Universalisasi, Pluralisasi, dan Radikalisasi

Oleh: Suwarsono Muhammad
Perspektif anti-teori (Jay, 1996: 167-183; Kennedy, 1996: 183-192; Knapp dan Michaels,1982: 723-742; Thomas, 1997: 75-94) yang lahir dan mulai berkembang belakangan ini tidak menjadikan perspektif pro-teori yang sudah terlebih dahulu berkembang kemudian menjadi mati, terlupakan, dan ditinggalkan sama sekali. Relevansi, signifikansi, dan kontribusi perspektif pro-teori tetap dapat dipertahankan, bahkan terus berkembang secara berkesinambungan. Paham pro-teori tetap diakui sebagai perspektif dominan, untuk tidak mengatakan bahwa paham yang sebaliknya berada pada posisi pinggiran. Konstatasi tersebut tidak hanya berlaku dalam ilmu-ilmu eksakta, tetapi juga dijumpai dalam ilmu-ilmu sosial. “Theory is one of the most important words in the lexicon of contemporary sociology,” demikian ditulis oleh Abend (2008;173). Dilanjutkannya (2008: 174) bahwa tiga kalimat pertanyaan tentang “What is theory? What is a good theory? What is theory for?” merupakan tiga pertanyaan yang selalu menjadi pusat perhatian para sosiolog, sekalipun diakui bahwa usaha mencari jawabannya telah menguras energi yang dimiliki. Di dalamnya juga secara implisit mengandung pertanyaan tentang “what is weak or strong theory?”
Sekalipun demikian, dalam ilmu sosial juga mulai ditemukan pendapat yang agak ekstrim untuk mengganti “theory with theorizing, and stop teaching theory and instead teach theorizing,” setidaknya itulah yang disampaikan oleh Swedberg (2010: 1; lihat juga
Swedberg, 2012: 1-40), seorang raksasa dunia dalam metodologi membangun teori (MMT).
Dia melanjutkan bahwa ilmu sosial tidak berimbang dalam memberikan perhatian pada metodologi penelitian (MP) dan MMT. Pendapat serupa juga diberikan oleh Herbert Simon, ilmuwan psikologi yang menerima penghargaan Nobel Ekonomi pada tahun 1978. “For Simon, the empirical testing of theories should only be a minor preoccupation. Instead, he sees the generation of theories as the most valuable scientific activity “(dikutip dari Mabsout, 2015: 495). Bahkan ditegaskan oleh Engdahl (2025: 209) posisi MMT bukan saja sebagai “a blank spot” tetapi sebagai “a blind spot in higher education in the social sciences.”
Benar adanya dan mustahil untuk ditolak bahwa MP, kualitatif maupun kuantitatif, telah membuktikan kemanfaatannya dan oleh karena itu menjadi tidak terelakkan ketika memiliki posisi dominan. Pengujian teori biasanya diletakkan sebagai metodologi yang secara jelas memberikan sumbangan pada legitimasi (keabsahan) teori, setalah dilakukan pengujian berulang. Teori yang sedang diuji tersebut dinilai benar-benar mampu mnjelaskan (eksplanasi) pada fakta-fakta empiris yang telah ditemukan. Namun demikian perlakuan tidak seimbang antara pengujian teori dan pembangunan teori membuka peluang menjadikan ilmu-ilmu sosial menjadi lahan kering untuk membangun teori. Ketidakseimbangan ini tidak sepatutnya berjalan berkelanjutan, dan sekaligus juga tidak boleh sampai bergerak ke arah titik ekstrim yang lain. “One way to redress the current imbalance between method and theory, it is suggested, would be to pay more attention to theorizing,” tegas Swedberg (2016:5).
Sekarang ini telah tiba waktunya, bahkan ada yang menyebutnya sebagai era “the new theorizing movement” (lihat Swedberg, 2012: 190).
