Oplus_16908288

Oleh: Sobirin Malian (Dosen FH UAD)

Di tengah lanskap politik Indonesia yang kian memanfaatkan simbol-simbol keagamaan sebagai mata uang legitimasi, muncul wacana yang mengaitkan nama Prabowo Subianto dengan ajaran Islam. Jika wacana ini hendak diangkat menjadi sebuah kerangka pemikiran yang serius, maka ia harus siap diuji dengan kriteria yang selama berabad-abad menjadi landasan validitas setiap pemikiran keagamaan: adanya sanad yang jelas, bersambung, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sanad: Prinsip Dasar Validitas dalam Tradisi Islam

Dalam dunia keilmuan Islam, tidak ada pemikiran yang berdiri sendiri tanpa rujukan. Setiap pandangan, setiap fatwa, setiap cara memahami agama — harus dapat ditelusuri rantai penyampaiannya. Inilah yang disebut sanad: rantai perawi atau guru yang menyambungkan pemahaman seseorang kepada sumber utamanya, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah, lalu kepada para ulama terdahulu.

Sanad bukan sekadar formalitas. Ia adalah jaminan keterwarisan. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan paling mendasar:

– Dari mana pemahaman ini diambil?
– Siapa yang mengajarkannya?
– Apakah para pengajar itu dikenal keilmuan dan kepercayaannya?
– Apakah rantai pemahaman ini tidak putus dan tidak bertentangan dengan sumber ajaran yang mapan?

Tanpa sanad, sebuah pemahaman agama hanyalah pendapat pribadi. Bisa benar, bisa keliru — dan tidak ada jaminan. Dalam Islam, seseorang tidak otomatis menjadi rujukan keagamaan hanya karena ia dikenal luas, kaya, atau memiliki kekuasaan. Para ulama pun harus menunjukkan siapa gurunya, dan siapa guru gurunya, sampai ke sumber.

Jika “Islam Prabowo” Diuji dengan Kriteria Sanad

Maka pertanyaan yang paling mendasar pun muncul: jika memang ada pemikiran keagamaan yang khas dan konsisten dari beliau, siapa gurunya? Apa rantai sanad pemahamannya? Kitab-kitab mana yang menjadi rujukan utamanya?

Jika klaim keagamaan yang dibangun tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini secara transparan, maka ada dua kemungkinan:

1. Pemahaman keagamaan yang dimiliki memang ada, namun belum dipublikasikan secara jelas dan terbuka untuk dikaji bersama;
2. Atau, narasi keagamaan yang dibangun sebenarnya bukan berasal dari pemahaman mendalam yang terwarisi, melainkan disusun secara selektif untuk keperluan pencitraan.

Jika yang terjadi adalah kemungkinan kedua, maka yang kita hadapi bukanlah pemikiran keagamaan, melainkan konstruksi narasi yang meminjam simbol agama. Dan ini berbahaya, karena ia membiarkan agama didefinisikan tanpa melalui proses keilmuan yang bertahap, teruji, dan terwariskan.

Sanad Bukan Sekadar Silsilah Nama — Ia Jaminan Metode

Sanad bukan sekadar daftar nama guru. Ia adalah jaminan metode dan kesinambungan pemahaman. Ketika seseorang memiliki sanad yang jelas, kita bisa tahu:

– Bagaimana cara beliau memahami ayat Al-Qur’an dan hadis?
– Apakah beliau mengikuti metode pemahaman salah satu mazhab yang diakui, atau menafsirkan secara mandiri tanpa rujukan?
– Bagaimana beliau menyeimbangkan antara teks agama dan realitas sosial?

Jika “Islam Prabowo” hendak diperkenalkan sebagai sebuah kerangka pandangan hidup, maka masyarakat berhak mengetahui kerangka rujukannya. Apakah pemahamannya cenderung ke arah pemikiran ulama tradisional, atau pemikiran pembaharuan? Bagaimana pandangannya tentang hubungan negara dan agama? Tentang keadilan ekonomi? Tentang kewajiban memegang teguh amanat rakyat?

Tanpa sanad yang transparan, semua ini tidak lebih dari pernyataan-pernyataan yang terpisah, yang bisa berubah sesuai situasi, dan tidak dapat dijadikan pegangan yang konsisten.

Bahaya Ketika Sanad Diganti dengan Kekuasaan

Sejak dahulu, para ulama telah memperingatkan: jangan jadikan penguasa sebagai rujukan agama hanya karena kekuasaannya. Agama memiliki kriteria keilmuan yang tidak bisa ditawar. Kekuasaan bisa memberi pengaruh, tetapi tidak bisa menggantikan sanad.

Ketika narasi keagamaan dibangun tanpa landasan sanad yang jelas, maka ukuran kebenaran pun bergeser. Bukan lagi sejalan dengan Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para ahlinya, melainkan sejalan dengan kepentingan dan kebijakan tokoh tersebut. Jika ini terjadi, maka agama bukan lagi menjadi kompas yang mengarahkan kebijakan, melainkan alat pembenaran yang mengikuti arah kebijakan.

Di sinilah letak perbedaan mendasar:

– Pemikiran berbasis sanad: mengutamakan kebenaran sesuai ajaran, meskipun berat bagi diri sendiri.
– Pemikiran tanpa sanad: cenderung menyesuaikan makna agama dengan apa yang diinginkan oleh pemegang kekuasaan.

Bukan Soal Menolak, Tapi Soal Meminta Keterbukaan

Penekanan pada pentingnya sanad ini bukan berarti menutup pintu bagi siapa pun untuk mendekatkan diri kepada Allah. Setiap orang berhak beribadah, mendalami agama, dan bertumbuh dalam keimanan. Namun, ketika seseorang — atau pihak lain atas namanya — mulai membangun narasi yang memosisikan beliau sebagai teladan atau rujukan keagamaan, maka wajar jika masyarakat bertanya: dari mana pemahaman itu berasal?

Keterbukaan atas sanad dan rujukan pemikiran justru akan memperkuat posisi tokoh tersebut di mata umat. Jika beliau memang memiliki guru-guru yang mumpuni, jika pemahamannya memang bersumber dari kitab-kitab yang diakui, maka sebutkanlah. Biarkan umat menilai secara wajar, bukan melalui pencitraan yang dijaga ketat, melainkan melalui transparansi yang meyakinkan.

Penutup: Agama Milik Semua, Tapi Pemahaman Harus Punya Jalan

Pada akhirnya, sanad adalah bukti bahwa pemahaman agama tidak lahir dari kekosongan. Ia diwariskan, diajarkan, dikritisi, dan disempurnakan dari generasi ke generasi.

Jika “Islam Prabowo” memang ingin dijadikan rujukan yang serius, maka mulailah dengan menyampaikan rujukannya secara terbuka. Siapa gurunya? Apa yang beliau ajarkan? Bagaimana ia mengamalkannya dalam kebijakan? Dan yang terpenting: apakah pemahaman itu mendorong ke arah keadilan, kejujuran, dan kesejahteraan rakyat — atau hanya sekadar memperindah citra pribadi?

Karena pada hakikatnya, ukuran keislaman seseorang tidak terletak pada judul buku yang ditulis tentangnya, melainkan pada kesesuaian langkahnya dengan jalan yang diridhai Allah — jalan yang terang, yang dapat ditelusuri, dan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Advertisement

Tinggalkan Komentar