Wonosobo, Kansnwews.com – Pada 14 Juni 2026 bertempat di Gedung Sasana Adipura telh diselenggarakan Wonosobo Economic Forum 2026 yang bertemakan “Penguatan Ketahanan Ekonoi Daerah melalui Kolaborasi dan Optimalisasi Potensi Lokal di Tengah Ketidakpastian Global.” Forum ini mempertemukan para pembuat kebijakan, akademisi, dan pengusaha untuk membahas dan membentuk masa depan ekonomi serta menyoroti strategi dalam memperkuat ketahanan lokal, memberdayakan sumber daya manusia, dan meningkatkan sektor agribisnis-pariwisata, khususnya di Kabupaten Wonosobo.
Seremonial dan Opening Wonosobo Economic Forum 2026
Kegiatan dibuka oleh Dwi Sukatman, S.Bns. selaku Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Wonosobo yang menegaskan pentingnya forum sebagai ruang dialog konstruktif antara pemerintah dan dunia usaha. Dalam sambutannya, Dwi menyampaikan bahwa kebijakan publik harus lahir dari pertimbangan yang bijaksana dan berkeadilan. Diharapkan, Wonosobo Economic Forum 2026 mampu melahirkan berbagai gagasan dan inovasi konkret guna memperkuat fondasi pembangunan daerah yang berkelanjutan. “Kebijakan itu harus bijak. Mungkin tidak dapat memuaskan semua pihak, namun harus mampu memberikan keadilan bagi masyarakat secara luas,” ujar Dwi mengkhiri sambutannya.
Sambutan Bupati Wonosobo, yang dibacakan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Wonosobo, Drs. One Andang Wardoyo, M.Si., menekankan bahwa digitalisasi menjadi salah satu fokus penting dalam pembangunan daerah ke depan. Selain itu, pembangunan ekonomi yang kuat tidak hanya bertumpu pada investasi, tetapi juga harus didukung oleh kualitas sumber daya manusia yang unggul. Dalam sambutannya, Bupati berharap forum ini dapat menghasilkan berbagai ide dan inovasi yang dapat diimplementasikan untuk mendukung pembangunan ekonomi daerah secara nyata dan berkelanjutan.

Menambahkan, One Andang Wardoyo selaku Sekda, bahwa fokus pembangunan Wonosobo dalam dua dekade mendatang akan diarahkan pada sektor agribisnis dan pariwisata. Kedua sektor tersebut dinilai memiliki potensi besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Beberapa tantangan yang dihadapi antara lain keterbatasan mekanisasi pertanian akibat kondisi geografis wilayah, pengembangan destinasi wisata yang belum sepenuhnya berorientasi pada keberlanjutan, serta kualitas sumber daya manusia yang masih perlu diperkuat. Selain itu, sekitar 83 persen pendanaan pembangunan daerah masih bergantung pada dukungan Pemerintah Pusat, sehingga sudah saatnya Wonosobo untuk mampu berdaya secara ekonomi.
Di sisi lain, pembangunan Jalan Tol Yogyakarta dengan pintu keluar di Borobudur dinilai membuka peluang baru bagi Wonosobo untuk meningkatkan aksesibilitas kawasan wisata unggulan, khususnya Dieng, sehingga mampu menarik lebih banyak kunjungan wisatawan dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. “Sudah saatnya Wonosobo menjadi tujuan wisata, bukan hanya sekedar singgah … sudah saatnya kita bersama – sama tantangan dan peluang ini kita wujudkan dalam membangun Wonosobo menjadi yang lebih baik” tutur One mengakhiri sambutannya.
Forum yang dimoderatori oleh Sumali Ibnu C. menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai sektor antara lain Rika Fatimah P.L., S.T., M.Sc., Ph.D. selaku Konseptor dan Tenaga Ahli Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur, yang juga merupakan Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada; sekaligus Wakil Ketua Komisi Teknis 03 – 13 untuk SNI G2R Tetrapreneur; Agni Alam Awirya, M.S.E. selaku Ekonom Bank Indonesia (BI); Asri Sarawati selaku Co-Founder Warung Murakabi & Agradaya Indonesia; dan Ir. H. Saat Suharto Amjad selaku Ketua Pengurus Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) TAMZIS Bina Utama yang juga merupakan pendiri Koperasi Syariah Baituttamwil TAMZIS.

Keynote Speaker Wonosobo Economic Forum 2026: SNI G2R Tetrapreneur dan Resilience Asli Indonesia
Paparan pertama disampaikan oleh Rika Fatimah P.L., S.T., M.Sc., Ph.D. selaku Konseptor dan Tenaga Ahli G2R Tetrapreneur, yang juga merupakan Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada; sekaligus Wakil Ketua Komisi Teknis 03 – 13 untuk SNI G2R Tetrapreneur. Dalam paparannya, Rika menyampaikan bahwa G2R Tetrapreneur lebih menekankan kepada ekosistem ekonomi yang sesuai dengan kemampuan ‘ketangguhan berjuang’ atau resilience para produsen produk lokal Indonesia. Ekosistem ini melindungi para pelaku usaha yang belum dapat bersaing dengan pasar dengan kapital (modal) besar. Apabila berbicara tentang ekosistem, maka secara global akan membicarakan tentang attitude, abilities, dan aspiration. Penciptaan ekosistem ini untuk menjamin keberlangsungan “kehidupan” UMKM secara natural sebagai mayoritas.