Ilmu dan praktik manajemen tidak termasuk perkecualian. Bukan sekedar mengenali dan menghargai signifikansi dan relevansi teori, tetapi terkesan secara ilmiah dapat menempatkannya pada porsi yang tepat, di satu sisi tidak merendahkan atau menghinakannya, tetapi di sisi berbeda juga tidak berlebih sampai pada posisi mendewakannya. Ditulis oleh Shepherd dan Suddaby (2016: 1) – dua akademisi manajemen klas dunia – bahwa “Management scholars have been highly attentive to the role of theory. “ Ilmuwan manajemen lain juga menyatakan pendapat serupa, bahkan dengan memberikan catatan bahwa peluang lahirnya kesalahan yang mungkin timbul ketika perhatian pada teori melampaui batas. “Theory allows scientists to understand and predict outcomes of interest, even if only probabilistically. Theory prevents scholars from being dazzled by the complexity of the empirical world by providing linguistic tool for organizing it,” tegas Colquitt (2007: 1281). Tidak kalah pentingnya, Corley dan Gioia (2011: 12), yang dikenal sebagai dua dari yang tidak banyak “theory builders,” menulis dengan tegas bahwa “Theory is the currency of our scholarly realm, even if there are some misgivings about overemphasis on theory building in organization and management studies.” Bahkan perspektif MMTnya disebut dengan
namanya sendiri yakni Metodologi Gioia (Gioia Methodology) (lihat Gioia, Corley, dan Hamilton, 2012).
Bahkan sepertinya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa teori dalam manajemen terlihat terus berkembang berkelanjutan, tidak berhenti berlama-lama yang hanya sampai pada batas pengujian teori (theory testing), tetapi dengan seksama juga menjangkau pada metodologi membangun teori (theory building), sekalipun yang disebut pertama masih tampak lebih menonjol. Teorisasi (theorizing) jelas tidak terlupakan, sekalipun belum berlangsung lama, setidaknya tidak seusia dengan MP. Di saat yang sama mulai menggeliat dan terlihat maju secara akseleratif usaha untuk membangun teori-teori manajemen lokal-kontekstual sebagai paham (baru) yang dapat berdiri sejajar dengan paham teori manajemen yang selama inidinilai bersifat global-universal, yang berasal dari Barat. Ada proses lokalisasi (indigenusisasi) teori, sebagai wujud dari pluralisasi teori – sebutan yang lebih mudah diucapkan. Tidak mau ketinggalan, juga tampak bahwa ilmu manajemen terus mencari jalan untuk menjawab gugatan tentang masih jauhnya jarak antara teori yang berada dalam dunia akademik dengan dunia praktik yang digeluti secara intens oleh manajer, yang kini lazim disebut dengan paham cendekiawan terlibat (engaged scholarship).
MMT secara Ringkas
1969 disebut oleh Hitt and Smith (2005: 2) sebagai tahun ilmu manajemen mulai secara formal mengenal tentang metodologi membangun teori (MMT), yang ditandai terutama oleh terbitnya buku berjudul Theory Building yang dibuat oleh Robert Dubin yang diterbitkan oleh The Free Press, sekalipun buku tersebut dinilai oleh Gioia dan Pitre (1990: 584) masih dikategorikan sebagai buku tradisional, karena hampir sepenuhnya tunduk pada satu jenis paradigma saja. Meskipun demikian, sejatinya pada dua tahun sebelumnya yakni tahun 1967 telah terbit buku The Discovery of Grounded Theory yang merupakan karya seminal yang dibuat oleh Barony Glasser B dan Anselin Strauss yang diterbitkan oleh Aldine, yang pada intinya berisi tentang metodologi untuk “the discovery of theory from data.”
Ditegaskan lebih jauh oleh Egan (2002: 277) bahwa pada dasarnya buku tersebut bercerita tentang “the research process as the discovery of theory through the rigor of social research.” Metodologi yang dikembangkan dalam buku yang disebut lebih belakang tersebut memang pada waktu itu kalah populer dibanding dengan metodologi yang ditulis oleh buku yang disebut pertama. Jadi, sepertinya lebih tepat jika secara formal MMT dinyatakan lahir di sekitar tahun 1967 atau 1969. Lebih aman dinyatakan bahwa MMT lahir pada menjelang akhir tahun 1960an.
Barulah kemudian ketika jurnal Academy of Management Review (AMR) menerbitkan dua edisi khusus pada tahun 1989 dan 1999 yang membahas tentang MMT, strategi, Teknik, dan proses membangun teori menjadi lebih teruraikan secara relatif gamblang. Sampai sekarang hampir dalam setiap edisinya AMR menyelipkan satu sampai dua atau beberapa tulisan tentang MMT. Ditemukan beberapa jurnal ilmiah lain yang cukup sering memuat tentang tema tersebut, antara lain Administrative Science Quarterly (ASQ), Journal of Management Inquiry (JMI), Journal of Management Studies (JMS), Organizational Research Method (ORM), Organization Theory (OT), dan belum lama lahir Management and Organization Review (MOR) yang secara khusus memberikan perhatian besar pada pluralisasi teori. Sejak itu MMT secara perlahan tetapi berkelanjutan bergeser menuju posisi lebih strategis, tidak lagi berada di pinggiran diskursus manajemen.
