Bambang Oeban
Aku menulis puisi
di depan makam pejuang,
yang tercatat dalam sejarah,
bersih dari Korupsi, Kolusi
dan Nepotisme.
Di masa penjajahan,
negeri ini dilahirkan oleh peluh,
air mata, darah, dan doa para pejuang,
aku melihat jidad para pendiri bangsa
masih bersih di dalam lembar sejarah.
Namun …
di cermin zaman hari ini,
aku melihat ada yang menempel.
Bukan tanah atau debu.
Melainkan …
kotoran keserakahan.
Yang menempel di jidad
kekuasaan, merambat
ke dalam jiwa, membatu
menjadi kenikmatan,
namanya OLIGARKI.
OLIGARKI
datang tak bersenjata.
Mengenakan jas mahal,
berdasi.
berparfum impor.
berbicara demokrasi,
diam-diam menghitung
keuntungan.
OLIGARKI
pandai tersenyum
di depan kamera.
Pandai menangis saat pemilu.
Pandai memeluk rakyat selama
musim kampanye.
Tetapi…
setelah kursi didapat,
pelukan berubah menjadi pagar.
Rakyat berdiri di luar,
pintu istana tertutup
berlapis baja.
OLIGARKI
tidak jahat sebab kaya.
Kekayaan dianggap berkah.
Menjadi sialan
ketika kekayaan
membeli keadilan.
Ketika uang mengatur hukum.
Ketika jabatan dijual seperti
dagangan pasar kaki lima.
Ketika nurani dilelang
kepada para ambisius
dengan penawar
tertinggi.
Bukankah
Tuhan mengingatkan,
bahwa manusia diciptakan
dari tanah yang sama?
Tidak ada tanah presiden.
Tidak ada tanah buruh.
Tidak ada tanah konglomerat.
Semua berasal dari tanah,
akhirnya kembali ke tanah.
Mengapa ketika hidup,
ada yang hobi menguasai
begitu banyak tanah?
Pendidikan
menanamkan kejujuran.
Namun …
apa yang dilihat Karjo Kecil,
lewat layar genggam?
Lalu bertanya,
“Bapak, mengapa orang yang
paling kaya selalu merasa haus
untuk semakin kaya?”
Sang Bapak terdiam.
Ibu memandang langit.
Guru menarik napas panjang.
Sebab jawabannya, tidak ada
di buku pelajaran.
Di sekolah,
murid belajar Pancasila.
Di luar pagar sekolah,
mereka belajar tentang
harga suara.
Mereka belajar,
bahwa uang kerap
lebih sakti daripada
hati nurani.
Lalu kita heran,
mengapa Karjo Kecil bingung
membedakan pelajaran
dan kenyataan?
OLIGARKI
serupa kaum rayap.
Rumah masih berdiri.
Catnya masih indah.
Tetapi…
tiangnya perlahan keropos.
Sampai suatu hari,
rumah besar bernama
Indonesia, meretak parah.
Bukan oleh hujan panas,
disebabkan rayap
yang lama dibiarkan
berpesta pora.
Lucunya,
setiap lima tahun,
rayap berganti seragam.
Ada yang merah,
kuning,
biru,
hijau
atau putih.
Sedang rakyat cuma
disuruh ribut berdebat
masalah warna.
Padahal rayap
tetap rayap.
Humor negeri ini
kadang pahit-pahit legit.
Tukang Ojol membayar pajak
saatmana membeli bensin.
Semut pun mungkin ikut
membayar saat gula naik.
Tetapi …
pasukan babi sedang berpesta,
menikmati satu ladang kentang,
kadang masih bisa berkata,
“Kami sedang diet.”
Agama tidak pernah
mengajarkan keserakahan.
Masjid mengajarkan amanah.
Gereja mengajarkan kasih.
Pura mengajarkan keseimbangan.
Vihara mengajarkan welas asih.
Klenteng mengajarkan kebajikan.
Semua agama menuntun
manusia untuk jadi pelita.
Mengapa justru ada yang
lebih memilih menjadi
bayangan?
Para pendiri negeri
tidak mewariskan kekayaan
kecuali kemerdekaan.
