Oleh : Kang Iswanto
Orang yang tidak pandai bersyukur, ia akan cenderung melihat keadaan kanan kirinya itu nampak selalu kurang, salah, cacat, dan membuat kecewa. Akibatnya jiwanya menjadi sempit dan sesak.
Bila nampak orang lain lebih dari dirinya, ia menjadi iri dan tidak senang. Akan muncul dengki di dalam hatinya. Akan dicarinya salah dan kurangnya. Misalnya: “dia bisa berhasil begitu karena ini dan itu, miara tuyul, kolusi, korupsi, atau yang lainnya. Pokoknya hal-hal yang buruk dan salah akan dialamatkan pada orang yang berhasil dan lebih itu”.
Bila ia melihat orang lain kurang, lemah, dan menderita, ia akan cenderung mencacatnya. Bukannya rasa iba dan kasihan yang muncul di hatinya, tetapi justru menyalahkan. Orang Jawa bilang ‘nyukurke’. Dengan membangun argumen: “semuanya itu terjadi karena dia bodoh, malas, boros, dan sebagainya”.
Bila ia orang kaya dan berkuasa, dia ingin orang lain tunduk pada dirinya. Menumpuk-numpuk harta dan bermegah-megahan menjadi kesenangannya. Dengan kekayaan dan kuasanya itu, bila perlu dunia akan ditundukkan dan dibelinya.
Wataknya akan menjadi rakus, tamak, buas, dan menghalalkan segala cara untuk menutupi jiwanya yang dibelit rasa kurang dan dahaga yang tiada ujung. Dadanya menjadi sempit, sekalipun rumahnya di istana megah dan luas. Selalu kurang, dan serba kekurangan. Jiwanya hampa dan merana. Hatinya tersiksa senantiasa. Sekalipun seisi dunia ini menjadi miliknya, tetap tidak akan memuaskan hasratnya yang menyala.
Berbeda halnya dengan orang yang pandai bersyukur. Dia melihat dirinya serba lapang. Apa yang ada dan apa adanya telah menjadi semacam patokan bagi dirinya. Menjadi jalan atau titian dalam pengabdian kepada Tuhannya.
Tatkala ia dikaruniai sesuatu, dijadikannya hal-hal dan sesuatu yang ada dan menjadi miliknya itu dikembalikan kepada Tuhannya. Dengan cara dimanfaatkan untuk kebaikan kepada sesamanya, seperti: menolong dan melepaskan orang dari jerat kesulitan dalam hidupnya.
Kehadirannya menjadi berkah bagi lingkungan di kanan kirinya. Baginya, berbuat baik kepada satu orang itu seakan-akan dia berbuat baik dengan penduduk bumi seluruhnya. Maka segala harta benda, kekuasaan, tenaga, juga pengetahuannya akan disumbangkan seluruhnya untuk jalan kebaikan. Dimulai dari keluarganya, saudara-saudara dan kerabatnya, kawan-kawannya, sahabat-sahabatnya, dan juga kepada orang-orang yang memusuhinya. Itulah yang oleh para ustadz disebut sebagai perilaku yang berwatak “rahmatan lil ‘alamin”.
Inilah jalan pengabdian baginya. Hidupnya itulah pengabdian. Dan tidak ada yang layak baginya tempat untuk mengabdi, kecuali hanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Allah Subhanahu Wata’ala.
Jiwanya menjadi tenang, hanya ketika bersandar kepada Allah. Dadanya menjadi lapang, sebagaimana surga yang seluas bumi dan langit. Itulah hati yang selamat, qolbun salim. Di sisi Allah itulah dirinya memperoleh nikmat yang tiada putusnya.
Berita gembira inilah yang ingin disampaikan kepada sesamanya, kepada penduduk bumi. Agar supaya bisa bersama-sama bisa kembali dengan selamat di sisi Allah, Tuhan Yang Pengasih dan Penyayang.
Jambi, 24 Mei 2024