Rincian topik yang dibahas pada terbitan yang lebih belakangan dalam berbagai jurnal dan buku yang tersedia, setelah tahun 1989, telah melampaui apa yang dikenal sekedar sebagai rumusan strategi, teknik, dan proses dalam MMT. Ada yang menyebutnya malah pada era tersebut muncul apa yang dikenal sebagai perang paradigma (wars paradigm) dalam MMT, setidaknya itulah yang ditulis oleh Weick (1999: 804). Uniknya, di sisi lain, juga tetap ditemukan tulisan yang mencoba melakukan sintesa sebagai usaha untuk menilisik dan
membangun keterkaitan antarparadigma (lihat Elsbach, Sutton, dan Whetten, 1999: 627-633). Pencandraan ini juga jelas terlihat dalam tulisan yang dibuat oleh Gioia dan Pitre (1990) yang berjudul Multiparadigm Perspectives on Theory Building.
Perkembangan yang tampak terlihat bergaris lurus vertikal yang seakan-akan merupakan sebuah kecenderungan yang dapat diperkirakan dari sejarah masa lalu MMT mulai terlihat di sekitar menjelang akhir 2010an dan terus berlangsung sampai pada masa sekarang ini. Pada era ini sepertinya tidak berlebihan jika dinyatakan bahwa paradigma baru MMT kembali lahir dan bertambah. Sejalan dengan perubahan mendasar yang berlangsung pada masyarakat yang mengitarinya dengan implikasi tantangan yang dihadapi, kebutuhan untuk benar-benar melahirkan teori baru manajemen tampak lebih menonjol – bukan sekedar merupakan ekstensi dari yang selama ini telah terbangun. Berbagai paradigma baru dapat ditemukan pada tulisan yang dibuat oleh Gumusy dan Reinecke (2024: 1-23) tentang teorisasi prospektif (prospective theorizing), Hanisch (2024: 1692-1716) tentang teorisasi preskriptif (prescriptive theorizing), dan Nadkarni, Gruber, DeCelles, Connely, dan Baer (2018: 371-377) tentang teorisasi radikal (radical theorizing).
Perkembangan dengan arah berbeda – sedikit menyamping – dengan maksud untuk lebih menjaga signifikansi dan relevansi ilmu manajemen juga tampak terlihat. Perpsektif baru ini lebih memberikan dorongan pada usaha membangun teori yang sekaligus memenuhi syarat akademik tetapi juga sekaligus mampu memberikan kontribusi pada dunia praktis – yang lazim disebut dengan paham cendekiawan terlibat (engaged scholarship) (McRelvey, 2006; Van de Ven, Meyer, dan Jing, 2018; Van de Ven, 2007). Tidak kalah penting ditemukan pokok-pokok bahasan tentang pembahasan jalan menuju pluralisasi teori manejemen, yang bersifat lebih lokalistik, tidak berhenti sekedar sampai pada kajian perbandingan manajemen (comparative management) yang mulai ditinggalkan (Bruton, Zahra, Van de Ven, dan Hitt, 2021; Holtbriigge, 2013; Leung, 2012; Li, Leung, Chen, dan Luo, 2012). Arah jalan serupa menuju pluralisasi juga ditemukan dalam ilmu ekonomi, sekalipun harus dilalui dengan jalan berliku mendekati kebuntuan, sehingga acapkali disebut sebagai pluralisme minimal (Caldwell, 1994/1982: 226-230; Lari dan Maki, 2024: 412-413; dan Muhammad, 2025: 160-174). Pluralisasi dalam manajemen sepertinya terlihat memiliki jalan yang lebih lapang.
Teori Manajemen Islam yang dalam tulisan ini diperlakukan sebagai salah satu wujud dan contoh MMT dalam pluralisasi teori manajemen dapat dilihat pada bagian paling akhir tulisan ini.
