kehilangan kemampuan dialektisnya. Mereka memahami materialisme hanya sebatas kepemilikan gawai terbaru, namun buta terhadap struktur kelas yang bekerja di balik kebijakan negara.
Secara sosiologis, kritik yang meledak di Twitter atau TikTok adalah bentuk “Madilog Digital” yang terdistorsi. Antonio Gramsci mungkin akan menyebut ini sebagai kegagalan menciptakan “hegemoni tandingan”. Mahasiswa tidak lagi menawarkan sistem nilai baru sebagai alternatif dari banalitas kekuasaan; mereka hanya melakukan disrupsi tanpa rekonstruksi. Mereka mengguncang kursi kekuasaan, namun tidak tahu bagaimana cara membangun tatanan yang lebih adil secara struktural. Tan Malaka mengingatkan bahwa aksi massa tanpa logika hanyalah bunuh diri politik yang sia-sia.
W.S. Rendra, alumni Sastra UGM, berteriak lantang: “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.” Rendra mengajarkan bahwa intelektual harus memiliki “daya hidup” yang meledak. Namun, kritik Rendra lahir dari pengamatan mendalam atas penderitaan rakyat, bukan dari rangkuman utas. Di sisi lain, Umar Kayam menawarkan wajah intelektual yang cair, yang mampu menyelami jiwa rakyat jelata.
Kritik ornamental Gen-Z seringkali memiliki keberanian Rendra, namun kehilangan kebijakan budaya Umar Kayam. Mereka terjebak dalam gaya “priyayi intelektual” yang merasa paling tahu segalanya, namun kehilangan sentuhan sosiologis yang halus. Kebijakan budaya inilah yang membuat kritik tidak menjadi sekadar maki-maki, tapi menjadi tawaran martabat yang berakar pada realitas sosiokultural Indonesia.
Jika kita menengok Bung Hatta, kita menemukan intelektual yang “sunyi namun berisi”. Hatta adalah antitesis dari banalitas. Baginya, politik adalah kewajiban moral yang suci. Begitu pula Sutan Sjahrir, sang aristokrat jiwa, yang mengingatkan bahwa pergerakan harus dipandu oleh kematangan berpikir, bukan sekadar sentimen massa.
Kritik BEM UGM hari ini seringkali kekurangan “Kesunyian Hatta” dan “Kematangan Sjahrir”. Kita berada di zaman di mana intelektualitas diukur dari volume suara, bukan dari bobot integritas. Intelektual kampus telah menjadi “selebriti pemikiran” yang lebih takut kehilangan followers daripada kehilangan kebenaran. Seperti kata Albert Camus (Peraih Nobel Sastra 1957), “Kebenaran membutuhkan kesaksian, bukan sekadar tepuk tangan.”
Logika Disrupsi Gen-Z: Anekdot Satire tentang Revolusi Sejempol
Di sebuah sudut kafe yang estetik di sekitar Bulaksumur, seorang mahasiswa dengan kaos bertuliskan “Aksi Masa” sedang sibuk mengatur lighting untuk konten protesnya.
“Kita harus melawan banalitas kekuasaan!” ucapnya serius.
“Bagaimana strateginya?” tanya temannya.
“Aku sudah bikin utas, sudah menandai akun-akun besar, dan sekarang tinggal menunggu viral. Kalau sudah viral, artinya revolusi berhasil, kan?”
Di meja sebelah, bayangan Tan Malaka menghela napas panjang, sementara Bung Hatta merapikan tumpukan bukunya dengan raut muka masygul. Rendra berdiri di pojok sambil bergumam, “Apa gunanya belajar filsafat kalau tidak mengerti jeritan rakyat?” sementara mahasiswa itu sibuk membalas komentar hater.
Inilah krisis psikologis Gen-Z: mereka mengira bahwa “kesadaran digital” identik dengan “perubahan struktural”. Mereka terjebak dalam Clicktivism—sebuah bentuk aktivisme yang memberi kepuasan moral instan namun minim dampak nyata di lapangan.
Geologi Kesadaran: Mitologi Mentalitas Terabas.
Jika kita menggali lebih dalam ke dalam “geologi kesadaran” mahasiswa hari ini, kita akan menemukan lapisan-lapisan kegagalan kebudayaan yang telah lama diperingatkan oleh Kuntjaraningrat. Beliau, dengan nada yang hampir profetik dalam esai-esainya tentang mentalitas manusia Indonesia, mengidentifikasi sebuah virus yang kini bermutasi menjadi Kritik Ornamental: yaitu kegemaran akan simbol daripada substansi.
Kritik BEM UGM yang seringkali tampil dengan grafis yang sangat artistik di Instagram, namun lemah dalam sitasi data agraria atau ekonomi-politik, adalah manifestasi dari “Mentalitas Terabas”. Kita ingin menggulingkan narasi kekuasaan hanya dengan satu kali posting viral, tanpa mau melewati “jalan sunyi” riset lapangan yang berdarah-darah. Banalitas kekuasaan justru merayakan kritik seperti ini; karena kekuasaan yang banal tahu bahwa ornamen tak akan pernah bisa meruntuhkan struktur. Kuntjaraningrat menuntut kita untuk melakukan Niteni terhadap mentalitas feodalistik yang menyamar dalam diksi progresif. Tanpa transformasi mental, mahasiswa hanya akan menjadi “tuan tanah intelektual” baru yang mengusir kebenaran demi ego sektoral.
Sosiologi Kegamangan: Transisi yang Tak Selesai
Selo Soemardjan, sang begawan sosiologi, pernah membedah bagaimana masyarakat yang sedang bertransisi dari tradisional ke modern seringkali mengalami “anomi”—sebuah kondisi tanpa arah di mana nilai-nilai lama ditinggalkan namun nilai baru belum mengakar. Krisis intelektual kampus adalah anomi massal. Mahasiswa mengadopsi cara protes Barat yang liberal-individualis namun tetap membawa sifat komunal-pasif dalam belajar.
Dalam perspektif Selo, kritik harus memiliki “fungsi sosial” yang integratif. Namun, kritik ornamental Gen-Z seringkali bersifat atomistik—ia hanya meledak di ruang hampa digital tanpa pernah benar-benar menyentuh simpul-simpul pengorganisiran rakyat di akar rumput. Kekuasaan yang banal tumbuh subur di sela-sela kegamangan sosiologis ini. Mereka membiarkan mahasiswa berteriak di awan-awan digital (ruang siber), sementara di atas tanah, kebijakan ekstraktif terus berjalan tanpa hambatan nalar yang presisi.
Pedagogi Kemerdekaan: Ki Hadjar Dewantara dan Matinya “Taman”.