Mereka tidak berkata,
“Wariskan jabatan kepada
anak cucumu.”
Mereka berkata,
“Wariskan Indonesia.”
INDONESIA
bukan perusahaan,
bukan warisan keluarga.
Indonesia rumah seluruh
anak bangsa.
Apabila
demokrasi
gampang dibeli,
ia kehilangan suara.
Apabila
hukum mudah dibeli,
ia kehilangan mata.
Apabila
media gampang dibeli,
ia kehilangan lidah.
Dan apabila
pendidikan pun bisa dibeli,
maka demokrasi akan
kehilangan masa depan.
Tetapi …
harapan belum mati.
Masih ada petani
menanam padi dengan doa.
Masih ada guru berjalan kaki
mengajar tanpa keluhan.
Masih ada dokter yang melayani
tanpa membedakan status sosial.
Masih ada ulama, pastor,
pendeta, bhikkhu, pandito,
romo, yang mengingatkan,
bahwa kekuasaan, amanah
bukan warisan keluarga.
Wahai para pemimpin,
sering-seringlah bercermin.
Apabila yang tampak hanya
wajah sendiri, berarti engkau
belum melihat rakyat.
Cobalah berkaca
di mata anak yatim,
di tangan petani,
di wajah nelayan,
di peluh buruh,
di senyum guru honorer.
di doa ibu-ibu yang lelah
antre beras murah,
terpanggang matahari.
Di sanalah Indonesia
engkau bercermin.
Oligarki
tak akan runtuh hanya
oleh kemarahan.
Ia dirontokkan oleh
pendidikan,
integritas,
keberanian,
hukum yang adil,
media yang merdeka,
rakyat yang melelang
harga dirinya.
Mari mendidik anak
agar cita-cita mereka
bukan cuma ingin kaya,
tetapi ingin berguna.
Mari mengajarkan,
bahwa jabatan adalah
pelayanan, bukan tempat
mengumpulkan
keluarga.
Negeri ini
lebih tua daripada
ambisi siapa pun.
Lebih luas daripada
rekening siapa pun.
Lebih suci daripada
kepentingan golongan
yang mana pun.
Oleh sebab itu,
jangan kotori jidad sejarah.
Jangan nodai jiwa para
pendiri negeri dan bangsa.
Mereka menitipkan negeri
dengan hati harum melati.
Jangan dibalas dengan
bau apek keserakahan.
Bila suatu hari nanti
anak cucu bertanya,
“Apa yang kalian lakukan
ketika oligarki berusaha
menguasai negeri?”
Semoga kita bisa menjawab,
“Kami tak membenci siapa pun,
tak menghakimi siapa pun,
tak mendikte siapa pun!
Kami memilih menyalakan lilin
daripada mengutuk kegelapan.
Kami memperkuat
pendidikan.
merawat persaudaraan,
menjaga kejujuran,
memakmurkan gotong royong!
Kami mengingatkan bahwa
kekuasaan akan berakhir,
tetapi nama baik, amal,
dan pengabdian akan hidup
lebih lama daripada
usia siapa pun”
Dan ketika
jabatan ditinggalkan,
gelar ditanggalkan,
kekayaan dituliskan dalam
daftar warisan, yang tertinggal
satu pertanyaan dari langit:
“Apakah engkau memimpin
untuk dirimu sendiri, atau
untuk sesama?”
Maka sebelum senja
benar-benar turun menelan,
segera bersih-bersih, bukan
cuma jidad, melainkan jiwa.
Sebab bangsa yang besar
tidak dibangun oleh segelintir
manusia yang melenggang
di atas hak kekuasaan,
melainkan oleh berjuta
manusia yang memilih
kejujuran,
keadilan,
kasih sayang,
dan pengabdian
sebagai jalan hidup
berbangsa dan
bernegara.
INDONESIA …
akan tetap tegak,
selama hati nurani
lebih tinggi daripada
keserakahan, dan
kepentingan bersama
lebih mulia daripada
kepentingan segelintir
manusia atau pun
golongan!
Desa Singasari,
Senin, 13 Juli 2026
00.45
Advertisement










