
Oleh: Hendrajit
Setting geografis Iran sama pentingnya dengan setting sejarahnya. Dari populasi Iran yang saat ini kisaran antara 83 hingga 90 juta jiwa (data statistik banyak yang simpang-siur), menarik mengamati komposisi penduduk Iran yang sejatinya multi-etnik itu.
Orang Persia tentu saja merupakan kelompok etnis terbesar (61 persen), diikuti oleh orang Azeri (16 persen) dan Kurdi (10 persen).
Namun sejak Revolusi Islam Iran 1979 yang diikuti dengan perubahan dari monarki ke republik seturut terbentuknya Republik Islam Iran di bawah Ayatullah Khomeini, Islam ternyata mampu menjadi perekat persatuan masyarakat yang multi-etnik itu.
Hingga kini praktis tak ada konflik berbasis etnik yang cukup berarti. Tidak ada rekrutmen kepemimpinan atas dasar bagi-bagi porsi kekuasaan atas dasar etnik.
Ambil misal, almarhum Ali Khamenei, pemimpin tertinggi revolusi, yang gugur dalam serangan AS-Israel akhir Februari lalu, berasal merupakan orang asal Azeri, yang mana hal itu menunjukkan bahwa jabatan tinggi bukanlah monopoli mayoritas Persia.
Segi menarik lainnya, masih dalam menelaah sekilas Iran secara demografis, saat ini Iran seperti juga Indonesia dan Pakistan, mengalami apa yang kerap kita istilahkan Bonus Demografi.
Artinya seperti juga halnya Indonesia dan Pakistan, Iran saat ini sebagian besar penduduknya berusia muda. sekitar 60 persen penduduk Iran berusia di bawah 29 tahun. Bahkan di Indonesia sendiri, malah saat ini yang usia muda mencapai 65 persen.
Namun adanya bonus demografis ini, bukan berarti harus berpuas diri lantas jadi halu. Memanng betul usia muda adalah harapan bangsa. Tapi kalau tidak dikelola secara terencana melalui Kerangka Strategi Pemberdayaan SDM yang efektif, usia muda yang semula menjadi aset malah jadi beban (liability)
Fakta pengangguran kaum muda Iran saat ini 25 persen, membawa implikasi pada dua pertanyaan. Semata karena langkanya lapangan kerja, atau dengan pertanyaan yang sama bagi Indonesia dan Pakistan yang punya bonus demografi, besarnya jumlah pengangguran apakah mengindikasikan adanya krisis motiviasi di kalangan kaum muda?
Karena pengalaman menunjukkan, kemiskinan yang bersifat struktural, artinya bukan karena malas atau enggan untuk kerja keras, memang sistem ekonomi yang timpang dan kecenderungan memihak orang-orang kaya dan berjabatan tinggi, orang-orang miskin berbasis kota kemudian menjadi orang-orang yang dikorbankan.
Namun di Iran seperti juga di Pakistan dan Indonesia, mayoritas masyarakat berada di pedesaan, sehingga setting geogafis daerah pedesaan tersebut memungkinkan sebagai sumber kreativitas dan inovasi untuk membangun modernisasi menurut versi khas negaranya sendiri.
Nah kalau bicara motivasi, pastinya peran para pemimpin dari semua lapisan dan tingkatan berperan penting. Kemiskinan struktural memang secara sistemik memiskinkan masyarakat secara massal.
Namun pemahaman para pemimpin mengenai cara kerja sistem ekonomi-sosial yang dari desainnya memang bertujuan memiskinkan rakyat dan menggemukkan segelintir elit, bukan berarti menjadi dalih untuk membenarkan merebaknya Krisis Motivasi di kalangan masyarakat, utamanya kaum muda.
Sekadar gambaran mikro, daerah tempat tinggal saya di Jonggol, para pengemudi ojek motor yang mangkal, dan sekarang memang makin berkurang karena maraknya ojek online, rata-rata anak-anak muda berusia 24-35 tahun. Dan orang tuanya di beberapa kampung sekitar, punya tanah lumayan luas, dan sewaktu-waktu bisa dijual paling tidak ratusan juta.
Namun kawula muda tadi itu lebih baik dapat 300 ribu per hari alih-alih bercocok-tanam di tanahnya sendiri. Betul memang motivasi untuk bertani sekarang rendah karena sistem dan regulasi macam-macam yang bikin orang malas bertani.
Namun dorongan untuk mencari cara dan jalan keluar untuk membebaskan diri dari belenggu dan belitan sistem yang tidak adil baik secara ekonomi maupun sosial, seakan mati suri dan bernapas.
Saya jadi terinspirasi ungkapan Maulana Jalaluddin Rumi, salah satu sufi besar Islam asal Afghanistan yang kemudian migrasi ke Konya, Turki, ketika membaca secara mendalam karyanya, Fihi Ma Fihi.
Setelah saya selami buah pikiran Rumi yang juga penyair legendaris itu, Tawakkal itu pasrah pada sesuatu yang nyata. Nah di sini saya sontak kayak kesetrum. Jadi Tawakal itu bukan pasrah kepada kenyataan. Pasrah atau menerika sesuatu yang nyata.
Saya langsung tahu arti dan maksudnya. Pasrah pada kenyataan bukan itu yang dimaksud Allah dalam Surah At-Thalaq ayat 3. Rasa pasrah pada sesuatu yang nyata, berarti menerima sebuah tantangan untuk menggunakan sarana-sarana yang nyata-nyata ada di genggaman tangan kita, atau persis di hadapan mata kita, sebagai sarana potensial untuk meningkatkan derajat, reputasi dan kemampuan material kita, termasuk keuangan tentunya.
Di sinilah para pemimpin negara-negara berkembang termasuk Pakistan, Iran dan Indonesia, untuk mencerahkan masyarakat mengenai makna dari Tawakal.
Ketika Tawakkal diartikan sebagai Pasrah pada sesuatu yang nyata, bukan pasrah atau menerima kenyataan yang ada, maka janji Allah untuk memenuhi segala kebutuhannya, menjadi relevan dan masuk akal.
Sayangnya para politisi kita, yang lahir dari rahim sistem politik dan kepartaian sejak era reformasi, seringkali masuk dalam kerangka pemahaman tawakkal yang diartikan sebagai pasrah kepada kenyataan. Pasrah pada kenyataan berarti tunduk pada rintangan-rintangan yang bersifat kasatmata dan nampak jelas terlihat.
Pasrah dalam pengertian menerima sesuatu yang nyata, bisa saja meskipun terlihat sebagai rintangan, namun sesuatu yang nyata itu bisa jadi merupakan aset tersembunyi, atau jalan tersembunyi, yang merupakan jalan kebangkitan dari keterpurukan.
Seperti tertulis dalam penggalan syair Rumi: Ketika semua jalan telah ditutup oleh-Nya, serentak dengan itu jalan tersembunyi dipertunjukkan pada kita, yang orang-orang lain boleh jadi tidak melihatnya.
Kembalilah kepada Jatidiri Bangsa.











