Oplus_16908288

Oleh: Cak Mad

Dahulu orang mencari Tuhan dengan berjalan.

Mendatangi surau, pesantren, gereja, wihara, rumah tuan guru.

Duduk. Mendengar. Kadang pulang membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Musim berganti. Ombak gadang tapian barubah. Demikian pepatah tua Minangkabau mengganmbarkan perubahan zaman.

Manusia sekarang tidak lagi berjalan.

Cukup menggeser layar.

Satu jempol,
satu sentuhan,
satu potongan ceramah 30 detik.

Dan sejak itu, yang mencari bukan lagi manusia , tapi algoritma yang mencarikan untuk manusia.

Ia tahu apa yang anda sukai.

Apa yang membuatmu marah.

Siapa yang kau benci, siapa yang kau kagumi.

Dan yang paling berbahaya: ia tahu agama seperti apa yang ingin anda dengar.

Di sinilah soalnya. Bukan agamanya yang berubah.

Tuhan tetap Tuhan. Qur’an tetap Qur’an. Hadis tetap hadis.

Yang berubah adalah cara manusia berjumpa dengan agama.

Dulu guru memilihkan ilmu, sekarang _algoritma_ memilihkan tontonan.

Dahulu, guru memberi apa yang perlu anda dengar, bukan apa yang ingin anda dengar.

Ada ilmu yang pahit. Ada nasihat yang menyakitkan.

Di situlah pendidikan terjadi.

Platform tidak pernah bertanya, “Apa yang paling benar untukmu?”

Ia hanya bertanya, “Apa yang membuatmu tetap di sini?”

Satu mencari kebenaran, satu lagi mencari engagement.

Dan ketika engagement jadi ukuran, maka marah jadi komoditas, kontroversi jadi bahan bakar, kesederhanaan jadi senjata.

Manusia yang marah akan berkomentar. Yang takut akan menonton sampai habis. Yang merasa kelompoknya diserang akan datang membela.

Lahirlah ekonomi perhatian. Dan agama diseret masuk ke dalamnya.

Kemudian muncul ukuran baru yang paling menyesatkan:

Like menjadi ijazah. Viral menjadi sanad.

Dulu seorang alim butuh puluhan tahun berguru, menghafal, memahami bahasa, menguji sanad, berdebat. Kini cukup satu video meledak, maka otoritas lahir seketika.

Disinilah manusia tuna adab dan moral bekerja, menyusup dengan ijazah akademis palsu. Membangun eksistensi tanpa validasi. Bermodal viral menterangkan gelar akademis palsu untuk memburu rente dalam kekuasaan.

Padahal iral bukan sanad. Jumlah follower bukan dalil. Ramainya komentar bukan ijazah.

Tapi di era post-truth, manusia membalik logikanya: yang viral dianggap benar karena viral.

Maka terbentuklah yang kau sebut “Agama Algoritma.”

Bukan agama baru secara teologi.

Tidak!.

Ini metafora.
Ini adalah mesin sosial yang menentukan apa yang paling terlihat saat manusia mencari agama.

Hari pertama anda tonton ceramah A, besok algoritma beri kau A lagi, lalu B dan C yang polanya sama.

Duniamu makin sempit, tapi anda merasa makin tercerahkan.

Padahal anda hanya masuk ke ruang gema di mana semua orang bicara sepertimu, semua musuh adalah musuh yang sama, semua dalil dipakai untuk membenarkan kelompok yang sama.

Sampai akhirnya anda yakin: hanya kami yang benar. Padahal anda belum pernah bertemu argumen terbaik dari orang yang berbeda.

Itulah post-truth: ketika perasaan mengalahkan fakta, ketika identitas mengalahkan kebenaran.

Dan inilah benturan paling dalam: Dari sanad ke algoritma.

Sanad bertanya: “Dari siapa kau peroleh ilmu ini?”

Agoritma bertanya: “Apakah orang akan berhenti menggulir jika melihat ini?”

Sanad mencari kesinambungan ilmu. Algoritma mencari kesinambungan perhatian.

Sanad butuh waktu dan kedalaman. Algoritma butuh kecepatan dan keterlibatan.

Ketika agama menjadi konten, ia harus tunduk pada hukum konten: harus menarik, cepat, punya thumbnail, punya konflik, punya musuh, punya klimaks.

Ceramah jadi pertunjukan. Debat jadi pertandingan. Fatwa jadi headline. Ayat jadi caption. Dan jamaah berubah menjadi audiens.

Manusia tidak lagi bertanya, “Apakah ini benar?” Tapi, “Apakah ini menarik?”

Algoritma tidak mengenal kesakralan. Ia tidak punya takwa. Ia tidak takut Tuhan. Ia hanya menghitung pola. Algoritma bukan Atheis atau PKI anti do’a yang mengatakan Do’a itu candu. Sikap kalah yang malu menyerah Algoritma tidak butuh do’a karena hanya sistem, tapi PKI menolak do’a karena sombong.

Maka musuh sebenarnya bukan algoritma. Algoritma hanya memperbesar apa yang sudah ada di dalam dirimu. Jika kau suka marah, ia beri lebih banyak kemarahan. Jika anda suka kedalaman, ia masih bisa anda pakai untuk menemukan kedalaman.

Pertanyaan zaman ini bukan, “Apakah agama akan bertahan di era AI?”

Tapi: Apakah manusia masih mampu mencari kebenaran, ketika mesin sudah terlalu pandai memberikan apa yang ingin ia dengar?

Ujian iman generasi digital bukan ketika manusia kehilangan Tuhan. Tapi ketika manusia terlalu mudah menemukan tuhan-tuhan kecil buatannya sendiri : tuhan kelompok, tuhan identitas, tuhan influencer, tuhan ego.

Dan semuanya bicara dengan suara manusia.

Dharmasraya, 8 September 2026

Cak Mad
NU Kultural, Petani Sawit, Peternak Domba, Suami Mei Hwa

Advertisement
Advertisement

Tinggalkan Komentar