Lebih lanjut Rika menyampaikan bahwa G2R Tetrapreneur mengutamakan konsep rezeki, yaitu semua rezeki telah diatur oleh Allah SWT sesuai dengan waktu dan porsinya. Keyakinan tersebut akan membuat para pelaku usaha untuk lebih ikhlas, sehingga yang dikejar adalah rezeki, bukan omset atau keuntungan, dan membentuk resilliance ketangguhan berwirausaha secara berkelanjutan. Potret tersebut yang kemudian menjadi salah satu alasan munculnya inovasi gotong royong dalam ekonomi yang mendukung penciptaan ekosistem bagi keberlangsungan UMKM sesuai dengan ‘kapasitas wajarnya’. G2R Tetrapreneur merupakan sebuah model yang ikonik. Ikonik pada keunikan ekosistem-nya yang menjaga keberlangsungan produksi lokal tanpa memaksa produk lokal terburu-buru hingga untuk memenuhi standar produk industri besar.
Pada kesempatan tersebut Rika menyampaikan adanya inisiasi standarisasi nasional asli Indonesia, yaitu SNI G2R Tetrapreneur. Adapun inti dari SNI G2RT yaitu menjadikan G2RT sebagai standar nasional wirausaha asli Indonesia sekaligus menjadi single entity iconic global. Dengan SNI G2RT pelaku usaha dapat mengukur dan/atau menghitung tahapan-tahapan yang dilakukan dalam proses bisnis dan berkewirausahaan. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pengoptimalisasian pembentukan standar tersendiri untuk pelaku usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang berasakan Ekonomi Pancasila.
Pada paparannya, Rika menyampaikan bahwa keberhasilan pembangunan suatu daerah ditentukan oleh sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Masyarakat yang produktif, inovatif, dan mandiri menjadi faktor penting dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya pengembangan kewirausahaan sebagai upaya meningkatkan nilai tambah produk lokal. Terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Rika memandang bahwa dengan berasaskan Ekonomi Pancasila, maka program tersebut merupakan peluang strategis untuk memperkuat UMKM sekaligus menggerakkan ekonomi lokal dari sektor hulu hingga hilir, meskipun pada pelaksanaannya masih banyak perbaikan dan ‘mengembalikan’ pada tujuan organiknya.
“MBG kok ngambil produk pabrikan, ya repot,” ungkap Rika. Program yang dirancang untuk menggerakkan ekonomi lokal jangan disalahgunakan menjadi sebuah program yang bergerak secara kapitalis. Oleh karena itu kawalan untuk ‘mengembalikan praktik baik MBG’ harus ‘ditempel erat oleh semua elemen bangsa’ sehinga menutup celah penyelewengan yang rakus dan khianat.
Speaker Wonosobo Economic Forum 2026: Ekonom Bank Indonesia, Pelaku Usaha Viral, dan Tokoh Koperasi Syariah Wonosobo
Paparan selanjutnya disampaikan oleh Agni Alam Awirya, M.S.E. selaku Ekonom Bank Indonesia (BI). Agni menyampaikan bahwa berbagai ketidakpastian akibat kondisi geopolitik global memang memberikan tantangan bagi perekonomian dunia. Namun demikian, perekonomian Indonesia dinilai masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Menurutnya, sektor akomodasi, makanan dan minuman, serta pariwisata memiliki potensi besar untuk menjadi motor pertumbuhan ekonomi Kabupaten Wonosobo. Ia juga menegaskan pentingnya mengoptimalkan bonus demografi melalui peningkatan produktivitas masyarakat dan penguatan investasi sebagai fondasi pembangunan ekonomi jangka panjang.
Sementara itu, Asri Sarawati dari Murakabi dan Agradaya mengangkat isu pengembangan komoditas pertanian dan ekspor. Menurutnya, Wonosobo memiliki ketersediaan bahan baku yang melimpah, namun masih menghadapi tantangan dalam pemenuhan standar pasar ekspor. Menurutnya, penguatan kapasitas petani perlu dilakukan melalui peningkatan kualitas hasil produksi, pemenuhan standar pasar, serta pendampingan yang berkesinambungan.