Proto MMT: Berteori tanpa Metodologi
Sebelum narasi dikembangkan lebih jauh untuk menjelaskan secara rinci apa yang berlangsung dalam dunia manajemen di sekitar akhir tahun 1960an – waktu ketika secara formal MMT dinyatakan lahir – dan masa sesudahnya ketika MMT berada pada posisi pasang naik, ada baiknya sejenak menoleh ke belakang pada era sebelum tahun tersebut. Pada era sebelum akhir dasawarsa 1960an sudah dapat dipastikan bahwa teori manajemen telah lahir dan dirumuskan oleh beberapa (ilmuwan) dan praktisi manajemen, sekalipusn kelahiran dan pengembangannya amat mungkin tidak melalui proses teorisasi (theorizing) secara formal, tidak dengan menggunakan metodologi membangun teori. Berbagai teori yang lahir juga tampak dibangun dengan berbagai paradigma yang berbeda-beda, yang berkembang seiring dengan perjalanan ilmu dan praktik manajemen, antara lain perspektif manajemen ilmiah, perspektif manusia sosial, dan perspektif kontijensi (lihat Boone dan Bowen, 1987 dan Wren, 1994). Teori lahir dari ilmuwan jenius.
Dengan tidak melupakan kontroversi yang mengitarinya, kali ini yang hendak ditinjau lebih jauh sebagai salah satu contoh kelahiran teori adalah karya yang dibuat oleh Frederick Winslow Taylor (1967/1911) yang terbit dalam buku The Principles of Scientific Management. Untuk kemudahan disebut saja sebagai FWT 11 atau PSM. Buku tersebut hendak dijadikan salah satu contoh bahwa sesungguhnya dalam karya kuno-klasik tersebut yang terbit jauh sebelum tahun 1969 juga ditemukan proses teorisasi, sekalipun dalam wujud yang mungkin tampak sederhana dan tidak secara formal diuraikan secara rinci di dalamnya. Tentu saja simpulan serupa dapat ditemukan pada karya klasik lain, misalnya yang dibuat oleh Chester I. Barnard yang terbit dalam buku The Functions of the Executive (1968/1938), juga pada banyak karya klasik lain.
Ada beberapa alasan mengapa buku PSM dipilih, setidaknya dapat ditemukan empat alasan. Pertama, buku tersebut merupakan buku yang termasuk generasi awal dari buku manajemen di dunia, jika pengertian manajemen yang dimaksud adalah seperti yang lazim dikenal sekarang ini. Beberapa tahun sebelumnya, yakni pada tahun 1903, telah terbit lebih dahulu satu buku yang berjudul Shop Management yang juga ditulis oleh FWT. Istilah manajer dan manajemen telah dikenal oleh ekonom Inggris pada abad sembilan belas, dan sejak tahun 1860an kata manajemen kadang-kadang muncul dalam tulisan para insinyur di Amerika Serikat. Lebih penting lagi, ditegaskan lebih lanjut oleh Hofstede (1992: 1), bahwa dalam pengertiannya yang sekarang ini digunakan, istilah manajemen “is American invention.”
Alasan kedua yang diajukan adalah bahwa buku PSM merupakan buku yang amat populer sampai pada masa sekarang ini. Masih saja ditemukam tulisan yang mencoba menjelaskan signifikansi dan relevansinya dalam konteks kekinian, bahkan kadang-kadang sampai pada tahap glorifikasi. Sepertinya merupakan sebuah kejanggalan jika pembelajar manajemen (yang sungguh-sungguh) tidak mengenali nilai klasik dari buku tersebut. Buku tersebut juga secara eksplisit dalam judulnnya menggunakan kata “scientific,” yang dapat dipastikan memiliki kedekatan dengan apa yang dikenal sebagai teori. Jika dibuat sederhana, ilmiah itu tidak lain tidak bukan selalu mengandung elemen teori di dalamnya. Teori merupakan salah satu komponen penting untuk dapat disebut ilmiah. Terakhir, madzab ilmiah dalam ilmu dan praktik manajemen, dalam batas-batas tertentu, masih harus diakui sebagai perspektif yang paling dominan, sekalipun belakangan konotasi ilmiah dinilai agak menjauh dari dunia praktis. Di samping itu, pada masa sekarang ini elemen seni dalam manajemen juga mulai tampak menonjol. Sampai-sampai oleh Mintzberg (2009, 1989), manajemen dinilai merupakan arena yang berada “inside our strange world of organizations.”
