Oleh: Pril Huseno

Mengenang Umbu Landu Paranggi berarti mengenang “Semangat Sastra Kerakyatan” yang hidup melalui kesederhanaan, penolakan atas popularitas, dan dedikasi total pada pembentukan generasi muda.

Di zaman yang penuh dengan drama simulakra seperti saat ini – sebuah kondisi ketika kehidupan nyata atau interaksi sosial diatur seperti panggung sandiwara yang didasarkan pada realitas semu (simulasi) – figur Umbu Landu Paranggi terasa seperti sedang menertawakan segala fragmen yang tengah berlangsung.

Sebagai seorang berdarah bangsawan Sumba, penyair legendaris yang dijuluki “Presiden Malioboro” ini memilih jalan sunyi untuk membumikan sastra agar tidak menjadi menara gading. Umbu tidak butuh popularitas dalam budaya pop yang menggelikan. Tidak butuh pengakuan dari segala sektor. Ia hanya fokus pada pemberdayaan agar ‘’semua putik bunga dapat terus bermekaran.’’

Melalui gerakan akar rumput dan bimbingan emosional, ia berhasil mengubah ruang publik menjadi laboratorium kreativitas bagi rakyat biasa. Semangat sastra kerakyatan yang diwariskan oleh Umbu Landu Paranggi mewujud dalam beberapa pilar gerakan berikut:

Pertama, Sastra Berakar di Ruang Publik. Melalui Persada Studi Klub (PSK) yang didirikannya di Yogyakarta pada tahun 1969, Umbu menjadikan kawasan Malioboro sebagai ruang belajar terbuka.

Kedua, Sastra dibawa keluar dari institusi formal dan didekatkan langsung ke jantung aktivitas masyarakat sehari-hari.

Ketiga, Mentor Tanpa Pamrih. Umbu bertindak bagai “pohon rindang” atau “api unggun” yang mengayomi para penulis muda. Ia melahirkan tokoh besar seperti Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Ebiet G. Ade, hingga Linus Suryadi AG tanpa pernah menuntut panggung untuk dirinya sendiri.

Keempat, Demokratisasi Karya Lewat Media. Saat mengasuh rubrik sastra di Mingguan Pelopor Yogya dan kemudian Bali Post, ia menciptakan sistem berjenjang (dari kelas pemula hingga kompetisi). Hal ini memberikan kesempatan yang adil bagi siapa saja, dari latar belakang apa pun, untuk mengirimkan karya dan mendapat apresiasi nyata.

Kelima, Konsistensi Gerilya Sastra. Bahkan hingga masa senjanya di Bali, Umbu tetap konsisten turun ke lapangan mendampingi anak-anak muda di Komunitas Jatijagat Kampung Puisi (JKP). Ia mengajarkan bahwa membaca dan menulis sastra adalah hak sekaligus alat penyadaran bagi setiap manusia.

Warisan semangat kerakyatan Umbu Landu Paranggi hingga kini terus hidup melalui berbagai acara komunitas di Indonesia. Salah satunya adalah forum pembacaan puisi dan orasi anak muda di Yogyakarta yang dilaksanakan oleh Komunitas Seniman Yogyakarta (KOSETA) pada 09 Agustus 2026 yang lalu, didedikasikan untuk terus menyauk inspirasi dari jalan sunyi salah seorang guru besar sastra Indonesia.

Setelah Umbu Landu Paranggi pergi, kekosongan jagat sastra Indonesia dari pejuang sastra sejati seperti Umbu menyiratkan satu hal penting, bahwa kerja membumikan sastra Indonesia harus terus dilakukan dengan kesungguhan dan totalitas seperti yang diajarkan Umbu. Kantong-kantong sastra dan kebudayaan di seluruh Indonesia harus selalu dipupuk dan disiram dengan air suci semangat bersastra kepada seluruh generasi penerus kebudayaan.

Di Yogyakarta, saat ini apa yang dilakukan oleh Sekolah Sastra Yogyakarta di bawah asuhan Evidawati, penyair wanita senior Yogya, cukup memberikan inspirasi bagi seluruh insan sastra Indonesia. Semoga kelak selalu bermunculan tokoh-tokoh unik dan pejuang sastra sejati yang tumbuh dari ranah kerakyatan. Dan yang terpenting, ia berani untuk menempuh jalan sunyi seperti yang dilakoni oleh Umbu Landu Paranggi.

Yogyakarta, 31 Agustus 2026

Advertisement

Tinggalkan Komentar