Lebih lanjut Asri menyampaikan bahwa permintaan pasar baik nasional maupun global, terutama rempah dari Indonesia, sebenarnya cukup besar, namun kualitas yang dihasilkan masih jauh dari persyaratan permintaan pasar. “Bukannya pabrik di Indonesia tidak mau ambil dari petani, tetapi hasil petani susah memenuhi standar. … jika dihitung, cost yang dikeluarkan pabrik apabila membeli bahan dari petani lebih besar daripada membeli secara impor, terlebih pabrik dengan sertifikasi Halal,” ujar Asri. Menangkap permasalahan tersebut, Asri bersama Agradaya melakukan pelatihan terhadap para petani menegaskan Kembali bahwa Pemerintah perlu melakukan intervensi sehingga para akademisi dapat menerapkan Teknologi Tepat Guna (TTG) di perdesaan.
Selanjutnya paparan disampaikan oleh Ir. H. Saat Suharto Amjad selaku Ketua Pengurus Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) TAMZIS Bina Utama yang juga merupakan pendiri Koperasi Syariah Baituttamwil TAMZIS. Saat menyoroti pentingnya penguatan ekonomi berbasis koperasi syariah dan mendorong transformasi Wonosobo dari sekadar daerah tujuan singgah (staycation) menjadi Wonosobo sebagai destinasi utama untuk “workcation” (bekerja sambil berlibur). Saat menambahkan bahwa sebuah peradaban data dilihat dari beragam kulinernya, “kuliner itu menunjukkan peradaan, semakin banyak kulinernya, semakin kuat peradabannya dan itu merupakan peluang Wonosobo,” tutur Saat.
Pada kesempatan tersebut, Saat menyampaikan bahwa talenta muda di Wonosobo tidak terbatas, namun kurangnya role model yang dapat menjadi panutan masih terbatas. Sudah saatnya sugesti positif harus terus menerus dinaraskan sehingga tumbuh keperayaan dan keyakinan akan kemampuan diri. “Bagaimana menciptakan seratus cerita yang membuat ribuan anak muda berani memulai usaha, karena setiap usaha besar dimulai dari sebuah cerita yang percaya,” ungkap Saat menutup paparannya.
Sesi Tanya Jawab & Closing Remarks Wonosobo Economic Forum 2026: HIPMI Wonosobo, KADIN Wonosobo, dan SEKDA Wonosobo
Pada sesi tanya jawab, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kabupaten Wonosobo, Mat Ranto, menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas usaha agar pelaku usaha lokal dapat naik kelas. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ‘penjualan’ menjadi salah satu yang menunjukkan kemampuan pelaku usaha dalam memperluas akses pasar. Menanggapi hal tersebut Rika Fatimah menyampaikan bahwa yang terpenting bukanlah naik kelas, melainkan scale up atau naik skala “ … bukan naik kelas tapi naik skala … esensi yang jauh berbeda ketika diturunkan dan dikembangkan dalam strategi dan berkegiatannya UMKM … karena dalam scale up ada tiga proses, yaitu perbaikan, pengembangan, dan perluasan … bukan instan focus ke omset/penjualan saja…”. Sebagai penutup Rika Fatimah menegaskan pentingnya tidak buru-buru menaikkan omset/penjualan yang merupakan salah satu bias dalam berwirasuaha.
Target menaikkan penjualan menunjukkan pencipataan terbatas yaitu sebagai pennjual dan bukan wirausaha. Sebelum menjual maka diperlukan penciptaan permintaan (demand) dalam pemasaran. Rika menegaskan “…..permintaan yang tercipta akan meluaskan penjualan secara berkelanjutan sehingga bukan mengejar penjualan sesaat saja… namun menciptakan permintaan yang sesuai dengan potensi yang dimiliki sehingga resiliance asli Indoensia juga akan tercipta … yaitu menciptakan sistem pasar yang berpihak kepada masyarakat tak lain tak bukan adlaah UMKM sebagai pelaku wirausaha mayoritas di Indonesia….”. Menurut Rika, pembangunan ekonomi daerah harus mampu memberikan manfaat yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat, sekaligus mendorong tumbuhnya ekosistem usaha yang bergotong royong, mandiri dan berwibawa.
Pada kesempatan tersebut muncul berbagai rekomendasi strategis dirumuskan untuk mendukung percepatan pembangunan ekonomi Kabupaten Wonosobo. Ketua KADIN Wonosobo mendorong pemerintah daerah untuk berinvestasi pada media digital dan platform komunikasi yang lebih adaptif dalam promosi daerah. Selain itu, disampaikan pula usulan pemberian subsidi transportasi bagi petani, pengembangan layanan shuttle dari bandara menuju Wonosobo, peningkatan perlindungan bagi pelaku usaha, revitalisasi pasar yang ramah bagi penyandang disabilitas, serta penguatan pusat oleh-oleh yang memprioritaskan produk lokal Wonosobo.
Menutup Wonosobo Economic Forum 2026, Drs. One Andang Wardoyo, M.Si mengharapkan forum ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam merumuskan kebijakan ekonomi yang adaptif serta mampu menjawab tantangan pembangunan daerah di masa mendatang.











