
Puisi Oka swastika mahendra
1
Fajar merekah
Langit memucat
Adzan memanggil jiwa
Sunyi menjadi saksi
Embun di rumput
Nafas terasa ringan
Hati mulai sadar
2
Langkah ke sajadah
Air wudhu bening
Dingin menyentuh iman
Gemetar kecil
Doa terangkat perlahan
Harap tak putus
Ampun Kau dekat
3
Gelap tersibak cahaya
Burung memuji pagi
Angin membawa tasbih
Daun berzikir lirih
Waktu begitu suci
Detik terasa tajam
Janji diperbarui
4
Kitab terbuka hening
Ayat turun tenang
Makna menetes lembut
Akal menunduk khidmat
Lidah basah dzikir
Niat diluruskan lagi
Hidup ditata ulang
5
Pasar belum riuh
Jalan masih lengang
Dunia menahan nafas
Ambisi belum bangun
Ego masih tidur
Saat paling jujur
Cermin tanpa debu
6
Ingat fana diri
Tanah menunggu pulang
Usia berkurang diam
Detak menghitung amanah
Rezeki sudah tertulis
Tugas tetap berjalan
Syukur jadi bekal
7
Subuh mengajari sabar
Terang lahir pelan
Gelora diredam sunyi
Marah luruh sendiri
Lelah disiram doa
Luka dibalut yakin
Langkah diteguhkan
8
Tetangga membuka pintu
Salam berbalas hangat
Senyum sederhana tulus
Saf dirapatkan rapih
Bahu saling sentuh
Tak ada beda
Kita setara hamba
9
Matahari naik perlahan
Hari siap diuji
Godaan datang lagi
Namun subuh tinggal
Sebagai kompas batin
Pengingat arah pulang
Hikmah tak padam
Jogjakarta, 26 Februari 2026