Isi buku FWT 11 pada umumnya dinilai sebagai karya progresif radikal, di dalamnya ditemukan rumusan usulan rekayasa untuk meningkatkan kinerja buruh secara akseleratif berkesinambungan. PSM terlihat amat jelas memberikan pembelaan pada kepentingan
pemilik perusahaan dan manajer. “The coldness and impersonality of scientific management” tampak sangat mengedepan dan di saat yang sama juga dinilai bahwa FWT menepikan bahkan menghilangkan “the human factor from his management equation” (lihat Wren, 1994: 128). Namun demikian, di sisi lain, pandangan FWT pada kedudukan teori dalam manajemen tampak tidak berlebihan. Di penghujung hidupnya setelah mengalami pergolakan politik dan batin yang hebat, empat hari menjelang meninggal, FWT berbicara di depan Cleveland Advertising Club bahwa “Scientific management at every step has been an evolution, not a theory. In all cases the practice has preceded the theory…. all the men that I know of who are connected with scientific management are ready to abandon any scheme, any theory, in favor of anything else that can be found which is better. There is nothing in scientific management that is fixed” (Wren, 1994: 130).
Dalam proses MMT, sepertinya apa yang dilakukan oleh FWT tidak berlebihan jika dikatakan setidaknya tidak mengingkari rumusan proses teorisasi (theorizing) paling sederhana yang dibuat oleh Swedberg (2016: 5) yang hanya terdiri dari tiga tahapan (proses) saja sebagai berikut: “You start with observing, in an attempt to get good empirical grip on the topic……Once this has been done, it may be time to name the phenomenon, and either turn the name into a concept….. The last element in theorizing is to come up with an explanation; and at this point it may be helpful to draw some ideas by Charles Peirce, especially the notion of abduction.”
FWT (1967/1911: 5) menjadikan pidato Presiden Roosevelt sebagai latar belakang yang mendorong lahirnya PSM: koservasi sumberdaya nasional dinyatakan sebagai sebuah indikator signifikan adanya pertanyaan besar tentang efisiensi nasional. Inilah persoalan pada dasawarsa pertama abad dua puluh. Dilanjutkannya bahwa sampai saat itu dia menilai bahwa “we have but vaguely appreciated the importance of increasing our national efficiency.”
Lebih dari pada itu dinyatakannya (1967/1911: 6) lebih lanjut bahwa “And still there are signs that the need for greater efficiency is widely felt.” Untuk menegaskan kontatasi tersebut dia melakukan observasi pada berbagai perusahaan tempat ia bekerja, seiring dengan akselerasi peningkatan karirnya. Ini tahapan pertama proses teorisasi yang dibuat oleh Swedberg di atas.
Jika dibuat ringkas, teorisasi yang dilakukan oleh FWT terlihat berikut ini. Dia menemukan fakta-fakta yang sejalan dengan kontatasi yang telah dia buat. Pekerja ternyata secara sengaja tidak melakukan pekerjaan dengan irama yang semestinya, sengaja memperlambat
penyelesaian pekerjaan. Ini merupakan sebab utama rendahnya tingkat efisiensi perusahaan.
Disebutkannya (1967/1911: 15-20) ada tiga sebab, yakni (1) peningkatan kinerja akan menjadikan sebagian pekerja yang terpaksa perlu diberhentikan dari pekerjaannya, (2) sistim manajemen yang tidak tepat yang secara tidak langsung memberikan dorongan kepada
pekerja untuk bekerja secara lebih lamban, dan (3) formula yang ada untuk mengatasinya masih bersifat coba-coba hanya berdasar kajian dan pedoman kasar (rule of thumb). Dalam batas-batas tertentu, tahapan ketiga teoretisasi – eksplanasi – sudah mulai dikerjakan oleh FWT, karena memang tahapan tersebut tidak sepenuhnya ketat harus berurutan.
Ia (1967/1911: 18-19) menamai fenomena ini dengan sebutan “soldiering.” Untuk kemudahan istilah tersebut diartikan sebagai kecenderungan dan kesengajaan memperlambat penyelesaian pekerjaan atau diringkas dengan pelambatan pekerjaan. Ia (1967/1911: 19-25) dengan segera melakukan tipologi pada fenomena empiris tersebut, membedakannya dalam dua kategori dan diikuti dengan analisis tentang signifikansi pengaruhnya pada penyelesaian pekerjaan. Jenis pertama disebutnya sebagai pelambatan alami (natural soldiering), yang terjadi karena “the natural instinct and tendency of men to take it easy.” Dikatakan lebih lanjut bahwa “There is no question that the tendency of the average men (in all walks of life) is toward working at a slow, easy gait….” Kategori lainnnya disebut sebagai pelambatan sistematis (systematic soldiering) yang muncul dan terbangun sebagai akibat dari pengaruh
dari hubungan dengan sesama pekerja di dalam perusahaan tertentu dan atau antarperusahaan.
