Oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki
Pada hajatan besar Komunitas Muslim Amerika ini (Konvensi ISNA), saya juga mendapat amanah menjadi salah satu pembicara di sesi paralel bertema “Peran Imam dalam Menumbuhkan Iman dan Memperkuat Persatuan di Amerika”. Sebuah tema yang sangat relevan, baik secara pribadi bagi saya sebagai seorang imam, maupun bagi kebutuhan mendesak Komunitas Muslim di tengah guncangan sosial yang begitu dahsyat saat ini.
Sesi ini menjadi penting karena yang hadir umumnya adalah para imam dan tokoh komunitas yang memiliki pengalaman panjang dan kepedulian besar terhadap perkembangan Muslim Amerika. Sehingga diskusinya pun berlangsung sangat relevan dan dinamis.
Saya membuka presentasi dengan sedikit canda. Saat masih menjadi mahasiswa di International Islamic University Islamabad, saya pernah diminta menjadi muadzin dan asisten imam di Masjid Shah Faisal, masjid terbesar di Pakistan yang indah dan menjadi destinasi wisata. Ketika masjid membutuhkan muadzin dan asisten imam, saya ikut mendaftar dan terpilih. Saya bertugas sebagai muadzin dan mengimami salat, khususnya Isya dan Subuh.
Yang lucu, ketika saya mengimami salat, tidak ada yang mempermasalahkan. Namun begitu saya membalikkan badan menghadap jamaah, banyak yang protes karena saya tidak berjenggot, yang oleh sebagian orang dianggap sebagai syarat menjadi imam. Saya biasanya menjawab dengan berkelakar, jenggot saya tumbuhnya ke dalam, maksudnya di dalam hati. Karena panjang-pendeknya jenggot adalah karunia, yang terpenting kita meyakini bahwa memelihara jenggot adalah sunnah Rasulullah SAW bagi laki-laki.
Persiapan dan Karakteristik Imam
Setelah itu saya melanjutkan presentasi dengan mengangkat dua ayat Al-Quran yang sangat relevan dengan pembahasan tentang imam, persiapan, dan perannya.
Pertama, tentang karunia kepemimpinan yang Allah berikan kepada Nabi Ibrahim AS (QS. Al-Baqarah: 124).
Dalam konteks imamah, saya memahami ayat ini sebagai petunjuk bahwa kepemimpinan tidak datang tiba-tiba. Ia membutuhkan kematangan dan proses persiapan yang panjang, melalui berbagai ujian. Persis seperti yang dialami Ibrahim AS, hingga akhirnya Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.”
Untuk menjadi seorang imam, tidak cukup hanya bermodal penampilan lahiriah, apakah itu jubah Arab atau shalwar kameez ala anak benua India, tidak juga karena panjangnya jenggot, bahkan bukan sekadar karena hafal Al-Quran. Untuk mencapai posisi imamah, diperlukan persiapan matang, sebagaimana dijelaskan pada ayat kedua berikut.
Kedua, tentang sifat-sifat imamah yang Allah anugerahkan kepada Bani Israil (QS. As-Sajdah: 24).
Ayat ini sesungguhnya memberikan tiga kunci utama bagi seseorang untuk menjadi imam di tengah masyarakat. Ketiganya terangkum dalam satu kata: “al-kafa’ah” (kapasitas).
Satu, “yahduuna bi amrina” (memberi petunjuk dengan perintah Kami). Ini saya maknai sebagai urgensi “kafa-ah ilmiyah (kapasitas keilmuan). Seorang imam harus memiliki pemahaman mendalam tentang sumber rujukan agama, Al-Quran dan As-Sunnah, serta ilmu-ilmu pendukungnya seperti tafsir, fikih, dan seterusnya.
Namun tidak kalah penting, ia juga harus menguasai lingkungan di mana ia bertugas. Jika ia bertugas di Amerika, maka ia harus memahami Amerika; kultur, sosial, bahkan ekonomi dan politiknya.
Yahduna bi amrina juga dapat dimaknai sebagai kemampuan komunikasi yang mumpuni. Komunikasi yang dimaksud bukan hanya lisan, tetapi juga komunikasi sosial-budaya. Jika tidak, sang imam bisa terpental, atau masyarakat justru akan menjauh darinya.
Dua, “Sobaru” (dan mereka bersabar). Potongan ayat ini saya maknai sebagai urgensi “kafa-ah nafsiyah (kapasitas mental). Seorang imam harus memiliki mental baja, mental yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.
Tantangan itu bisa datang dari internal komunitasnya sendiri, maupun eksternal seperti meningkatnya Islamofobia. Belum lagi tekanan struktural dari pengurus masjid yang menuntut kesempurnaan.
Di samping itu, realitanya gaji para imam sangat rendah (underpaid), sehingga mereka terpaksa mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Saya mengenal seorang imam yang terpaksa menjadi sopir taksi sebagai pekerjaan sampingan.
Tiga, “bi ayatina yuqinun” (dan terhadap ayat-ayat Kami mereka meyakini dengan sepenuhnya). Ayat ini saya pahami bahwa seorang imam harus memiliki kekuatan ruhiyah (spiritual) dan bahkan menjadi pembimbing spiritual bagi jamaahnya. Ketajaman hati dan kekuatan batin adalah kafa’ah yang paling penting bagi Imam.
