Oleh: Sobirin Malian (Dosen, teman biasa)
Kehilangan selalu datang tanpa mengetuk pintu. Kabar kepergian Airlangga Pribadi Kusman — atau Angga, begitu ia akrab disapa — pagi itu terasa seperti gempa halus yang menggetarkan hati siapa saja yang pernah berdiskusi dengannya. Bagi saya, kabar itu terasa lebih dekat, karena saya berkesempatan bertemu beliau dua kali dalam forum diskusi publik. Dan setiap pertemuan itu meninggalkan kesan mendalam: sosok yang tenang, pemikirannya jernih, dan ucapannya selalu berbobot, tanpa perlu meninggikan suara untuk didengar.
Pagi di Sabang: Kepergian di Tengah Karya
Ia pergi dengan cara yang paling mewakili hidupnya: di tengah proses berkarya. Pagi itu, setelah tiba dari Surabaya dengan kereta, Angga duduk di kedai kopi di Jalan Sabang, membuka laptop, dan menyusun makalah bersama sejarawan Vijay Prashad tentang pemikiran Bung Karno. Kalimat-kalimat masih mengalir, pikiran masih tajam, ketika tiba-tiba tubuhnya goyah. Tekanan darah melonjak tajam, gula darah mencapai angka yang mengkhawatirkan. Meski dilarikan secepatnya ke RSPAD Gatot Subroto, takdir berkata lain. Angga berpulang di usia 49 tahun — dosen FISIP Universitas Airlangga, kampus yang menyandang nama yang sama dengan namanya.
Laptopnya masih menyala, tulisannya belum selesai. Bagi seorang intelektual, ini adalah kepergian yang paling menyentuh: ia pergi tepat di saat ia sedang membangun gagasan demi keabadian pemikiran.
Momen-Momen Penting: Jejak Karya dan Perjuangan Intelektual
Sepanjang perjalanan kariernya, Angga meninggalkan sejumlah momen yang menjadi tonggak penting dalam dunia pemikiran ilmu sosial dan politik di Indonesia:
1. Warisan Pemikiran “Murdoch School”
Saat menempuh pendidikan doktoral di Universitas Murdoch, Australia, di bawah bimbingan Prof. Vedi Hadiz dan Richard Robison, Angga menjadi bagian dari aliran pemikiran ekonomi politik kritis yang dikenal luas. Pendekatan ini — yang menelusuri keterkaitan kekuasaan, modal, dan politik — kelak menjadi pisau analisis yang tajam dalam karya-karyanya. Ini bukan sekadar akademisi, melainkan cara membaca realitas Indonesia dengan jujur.
2. The Vortex of Power: Jejak Kekuasaan di Jawa Timur
Penerbitan bukunya The Vortex of Power: Intellectuals and Politics in Indonesia’s Post-Authoritarian Era (Palgrave Macmillan, 2019) menjadi momen penting. Buku ini mengupas bagaimana jejaring kekuasaan terbentuk di Jawa Timur pasca-reformasi, bagaimana kaum intelektual terlibat, dan bagaimana demokrasi berjalan di bawah bayang-bayang kepentingan kekuasaan. Karya ini menjadi rujukan penting bagi siapa saja yang ingin memahami dinamika politik daerah.
3. Menelusuri Kembali Ajaran Bung Karno
Penerbitan buku Merahnya Ajaran Bung Karno: Narasi Pembebasan ala Indonesia (2022) menandai fase mendalam dalam perjalanan intelektualnya. Angga tidak sekadar mengutip sejarah, melainkan menghidupkan kembali gagasan Marhaenisme sebagai kerangka berpikir untuk memahami ketimpangan dan pencarian keadilan di masa kini.
4. Marhaenisme untuk Generasi Baru
Bersama Rocky Gerung, ia menyusun Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z — upaya menghubungkan gagasan pembebasan klasik dengan tantangan yang dihadapi generasi muda hari ini. Diskusi yang dijadwalkan akan digelar sehari setelah kepergiannya justru menjadi pengingat betapa ia tak pernah berhenti menjembatani gagasan masa lalu dengan masa depan.
5. Diskusi-Diskusi yang Menyuburkan Pikiran
Bagi saya pribadi, momen yang paling berkesan adalah saat bertemu beliau dua kali dalam forum diskusi. Dalam setiap sesi, saya menyimak bagaimana beliau menyampaikan gagasan dengan tenang namun tajam. Tidak emosional, tidak berapi-api tanpa arah — melainkan tertata, berdasar data, dan tetap terbuka terhadap pandangan lain. Itulah gaya berpikir yang saya kagumi: teguh pada pendirian, namun tetap menghargai perbedaan.
Refleksi: Pemikiran yang Tak Pernah Benar-Benar Mati
Angga mungkin tak sempat menyelesaikan makalah pagi itu di Sabang. Namun, ia telah menuliskan ribuan halaman lain yang akan terus dibaca, diperdebatkan, dan dikembangkan oleh orang-orang yang terinspirasi oleh gagasannya.
Kita sering berpikir bahwa kepergian seseorang adalah akhir. Namun bagi seorang pemikir, kematian hanyalah berhenti menulis secara langsung — sementara gagasannya terus berjalan, mengundang orang lain untuk melanjutkan kalimat yang belum selesai.
Bagi saya, kenangan akan dua pertemuan di forum itu tetap abadi. Cara beliau memandang dunia, ketajaman analisisnya, dan kerendahan hatinya saat berdiskusi — itulah warisan yang tak bisa dihapus oleh waktu.
Selamat jalan, mas Angga. Terima kasih untuk setiap gagasan yang kau bagikan. Kalimatmu memang belum selesai, tapi itulah tugas kita yang tertinggal: melanjutkannya.
Lahu Al-Fatihah.
Advertisement