Terkesan sebagai tindakan (aksi) bersama yang telah direncanakan dengan seksama. Lebih penting lagi kategeori kedua dinilai memiliki impak negatif yang lebih besar pada tingkat efisiensi. Pada ujungnya ia menyadari bahwa tidak ada solusi tunggal (single panacea) yang
tersedia. Namun demikian, jika dibuat amat ringkas, tingkat efisiensi akan dapat ditingkatkan dengan signifikan ketika manajemen ilmiah diperkenalkan dan dipraktikkan untuk menggantikan manajemen berdasar pedoman kasar (rule of thumb) yang selama ini telah diterapkan.
Apa yang telah disajikan dalam beberapa alinea di atas merupakan bukti praktik riil teorisasi (theorizing) dalam ilmu manajemen pada generasi awal, yang berlangsung jauh sebelum akhir dasawarsa 1960an ketika MMT dalam manajemen secara formal dinyatakan lahir.
Teorisasi secara nyata jelas eksis dipraktikkan, tetapi belum dirumuskan dengan kerangka konsep yang jelas: belum dimetodologikan. Teori lahir dari praktisi dan ilmuwan besar dalam manajemen, terkesankan diraih dengan melakukan pemikiran mendalam dan sekaligus bersifat intuitif. Mereka telah mempraktikkannya demikian lama, tetapi tidak mengenali bahwa apa yang dikerjakannya tersebut dapat dikonseptualisasikan dan dikodifikasi sebagai metodologi membangun teori (theory building methodology). Oleh karena itu tidak
dinamainya sebagai sebuah metodologi. Teori lahir lebih dahulu, dan baru diikuti jauh di kemudian hari kelahiran metodologi yang diperlukan dalam membangun teori. Praktik membangun teori dilakukan, tanpa secara eksplisit mengenali metodologi yang digunakan: belum sadar metodologi.
Pada periode tersebut MMT tidak diperlakukan sebagai sebuah disiplin formal, tetapi lebih terlihat dan berkembang sebagai arus bawah kegiatan intelektual (intellectual undercurrent), yang menghubungkan filsafat ilmu, metodologi penelitian, dan praktik ilmiah nyata. Pada masa-masa itu MMT lebih merupakan bentuk kesadaran ilmiah ketika perhatian sesungguhnya lebih mengarah pada bagaimana teori menjadi mungkin untuk dibangun. Jika diamati secara cermat sepertinya bukan tidak mungkin pada masa-masa awal tersebut justru energi ilmuwan manajemen lebih diarahkan dan dikerahkan untuk membangun teori, yang jelas-jelas dapat dilihat dari banyak dan variasi teori yang lahir pada masa itu. Teori terus diproduksi, dengan metodologi yang belum dikenali atau malah secara formal tanpa metodologi sama sekali. Tulisan ini menyebut periode relatif panjang tersebut sebagai era proto MMT atau pra-MMT yang berlangsung sampai menjelang akhir 1960an, sebagai periode pertama daur hidup MMT.
Catatan kecil tetapi penting perlu dibuat. Dalam batas-batas tertentu, sebetulnya apa yang terjadi dalam ranah manajemen tersebut yang dikenali sebagai era proto MMT yang berlangsung relatif lama terasa agak ganjil, setidaknya jika bersedia menengok keluar pada ranah ilmu filsafat dan ilmu sosial. Pada tahun 1903, bahkan ancangan awalnya telah dimulai sejak beberapa tahun sebelumnya – tahun 1866 – Charles S. Pierce sudah mulai memberikan perhatian yang sungguh-sungguh dengan apa yang disebut sebagai proyek teorisasi
(theorizing). Dinyatakan oleh Swedberg (2012: 2; lihat juga Mabsout, 2015: 498-501) bahwa “Pierce developed many important ideas on theorizing, including the ones that can be found in his lecture “How to Theorize,” sembari mengakui bahwa pada masa-masa itu sangat jarang dijumpai tulisan yang membahas persoalan tersebut. Pada masa sekarang, ditegaskannya lebih lanjut bahwa “The work of Charles S. Pierce has attracted much attention among scholars from many disciplines, and that is especially true for what he has to say about the concept of abduction or the flash of insight that is characteristic of original research.”
