Lihatlah di sana, ada empat wajah mulai tampak resah
Melihat banyak manusia datang untuk singgah
Menghabiskan waktu dengan cara melihat waktu
Tak mau tahu tentang kisah sebuah hadiah bisa menjadi sejarah
Dahulu ada ayam jantan bertengger di atap
Kemudian ayam diusir para pemilik kuil yang ingin menetap
Sampai akhirnya gonjong kembali pulang setelah lalui perjuangan panjang
Menengadah, menyibak gabak yang lama mendekap
Tak terasa satu abad berlalu
Menara pualam masih berdiri memberi ilmu
Meski tanpa tulang, ia tetap tegak
Dan terus mengingatkan kita tentang waktu
Dengarkanlah baik-baik suara dari empat wajah
Detiknya mulai gelisah, detaknya mulai gundah, dentangnya mulai marah
Sampai kapan kita menjadi hadiah, selalu berharap akan dirawat dan dijaga
Apakah tidak ada keinginan untuk menjadi bagian dari sejarah?!
Kita datang ke dataran tinggi
Untuk melihat Jam Gadang dan duo ancala yang memang dari dulu sudah tinggi
Datang terkekeh-kekeh bahagia
Lupa untuk mejadi tinggi
Ingat, lazuardi sudah terbentang
Jangan tunggu ditaja untuk lanjut berjuang
Biarkan lembayung hadir sebagai alrm
Kita siapkan pelita, untuk menghadapi malam yang datang menyerang
Barajalah ka nan manang, mancontohlah ka nan sudah
Jangan biasakan diri untuk pasrah
Bergeraklah, berusaha berdasarkan tuntunan
Agar kelak tidak salah arah
Lihatlah Jam Gadang
Di usianya yang seratus tahun masih terus berdentang
Gonjongnya pun bertahan merayu awan
Dan apakah harus yang sekurun dengannya baru bisa merambah jalan pulang?!
Bungo, 30 Mei 2026
Advertisement