Rasulullah SAW adalah imam pertama dan terbaik umat ini. Dalam kehidupan ibadah, beliau adalah teladan sempurna. Ibadahnya membuat istri beliau heran dan bertanya mengapa beliau melakukan semua itu, padahal dosanya telah diampuni. Beliau menjawab: “Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” Beliau mencontohkan beristighfar 70 hingga 100 kali dalam sehari semalam.
Di dunia yang penuh tantangan dan guncangan, masyarakat menjadi begitu labil dan rentan terhadap penyakit mental, sebuah fenomena yang nyata dan paling mengkhawatirkan di tengah kemajuan fisik dunia. Di sinilah para imam harus kuat secara ruh dan keyakinan kepada Allah, serta menjadi benteng bagi komunitasnya.
Tugas-Tugas Utama Imam
Saya kemudian menyampaikan beberapa tugas utama imam di Amerika. Tugas imam di sini bukan sekadar mengimami salat lima waktu, khutbah Jumat, dan ceramah. Lebih dari itu, imam di Amerika memikul tugas yang jauh lebih besar, di antaranya:
1. Merespons persoalan-persoalan kontemporer, khususnya isu-isu yang dihadapi generasi muda di tengah masyarakat yang berubah begitu cepat.
2. Terus belajar dan membimbing komunitas untuk mampu melampaui batas-batas kesukuan (tribalisme) dan nasionalisme sempit.
3. Membimbing dan mengajarkan untuk berpegang teguh pada _ushul_ (prinsip-prinsip agama) dan bertoleransi dalam hal-hal yang bersifat furu’ (cabang).
4. Mengambil bagian dalam partisipasi publik (public engagement), memberikan bimbingan kepada komunitas dalam proses politik dan partisipasi publik secara umum.
5. Menjadi juru damai dan melakukan rekonsiliasi atas potensi perpecahan, baik dalam keluarga (konseling keluarga) maupun antar anggota komunitas, bahkan antar komunitas.
6. Terlibat aktif dalam dialog antar agama. Dunia kita adalah dunia yang saling terhubung (interconnected). Maka membangun relasi dengan semua pihak adalah sebuah kebutuhan. Dialog antar agama adalah jembatan kerja sama antar warga masyarakat secara luas.
7. Di dunia yang penuh ketidakadilan, imam harus menjadi suara keadilan (voice for justice). Ini adalah salah satu misi kenabian (prophetic mission): menegakkan keadilan untuk semua; keadilan untuk Palestina, keadilan ras dan ekonomi, keadilan imigrasi, dan seterusnya.
Tantangan-Tantangan Utama Imam
Saya juga menyampaikan beberapa tantangan utama yang dihadapi para imam di Amerika:
1. Beban kerja berlebihan dan minimnya dukungan. Para imam dibayar sangat rendah, bahkan sering terpaksa mencari pekerjaan sampingan untuk mencukupi kebutuhan pokok keluarga. Belum lagi jaminan kesehatan, biaya sekolah anak, dan jaminan hari tua yang sering kali tidak diperhatikan oleh masjid dan institusi Muslim.
2. Ekspektasi komunitas yang terlalu tinggi. Imam sering dipersepsikan sebagai manusia sempurna dan superman. Diharapkan menjadi imam salat dengan bacaan terbaik, penceramah ulung, fasih berbahasa, bahkan mampu menjadi penggalang dana (fundraiser) dan konsultan psikologi sekaligus.
3. Kesenjangan dengan generasi baru. Para imam menghadapi gap dengan generasi kedua dan ketiga, baik dari segi bahasa maupun budaya. Seringkali materi yang disampaikan tidak relevan dengan generasi muda, dan cara penyampaiannya pun tidak nyambung.
4. Gesekan internal. Terjadi gesekan di antara para imam sendiri, baik karena persaingan pribadi maupun faktor lain yang membuat relasi menjadi renggang. Juga adanya tendensi tribalisme yang kuat, seolah imam hadir sebagai wakil sukunya. Ini sensitif di Amerika mengingat komunitas Muslim yang sangat beragam latar belakangnya.
5. Tekanan dari pengurus masjid (BOT & EC). Seringkali imam diposisikan sebagai “hired & fired imam” — diangkat dan dipecat sesuai kepentingan pengurus. Hal ini jelas tidak memberikan rasa aman (job security) bagi imam dalam menjalankan tugasnya.
Penutup
Saya menutup presentasi dengan gagasan besar untuk mewujudkan institusi pengkaderan imam Amerika. Hal ini sangat penting karena para calon imam yang selama ini belajar ke luar negeri; Timur Tengah, Asia Selatan, atau Afrika, sering kali pulang dengan pola pikir negara tempat mereka belajar, padahal mereka adalah anak-anak yang lahir dan besar di Amerika.
Di sisi lain, sekitar 70 persen imam di Amerika saat ini adalah imam impor dari negara-negara mayoritas Muslim. Mereka seringkali lemah dalam bahasa Inggris dan lambat dalam melakukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan.
Karena itu, untuk jangka panjang, kita membutuhkan institusi pengkaderan imam yang lahir di Amerika. Dari institusi inilah kelak akan lahir imam-imam dengan pemahaman dan kapasitas yang lebih matang dan solid. Wallahu a’lam!
Detroit Airport, 7 September 2026
Advertisement