Sekalipun dijumpai adanya kesulitan dalam menafsirkan tulisan Pierce, terutama terkait adanya perbedaan tafsir terhadap tulisan pada masa muda dan pada masa yang lebih belakangan, pada umumnya, setidaknya menurut Schurs (2008: 202) tetap dijumpai pemahaman yang sama bahwa “Pierce has distinguished between three families of reasoning patterns: deduction, induction and abduction.” Ketiganya acapkali dikontraskan satu sama lain, tetapi yang disebut sebagai metodologi yang dapat membuka kemungkinan menghasilkan teori baru terutama adalah induksi dan abduksi. Masih menurut Schurs (2008: 2), induksi dan abduksi tidak perlu saling melakukan reduksi, masing-masing diperlukan untuk membangun teori baru, tetapi dengan sasaran (target) yang berbeda.
Meskipun demikian dijumpai penulis lain yang lebih memberikan peran lebih besar dan penting pada abduksi dibanding induksi dalam proses menemukan teori. “Pierce insists, “All the ideas of science come to it by way of abduction” (Plutynski, 2011: 229). Dilanjutkannya bahwa Pierce mencandra abduksi sebagai “studying facts and devising a theory to explain them.” Pertanyaan yang masih tersisa adalah mengapa berbagai metode yang sesungguhnya sudah diperkenalkan dalam dunia filsafat tentang teorisasi tersebut terlepas dari perhatian ahli manajemen generasi awal.
Siklus Daur Hidup MMT: Dari Proto MMT ke Pluralisasi sampai Radikalisasi
Setelah periode pertama pra-MMT diuraikan di atas, sisa daur hidup MMT dijelaskan dalam empat penggalan sejarah, dengan ditandai oleh munculnya tema-tema besar yang khas untuk masing-masing era. Periode kedua daur hidup MMT berlangsung sejak menjelang akhir dasa warsa 1960an sampai tahun 1988, persis sebelum AMR pertama kali menerbitkan edisi khusus tentang MMT pada tahun 1989 – sebuah penggalan periode yang relatif panjang, hampir tiga puluh tahun. Periode ini utamanya ditandai dengan kelahiran dua perspektif
MMT yang bertolak belakang satu sama lain, yakni metodologi hipotetik-deduktif ala Dubin (1969) dan metodologi induktif-teori berbasis data (grounded theory/GT) ala Strauss dan Glaser (1967). Sejak kurang lebih tahun 1988 GT berkembang menjadi dua aliran yang berbeda, yakni madzab Straussian dan Glaserian (Glaser, 2016: 7 dan Heath dan Cowley, 2004: 141-150). Ajaran paling inti dari GT tidak lain tidak bukan adalah konseptualisasi, demikian tulis Glaser (2002: 23).
Penggalan ketiga daur hidup MMT dimulai tepat pada tahun 1989 berlanjut sampai 1999 dan berakhir kurang lebih pada pertengahan dasawarsa pertama tahun 2000, berlangsung kurang lebih selama lima belas tahun. Pada tahun 1989 MMR pertama kali menerbitkan edisi khusus tentang MMT dan sepuluh tahun kemudian – tepatnya pada tahun 1999 – edisi khusus diulanginya untuk diterbitkan. Pada era ini lahir dan berkembang secara akseleratif tulisan tentang strategi, teknik, dan proses MMT, bahkan dengan mengaitkannya dengan beberapa paradigma yang dikenal dalam manajemen (lihat misalnya Folger dan Turillo, 1999 742-758; Gioia dan Pitre, 1990: 584-602; Langley, 1999: 691-790; Lewis dan Grimes, 1999: 672- 690; Poole dan Van der Ven, 1989: 562-578; Tsang dan Kwan, 1999: 759-780; Weick, 1989: 516-531). Lahirlah apa yang dikenal dengan sebutan perang paradigma. Sedikit atau banyak,MMT juga membahas tentang skala kebaharuan teori. Era ini layak disebut sebagai periode pertumbuhan (pertama) MMT.
