Oleh: Akbar AP (Penulis Muda Tunanetra)

Bersyukur bisa selamat dari bencana gempa Jogja. Waktu itu masih balita. Terbayang di pelupuk mata, pontang-pantingnya kakek menggendong saya. Menghindari reruntuhan material dan pasrah menerima ketika mustahil mengelakkannya.

Hari ini kenangan itu menyeruak di sela takbir dan seruan kurban yang menggema, pun renungan sebagai anak manusia perlahan merayapi hati serta pikiran. Pengorbanan sejatinya dialami juga pada setiap manusia. Baik selamat maupun gagal. Baik dipaksa keadaan maupun iklas penuh kerelaan. Alhasil seharusnya kita menuju nilai pribadi yang bijaksana agar tidak mudah dikorbankan oleh kelirunya sebuah keputusan.

Keputusan alam yang memperingatkan akibat berlebihannya ambisi manusia. Kadang, manusia juga menjadi dalang penyebab sebuah tragedi atas sesama. Simalakama, bukan? Tenang saja, level simalakama kita sekarang, tidaklah seberat Ibrahim dulu.

Tuhan memintanya untuk mengorbankan sang anak. Sebab ikhlas sudah mutlak dimiliki seorang Nabi, Ibrahim dan Ismail putranya menyanggupi. Hikmah sesudahnya, Tuhan mengapresiasi beratnya proses ikhlas tersebut dengan ganti seekor domba. Penyembelihan manusia batal terjadi. Hanya pada peristiwa itu, berlaku pada 2 orang terpilih, dan dengan faktor di luar nalar orang-orang biasa. Di tempat lain tidak, baik sezaman maupun jauh sesudahnya. Kalaupun batal, pasti ada sebab-sebab logisnya.

Isyarat jelas dalam riwayat legendaris ini, Tuhan juga mengkritik praktik penumbalan manusia pada sejumlah aliran keyakinan dalam berbagai peradaban. Penumbalan dengan mengorbankan manusia di titik kramat atau suci yang diagungkan aliran tersebut. Selain bentuk ibadah paling purba, penumbalan juga diyakini dapat menjauhkan dari segala ancaman keburukan dan ketidakenakan dalam hidup. Tidak hanya praktik penumbalan, di era kuno pengorbanan manusia juga sebagai bentuk penghormatan rakyat kepada orang-orang penting yang memiliki legitimasi agar mereka tidak tiran dalam memutuskan kebijakan.

Terlepas dari tetek-bengek kesejarahan dan hal-hal purbawi yang syukurlah sudah berhenti tersebut, hari ini pengorbanan dilihat dari sepasang kacamata yang saling berkaitan. Dalam kacamata kebaikan, pengorbanan dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk kepentingan umum. Selain saat bencana, mereka juga sering memperlihatkan dalam keseharian. Ada yang rela mengorbankan keinginannya demi kebutuhan keluarga tercukupi, ada yang mengorbankan waktu dan energi demi murid-murid yang diajarnya, dan masih banyak lagi.

Kacamata yang sebaliknya juga tidak kalah banyak. Ada manusia yang rela mengorbankan teman demi keegoisannya, ada pemimpin yang tega mengorbankan rakyat agar keputusan salah berdasarkan ambisinya berjalan, pastinya tidak bisa dihitung seberapa selalu ditemukan di sekitar diri. Lantas, refleksi yang bagaimana agar selamat dari sia dan biasnya perilaku berkorban-mengorbankan? Sesudah mengembalikan pada kenyamanan masing-masing diri, mari cermati sejumlah poin-poin yang bisa dijadikan acuan!

1. Yakini posisi, sebagai korban dari sebuah keputusan ataukah mengorbankan pihak lain karena salah memutuskan?
2. Musyawarah dapatkah dimunculkan sebagai pencegahan sebelum korban-mengorbankan lebih jauh mmerugikan?
3. Jika sudah terlalu jauh, adakah refleksi dari peristiwa korban-mengorbankan tersebut?
4. Dari masing-masing pihak, mampukah bertanggungjawab atas apa yang terjadi, korban bertanggungjawab dengan memaafkan si pelaku dan si pelaku menyadari angkara dirinya sendiri?
5. Jika bentuknya bencana alam, sadarkah manusia-manusia tersebut kalau sebagian perilakunya merupakan sebuah fase paling dini dalam memanggil pengorbanan selanjutnya?
6. Adakah perbaikan diri dan sekitar pasca kejadian?

Kesimpulan dikembalikan pada masing-masing diri, ya? Berkorban tidak akan pernah tuntas selagi manusia saling berkompetisi demi tercapainya kepentingan dalam hidup. Kemudian, ragam pengalaman dan pemahaman tidak akan selesai jika terus diperdebatkan. Percaya deh, akan lebih bagus musyawarah secara merata, lalu beraksi secara nyata!

Bantul, 28 Mei 2026

Advertisement
Artikulli paraprakDanantara: Antara Harapan Efisiensi dan Jebakan Konflik Kepentingan Sebuah Tinjauan Kritis atas Arsitektur Baru Pengelolaan Aset Negara
Artikulli tjetërPiala Dunia Rasa Arisan

Tinggalkan Komentar