
PUisi Oka swastika mahendra
Di dalam dada manusia ada sebuah padang luas yang tak tampak oleh mata. Orang-orang bijak dalam kisah kuno menyebutnya seperti medan perang besar dalam epos Mahabharata—tempat para ksatria berhadapan bukan hanya dengan musuh, tetapi juga dengan keraguan, ambisi, dan bayang-bayang diri sendiri.
Ketika bulan puasa datang, padang itu kembali terbuka.
Aku membayangkannya seperti Baratayuda di dalam jiwa.
Di satu sisi berdiri niat baik: kesabaran, kejujuran, empati, dan lapar yang diterima sebagai latihan. Mereka seperti pasukan Pandawa yang datang dengan wajah lelah, tetapi mata mereka jernih. Mereka tidak membawa banyak senjata—hanya tekad.
Di sisi lain berdiri pasukan nafsu: marah, iri, rakus, sombong, dan keinginan untuk menang sendiri. Mereka ramai, gaduh, dan sering tampak lebih kuat. Nafsu itu seperti pasukan besar yang percaya bahwa manusia mudah ditaklukkan oleh kenyamanan.
Setiap hari puasa, genderang perang itu dipukul sejak fajar.
Ketika perut mulai kosong, pasukan nafsu berteriak,
“Menyerahlah! Hidup ini untuk dinikmati!”
Namun dari sisi lain terdengar suara yang lebih tenang, seperti nasihat para resi dalam kisah Baratayuda di berbagai cerita yang tersebar di banyak tulisan dan tafsir: perang terbesar manusia bukan melawan orang lain, tetapi melawan dirinya sendiri.
Hari pertama, pertempuran kecil terjadi.
Marah hampir menang ketika seseorang menyinggung harga diri.
Tetapi puasa mengangkat perisai: diam sejenak, menarik napas, menahan lidah.
Hari kedua, pasukan lapar mencoba menggoda.
Aroma makanan seperti panah yang beterbangan.
Namun niat baik berdiri di tengah medan dan berkata,
“Ini bukan kelaparan biasa, ini latihan jiwa.”
Hari ketiga, kesombongan mencoba menyamar sebagai kebaikan.
Ia berkata, “Lihat, aku paling kuat berpuasa.”
Saat itu, seorang ksatria kecil dalam diri—keikhlasan—maju ke depan dan menundukkan kepala. Perang pun berubah arah.
Begitulah setiap hari Ramadhan seperti babak demi babak Baratayuda batin.
Tidak selalu kita menang telak. Kadang kita mundur, kadang kita jatuh. Tetapi medan itu tidak pernah benar-benar ditinggalkan.
Sebab puasa bukan hanya menahan makan dan minum.
Puasa adalah strategi perang jiwa.
Ia mengajari manusia bahwa kemenangan sejati bukan ketika musuh luar kalah, tetapi ketika nafsu yang liar mulai tunduk pada hati yang jernih.
Dan pada suatu senja menjelang berbuka, ketika langit memerah seperti kisah peperangan besar di kitab-kitab lama, seseorang akhirnya mengerti:
Padang Kurusetra itu bukan di masa lampau.
Ia ada di dalam dada setiap manusia.
Setiap puasa adalah Baratayuda kecil.
Dan setiap niat baik yang bertahan sampai maghrib adalah kemenangan.
Jogjakarta, 27 Februari 2026











