Oleh: Sobirin Malian (Dosen FH UAD Penggiat Literasi)
Pendahuluan: Memperdayakan Diri dengan Topeng
Jujur harus diakui: meskipun gengsi tidak enak dimakan, kita sering kali mati-matian memburunya. Demi sebuah pengakuan, manusia bersedia melakukan apa saja — melampaui batas kemampuan, menabrak pagar etika, bahkan tak jarang mengorbankan ketenangan batin dan kejujuran. Kita terjebak dalam kegilaan kolektif untuk menjadi “luar biasa”, hingga dalam hal melakukan ketololan sekalipun, kita ingin menjadi yang paling unggul. Padahal, apa buah dari segala yang kita pamerkan itu? Sering kali hanya tepuk tangan hambar, tatapan sinis, atau justru rasa kasihan yang terselubung.
1. Psikologi di Balik Topeng: Gengsi sebagai Pelarian Diri
Secara psikologis, perburuan melelahkan ini berakar dari kerapuhan ego. Gengsi adalah topeng megah yang kita rakit untuk menutupi rasa tidak aman (insecurity) dan kecemasan akan penolakan. Ketika kita gagal menemukan validasi dari dalam diri, kita menjadi pengemis pujian dari luar. Kita memaksakan diri menampilkan citra ideal yang sejatinya melampaui kapasitas riil diri sendiri. Akibatnya, terjadi disonansi batin yang hebat: jiwa mengalami kelelahan kronis karena dipaksa memakai topeng yang terlalu berat. Kita menghebat-hebatkan diri — dan justru di momen itulah manusia sesungguhnya sedang lupa diri.
2. Konstruksi Sosial: Ketika Status Menjadi Komoditas
Ironisnya, kegilaan personal ini mendapat bahan bakar dari konstruksi sosial. Sosiologi memotret fenomena ini sebagai komodifikasi status — apa yang disebut Thorstein Veblen sebagai conspicuous consumption: perilaku konsumsi yang dilakukan bukan karena kebutuhan fungsional, melainkan semata-mata untuk pamer (flexing), agar dipuji hebat, jago dan menempatkan diri di tangga kasta sosial yang lebih tinggi.
Rumah megah berhektar-hektar, deretan mobil mewah, hingga gelar akademik yang berjejer di belakang nama, kerap kali dikejar bukan sebagai esensi, melainkan sebagai “modal simbolik” untuk menentukan siapa yang lebih layak dihormat. Kita melihat mahasiswa bertarung di bangku kuliah bukan untuk mereguk dalamnya ilmu, melainkan demi selembar ijazah yang dianggap tiket kehormatan. Namun, keliru jika kita hanya menunjuk hidung mereka. Struktur sosial kita — termasuk kita di dalamnya — adalah arsitek yang menciptakan standar palsu ini. Kita semua berkontribusi membangun panggung sandiwara di mana orang yang biasa-biasa saja akan dikucilkan.
3. Cermin Spiritual: Penyakit Hati di Balik Kemegahan
Di sinilah agama datang membawa cermin yang tajam namun menyejukkan. Ketika sosiologi dan psikologi memetakan kerusakan mental dan sosial akibat gengsi, agama menyentuh akar terdalamnya: penyakit hati.
Dalam pandangan teologis, kegilaan pada gengsi adalah bentuk nyata dari riya’ (mencari pujian manusia di atas ibadah) dan takabur (kesombongan yang menolak kebenaran dan meremehkan orang lain). Agama mengingatkan bahwa segala atribut duniawi — harta, pangkat, kepandaian — bukanlah harga yang abadi. Manusia sejati diciptakan dengan kebutuhan yang sangat bersahaja. Perut kita hanya butuh sepiring nasi untuk menyambung hidup, dan tubuh kita hanya butuh sejengkal dipan untuk melepas lelah. Lebih dari itu, fisik kita tak lagi kuat menampungnya.
Maka, kelalaian terbesar manusia adalah ketika ia bangga saat berhasil mengobarkan kedengkian (hasad) di hati sesamanya — sebuah tindakan yang dalam nilai agama justru menghanguskan seluruh kebajikan, seolah-olah tak ada amal yang cukup untuk menutup luka hati yang iri.
Penutup: Pulang pada Hakikat yang Sejati
Pada akhirnya, perburuan gengsi adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang stereotip. Kita berlari mengejar bayangan yang kita anggap sebagai cahaya, hingga lupa pulang pada hakikat diri yang sejati. Di berbagai sudut, dari kompleks perumahan sederhana hingga lingkaran elite, simbol-simbol gengsi mungkin berbeda, namun penyakitnya tetap sama: kita kehilangan esensi demi mengejar sensasi.
Sudah saatnya kita berhenti menguat-nguatkan diri pada hal yang semu. Kembalilah pada hidup yang wajar, rawatlah jiwa dengan sifat qana’ah (merasa cukup dengan pemberian Allah), dan sadarilah bahwa harga diri tidak terletak pada seberapa tinggi kita dipandang oleh mata manusia, melainkan pada seberapa tulus kita menjalani hidup apa adanya, di hadapan Tuhan dan sesama.
Sebab ketika panggung dunia ini runtuh, yang tersisa hanyalah diri kita yang rapuh — tanpa harta, tanpa pangkat, dan tanpa gelar. Yang tersisa hanyalah amal yang tulus dan hati yang selamat. Itulah satu-satunya gengsi yang abadi.
Advertisement