Era keempat kurang lebih dimulai pada pertengahan kedua tahun 2000an dan berjalan sampai kurang lebih menjelang akhir tahun 2020, berlangsung sekitar lima belas tahunan. Berbeda dengan periode ketiga yang gemuruh diisi dengan pengenalan, pertumbuhan, dan perdebatan sengit berbagai perspektif dan strategi MMT, penggalan keempat daur hidup MMT sepertinya terlihat lebih tenang, perang antarparadigma telah berakhir, setidaknya untuk sementara. Era ini lebih banyak diisi oleh tulisan tentang evaluasi dan pencarian kemungkinan integrasi berbagai perspektif yang sudah ada. Karya yang dibuat oleh Coloquitt dan Zapata-Phelan (2007: 1281-1303; lihat juga Suddaby, 2010: 346-357; Zahra dan Newey, 2009;1059-1075) merupakan tulisan evaluatif yang sekaligus mencermati kecenderungan MMT dan sekaligus pengujian teori selama lima dasawarsa. Ulasan dan usaha mengintegrasikan berbagai strategi MMT dibuat oleh Shepherd dan Suddaby (2016: 1-28). Arah serupa juga ditemukan pada tulisan yang dibuat oleh Cornelissen dan Durand (2014: 995-1022; lihat juga Hitt, Beamish, Jackson, dan Mathieu, 2007: 1385-1399; Oswick, Fleming, dan Hanlon, 2011: 318-337).
Siklus daur hidup MMT kelima, yang merupakan penggalan terakhir dan paling kontemporer perkembangan MMT, kurang lebih dimulai setelah tahun 2010an atau menjelang 2020an dan berlangsung sampai pada masa sekarang. Periode ini ditandai dengan kembalinya gairah untuk membangun perspektif dan strategi baru MMT.
Sepertinya tidak keliru kalau disebut periode pertumbuhan kedua, ada peremajaan kembali. Dapat dikatakan cukup mengejutkan karena dijumpai sekaligus tujuh cabang perkembangan, yang pada saatnya diperkirakan akan berdiri masing-masing sebagai perspektif baru. Pertama, sepertinya boleh disebut sebagai modernisasi GT ditandai dengan usaha untuk merumuskan jalan dan peningkatan derajat rigorius metodologi GT, yang kemudian ini dinamai dengan Metodologi Gioia (Gioia Methodology), sesuai dengan nama ilmuwan manajemen perumus utamanya (lihat Gioia, Corley, Eisnhardt, Feldman, Langley, Le, Golden-Biddle, Locke, Mees-Buss, Piekkari,
Ravasi, Rerup, Schmid, Silverman, dan Welch, 2022: 231-252; Gioia, Corley, dan Hamilton, 2012: 15-31; dan Mees-Buss, Welch, dan Piekkari, 2022: 405-429).
Teoritisi radikal (radical theorizing/RT) dikenalkan sebagai calon perspektif baru kedua pada tahun 2018 oleh Nadkarni, Gruber, DeCelles, Connelly, dan Baer (2018: 371-377), sebagai strategi untuk “….. the generation of completely new theoretical insights that may lead to a substantial departure from existing paradigm.” Tidak kalah pentingnya karena sudah agak lama terlupakan, bahwa ilmuwan manajemen perlu tetap mengkaitkan perumusan teori dengan relevansi dan manfaatnya dalam praktik manajemen. Untuk kepentingan ini diperkenalkan perspektif cendekiawan terlibat (engaged scholarship) dengan Andrew H. Van de Ven (2007) sebagai sponsor utamanya (lihat juga Holtberigge, 2013: 1-11; McKelvy, 2006: 822-829; Van de Ven, Meyer, dan Jing, 2018: 449-482; dan Van de Ven, 2018: 37-43) sebagai sponsor utamanya. Ini sebagai terobosan ketiga.
Dengan mencoba meninggalkan kajian perbandingan manajemen (comparative management), terobosan perspektif keempat ini menunjukkan perlunya MMT mengenali kemungkinan pluralisasi teori manajemen yang bersifat lokalistik (Bruton, Zahra, Van de Ven, dan Hitt, 2021; Holtbriigge, 2013; Leung, 2012; Li, Leung, Chen, dan Luo, 2012).
Terkesan agak aneh, dtemukan juga usaha untuk kembali menengok kecanggihan dan efekfititas metodologi abduksi dalam membangun teori manajemen. Richard Swedberg (2014) dengan bukunya The Art of Social Theory menjadi ilmuwan dunia yang berada pada garis paling depan dalam perspektif ini (lihat juga Mabsout, 2015: 491-516; Plutynski, 2011: 227-248; Schursz, 2008: 201-234; Vila-Henninger, Dupuy, Ingelgom, Caprioli, Teuber, Pennetreau, Bussi, dan Gall, 2024: 968-1001; Swedberg, 2012a: 1-40; 2012b: 1-27).
Jangan pernah lupa bahwa sesungguhnya abduksi selalu hadir dalam GT, berdiri berdampingan secara damai dengan induksi. Abduksi tidak pernah sepenuhnya ditinggalkan oleh pemeluk setia GT.











