Jakarta, Kansnews.com – Jakarta Millenial Film Festival (JMFF) 2026 resmi mengumumkan para pemenang dalam Malam Anugerah JMFF 2026 yang digelar di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Mengusung tema “Kolaborasi Indah Merayakan Kemerdekaan Bangsa”, kegiatan yang diselenggarakan Jaya Center Foundation bekerja sama dengan Persatuan Karyawan Film dan TV Indonesia (KFT Indonesia) serta Pemerintah Provinsi Jakarta itu dihadiri sekitar 1.200 undangan.
Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh nasional, insan dan organisasi perfilman, politisi, hingga pelajar dan mahasiswa dari Jawa dan Bali yang menjadi peserta festival film pendek.
Malam Anugerah JMFF 2026 dibuka oleh Ketua Dewan Pembina Jaya Center Foundation sekaligus Pembina JMFF 2026, Budi Mulyawan, bersama Arturo GP dari KFT Indonesia.
Dalam sambutannya, Budi menilai festival film tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk membangun generasi baru perfilman Indonesia.

“JMFF ini bukan hanya tentang mencari siapa yang menjadi pemenang. Yang lebih penting adalah bagaimana kita memberikan ruang kepada anak-anak muda untuk belajar, berekspresi, dan menyampaikan gagasan mereka melalui film,” ujar Budi.
Menurut dia, potensi generasi muda dalam perfilman perlu terus dikembangkan seiring perubahan teknologi digital yang membuat proses produksi film semakin mudah diakses.
“Anak muda hari ini memiliki kemampuan dan akses teknologi yang luar biasa. Tinggal bagaimana kemampuan tersebut diarahkan untuk menghasilkan karya yang memiliki nilai, baik nilai kebangsaan, kemanusiaan maupun budaya lokal,” kata Budi.
Ia berharap JMFF dapat ikut memperkuat ekosistem perfilman nasional dengan menghadirkan talenta-talenta baru dari berbagai daerah.
“Harapan kami, dari festival ini lahir generasi baru perfilman Indonesia. Mereka tidak hanya mampu membuat konten, tetapi juga mampu membuat karya sinema yang memiliki pesan dan kualitas,” ujar Budi.
Berawal dari workshop film
Rangkaian JMFF 2026 sebelumnya diawali dengan workshop film pendek pada 10 Juni 2026 di GOR Otista, Jakarta Timur.
Workshop tersebut diikuti pelajar dan mahasiswa dari berbagai wilayah di Jawa dan Bali. Kegiatan itu bertujuan memberikan pemahaman mengenai proses pembuatan film sekaligus memperkenalkan aspek-aspek penting dalam produksi karya sinema.
Setelah workshop, lebih dari 100 karya film pendek masuk dalam proses seleksi. Dewan juri kemudian menetapkan 17 film sebagai karya terbaik yang berhak masuk sebagai finalis.
Penilaian dilakukan berdasarkan sejumlah aspek, antara lain kekuatan ide dan pesan, keberanian melakukan eksperimentasi, kemampuan storytelling, keberanian mengangkat tema bela negara dengan bahasa milenial dan Gen Z, serta penguasaan teknis dengan memanfaatkan peralatan dan teknologi digital.
Budi mengatakan, keberanian peserta mengangkat persoalan kebangsaan melalui perspektif generasi muda menjadi salah satu hal menarik dari festival tersebut.
“Bela negara tidak harus selalu dibicarakan dalam bahasa yang formal. Anak muda bisa membicarakannya melalui film dengan bahasa mereka sendiri, dengan cara yang kreatif, sederhana, bahkan lucu dan menyentuh,” tuturnya.
Enam kategori pemenang
Dari 17 finalis yang terpilih, dewan juri menetapkan pemenang dalam enam kategori.
Untuk kategori Skenario Terbaik, penghargaan diberikan kepada film “Di Balik Kotak Kenangan” dari Tangerang Selatan, Banten. Film ini dinilai memiliki ide cerita yang relevan dengan tema bela negara, khususnya melalui penguatan budaya lokal Nusantara.
Kategori Pemeran Utama Terbaik diraih Jenab dari Jakarta Utara. Penampilannya dinilai natural, menghadirkan komedi khas Gen Z sekaligus mengangkat unsur lokal Betawi melalui gaya lenong yang segar.
Sementara itu, penghargaan Sinematografi Terbaik diberikan kepada film “Daun yang Merekah”.
Film “Echoes” dari Salatiga, Jawa Tengah, meraih penghargaan Sutradara Terbaik. Film tersebut dinilai memiliki pendekatan eksperimental yang orisinal serta storytelling yang kuat dengan benang merah mengenai cinta keluarga dan cinta tanah air.
Untuk kategori Film Favorit Pilihan Penonton, penghargaan diberikan kepada “Isyarat Hati” dari SMK Negeri 65 Jakarta. Film tersebut mengangkat kehidupan remaja berkebutuhan khusus dan pesan mengenai penerimaan serta kesetaraan dalam pergaulan.
Adapun penghargaan tertinggi, yakni Film Terbaik, kembali diraih “Daun yang Merekah” dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Film tersebut dinilai memiliki struktur narasi yang kuat dan rapi serta penguasaan aspek teknis, seperti kamera, penyuntingan, dan tata suara yang dinilai telah mendekati standar produksi film profesional.
Selain itu, film tersebut mengangkat isu keadilan, kasih sayang, serta kehidupan anak berkebutuhan khusus atau autisme secara sensitif dan bermartabat.
Dorong regenerasi perfilman nasional
Pelaksanaan JMFF 2026 dinilai menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem perfilman yang lebih luas, khususnya dengan memberikan ruang kepada pelajar dan mahasiswa untuk masuk ke dunia sinema.
“Kalau kita ingin perfilman Indonesia terus berkembang, regenerasi harus dimulai dari sekarang. Mereka harus diberikan kesempatan untuk belajar, berkarya, berkompetisi dan mendapatkan apresiasi,” kata Budi.
JMFF 2026 diselenggarakan oleh Jaya Center Foundation bersama KFT Indonesia dan Pemprov Jakarta, dengan dukungan Bank Jakarta, Jakarta Experience Board, Jakarta Film Commission, serta Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.
Acara Malam Anugerah juga dimeriahkan penampilan Ulah Band yang beranggotakan generasi Z.
Jaya Center Foundation selanjutnya akan menggelar acara khusus penyerahan trofi dan hadiah kepada para pemenang JMFF 2026 pada tahun ini.
Budi berharap penyelenggaraan festival tidak berhenti pada malam penganugerahan, tetapi berlanjut menjadi proses pembinaan bagi para peserta.
“Kita ingin festival ini menjadi pintu masuk. Setelah mereka menang, perjalanan mereka sebagai sineas muda justru baru dimulai,” ujar Budi.
Menurut Budi, karya-karya yang lahir dari JMFF 2026 menunjukkan bahwa generasi muda Jawa dan Bali memiliki kemampuan untuk mengemas isu kebangsaan, kemanusiaan dan budaya lokal dalam bahasa sinema yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Ini membuktikan bahwa anak muda bukan hanya jago membuat konten. Mereka juga mampu membuat karya yang berbicara tentang Indonesia,” katanya.**
Budi Mulyawan
(Ketua Dewan Pembina Jaya Center Foundation)
Tlp: 0856 9530 6364










