Oleh: Shamsi Ali Al-Nuyorki*

Di akhir pekan Labor Day tahun ini, Komunitas Muslim Amerika menggelar hajatan akbarnya: Konvensi Tahunan ISNA (Islamic Society of North America). ISNA adalah organisasi Islam tertua dan terbesar di Amerika Utara. Hampir semua tokoh dari organisasi-organisasi besar seperti ICNA, MAS, dan lainnya adalah alumni ISNA.

Konvensi tahun ini terasa begitu penting. Amerika sedang memasuki musim politik (pemilihan legislatif) di mana suara Muslim Amerika akan turut menentukan arah perjalanan bangsa ini ke depan. Lebih istimewa lagi, konvensi kali ini diselenggarakan di Detroit, Michigan, wilayah yang siap mencatat sejarah baru dengan terpilihnya Senator Muslim pertama Amerika, Dr. Abdul El-Sayed. Beliau hadir langsung di sesi utama dan memaparkan gagasannya tentang masa depan Amerika.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya kembali diundang sebagai salah satu dari ratusan pembicara di forum bergengsi ini. Selain sesi-sesi keilmuan yang membahas berbagai aspek kehidupan, konvensi ini juga diramaikan dengan bazar, hiburan Islami, kegiatan remaja dan pemuda, serta dialog lintas agama yang menghadirkan tokoh-tokoh dari berbagai agama. Tahun ini saya mendapat amanah untuk mengisi dua sesi yang berbeda.

Pada sesi utama, saya tampil bersama Imam Siraj Wahhaj dan Sr. Dalia Mogahed (keduanya berhalangan hadir) membawakan tema keadilan untuk semua dalam perspektif Islam. Tema yang sangat relevan di tengah ketidakadilan yang merajalela di dunia hari ini. Berbagai kezaliman menimpa umat manusia, terutama saudara-saudara kita di Palestina.

Dalam paparan saya, saya menegaskan bahwa dalam Islam, keadilan identik dengan kehidupan itu sendiri. Hilangnya keadilan berarti hilangnya kehidupan. Karena itu, posisinya begitu fundamental dalam agama ini. Keadilan adalah fondasi tegaknya alam semesta, sebagaimana firman Allah: “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan)… agar kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.” (QS. Ar-Rahman: 7-9).

Keadilan juga adalah fondasi Islam itu sendiri, yaitu Tauhid. Tauhid adalah meyakini dan menaati Allah secara tunggal. Lawannya adalah syirik, yang dikategorikan Al-Quran sebagai “kezaliman yang paling besar” (QS. Luqman: 13).

Bahkan dari 99 Asmaul Husna, ada tiga nama Allah yang berkaitan langsung dengan keadilan: “Al-Adl” (Maha Adil), “Al-Hakam” (Maha Hakim), dan “Al-Muqsith” (Maha Penegak Keadilan). Ini menunjukkan betapa sentralnya nilai keadilan.

Al-Quran sendiri disifati dengan dua sifat utama: kebenaran dan keadilan “shidqan wa ‘adlan”. Artinya, semua yang diajarkan Al-Quran adalah kebenaran yang seimbang dan adil. Ajaran Islam pun dibangun di atas nilai-nilai keadilan dan keseimbangan.

Karena itulah, keadilan menjadi fondasi ketakwaan (QS. Al-Ma’idah: 8) dan menjadi pintu untuk meraih cinta Allah (QS. Al-Hujurat: 9).

Karakteristik Keadilan dalam Islam

Dalam presentasi singkat itu, saya menyampaikan dua karakteristik utama keadilan dalam Islam:

Pertama, keadilan Islam bersifat universal, justice for all, tanpa kecuali.

Keadilan harus ditegakkan meski bertentangan dengan kepentingan diri sendiri dan keluarga (QS. An-Nisa: 135). Keadilan juga wajib ditegakkan bahkan kepada musuh sekalipun (QS. Al-Ma’idah: 8). Dan keadilan harus ditegakkan meski melawan kepentingan para elite, seperti ditegaskan dalam hadits Nabi tentang “Sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.”

Saya mengutip beberapa kisah emas para sahabat: bagaimana Khalifah Umar bin Khattab membela seorang Kristen Koptik Mesir yang dipukul oleh anak Gubernur Amr bin Ash, dan bagaimana Khalifah Ali bin Abi Thalib kalah di pengadilan melawan seorang Yahudi dalam sengketa baju besi miliknya. Kisah-kisah itu menggambarkan bahwa keadilan dalam Islam tidak mengenal batas suku, agama, atau status sosial.

Kedua, keadilan dalam Islam berlandaskan Ihsan (QS. An-Nahl: 90).

Artinya, keadilan yang ditegakkan bukan dengan kebiadaban dan kebencian, melainkan untuk tujuan mulia, kebaikan, dan kasih sayang.

Contoh paling indah adalah kisah wanita yang mengaku berzina dan meminta Rasulullah SAW menegakkan hukum rajam atasnya. Rasulullah justru berusaha menghindar karena belum ada bukti konkret. Bahkan ketika wanita itu hamil, beliau memintanya menunggu hingga melahirkan. Setelah melahirkan, beliau memintanya menunggu lagi hingga selesai menyusui selama dua tahun.

Yang menarik, ketika hukuman itu akhirnya dilaksanakan, ada seorang sahabat yang melemparinya sambil mengutuk. Rasulullah SAW langsung menegurnya dan bersabda: “Seandainya kebaikan wanita ini ditimbang dengan kebaikan Gunung Uhud, niscaya kebaikannya lebih berat.”

Inilah bukti bahwa penegakan keadilan dalam Islam tidak pernah bersifat kejam (cruel). Ia selalu disertai nilai kebaikan dan kasih sayang.

Saya kemudian menyinggung berbagai bentuk kezaliman yang sering terjadi tanpa kita sadari dalam kehidupan sehari-hari: kezaliman kepada Allah, kepada diri sendiri, kepada keluarga, kepada tetangga, bahkan kepada lingkungan.

Masyarakat Binasa Karena Ketidakadilan

Saya menutup presentasi dengan peringatan keras Rasulullah SAW: “Hati-hatilah dengan kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” Beliau juga bersabda: “Takutlah kalian pada doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.”

Akhirnya saya tutup dengan ungkapan monumental dari Ibnu Taimiyah: “Sebuah masyarakat bisa bertahan dengan kekufuran, tetapi masyarakat tidak akan pernah bertahan tanpa keadilan.”

Bersambung… (sesi kedua)

Detroit Airport, 7 September 2026

Advertisement

Tinggalkan Komentar