Oleh: Ariyo Bimmo Soedjono
Pencipta Lagu, Pengamat Hukum dan Kebijakan Publik

Pada 1996, lagu “Bintang Jatuh” yang saya ciptakan bersama Adhita Wiadi memenangi Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) Tingkat Nasional. Pengalaman itu memberi saya satu pelajaran: seseorang dapat memiliki gagasan musikal tanpa menjadi pemain instrumen yang mahir.

Saya bukan musisi profesional. Kemampuan memainkan alat musik saya terbatas pada dasar-dasarnya. Namun, saya mempelajari teori musik, memiliki kepekaan terhadap melodi, dan dapat menyenandungkan gagasan yang ingin saya dengar dalam sebuah lagu. Saya tahu suasana yang hendak dibangun, meskipun tangan saya belum tentu mampu memainkannya.

Untuk mewujudkan gagasan tersebut, saya membutuhkan musisi. Saya menyampaikan melodi, menjelaskan keinginan, lalu mendiskusikan bagaimana lagu itu sebaiknya dibentuk. Dalam proses tersebut, para musisi juga membawa pengetahuan, tafsir, dan kreativitas mereka sendiri. Lagu lahir melalui perjumpaan kemampuan yang berbeda.

Kini, kecerdasan buatan atau AI menawarkan kemungkinan baru. Orang dengan keterbatasan seperti saya dapat mencoba menerjemahkan gagasan musikal melalui instruksi kepada sebuah sistem. Jarak antara sesuatu yang terdengar di kepala dan sesuatu yang dapat didengarkan orang lain menjadi lebih pendek.

Di situlah saya melihat peluang dalam disrupsi AI.

Membuka pintu penciptaan

Perdebatan tentang AI dalam musik sering berpusat pada pertanyaan apakah mesin akan menggantikan seniman. Bagi saya, ada pertanyaan lain yang sama pentingnya: berapa banyak gagasan selama ini tidak pernah terwujud karena pemiliknya tidak mempunyai keterampilan teknis, biaya produksi, atau akses kepada musisi?

AI dapat membuka pintu bagi mereka. Seseorang yang mempunyai lirik dan bayangan melodi kini memiliki jalur tambahan untuk mengembangkan gagasannya. Ia dapat mencoba beberapa kemungkinan sebelum memutuskan apakah akan melanjutkannya bersama musisi atau menggunakannya untuk kebutuhan sederhana.

Namun, pintu yang terbuka tidak serta-merta membuat semua orang menjadi pencipta lagu yang matang.

Menghasilkan lagu dan mewujudkan lagu yang dimaksud adalah dua persoalan berbeda. Kita dapat meminta lagu yang sendu, kemudian memperoleh hasil yang terdengar sedih. Tetapi kesenduan memiliki banyak wajah: kerinduan yang tertahan, kehilangan yang tenang, atau kesepian yang masih menyimpan harapan.

Apakah hasilnya menghadirkan perasaan tersebut? Apakah melodinya mendukung makna lirik? Apakah aransemennya memberi ruang bagi pesan yang ingin disampaikan?

Pertanyaan semacam itu tetap membutuhkan pendengaran, pengetahuan, dan penilaian.

Hasil AI bisa cukup rapi dan menyenangkan untuk didengar. Akan tetapi, kerapian produksi, ketepatan terhadap maksud pencipta, dan kekhasan ekspresi merupakan ukuran yang berbeda. Sebuah lagu dapat memenuhi salah satunya tanpa memenuhi yang lain.

Kejutan dan kepekaan

Dalam menghasilkan sesuatu melalui AI, kita juga dapat menjumpai unsur kejutan. Sistem memberikan pilihan yang tidak pernah kita bayangkan. Kadang-kadang menarik, kadang-kadang terasa jauh dari keinginan awal.

Kejutan itu dapat menjadi bahan kreatif. Dalam kolaborasi antarmanusia pun, seorang musisi bisa menawarkan harmoni atau aransemen yang mengubah pandangan pencipta terhadap lagunya.

Kita kemudian menilai apakah perubahan tersebut memperkaya atau mengaburkan gagasan.
Karena itu, kemampuan menggunakan AI tidak cukup diukur dari kepandaian menulis perintah atau prompt. Penggunanya perlu mampu mengenali bagian yang berhasil, menemukan bagian yang lemah, dan menentukan apa yang harus diperbaiki.

Bahkan, ada risiko bahwa kita terlalu cepat puas karena hasilnya terdengar bagus. Sesuatu yang semula terasa mengesankan belum tentu bertahan setelah didengarkan berulang kali. Kepekaan artistik diperlukan untuk membedakan daya tarik sesaat dari kualitas yang ingin dipertahankan.

Saya tidak merasa perlu buru-buru memutuskan apakah setiap hasil AI pantas disebut karya seni. Untuk pembahasan ini, lebih berguna menelusuri kontribusi manusia: gagasan apa yang dibawanya, keputusan apa yang diambilnya, dan bagaimana ia membentuk hasil akhir.

Perubahan pekerjaan kreatif

Persoalan serupa muncul dalam desain grafis dan produksi materi komunikasi. Bayangkan sebuah perusahaan membutuhkan lagu iklan atau identitas visual. Kehadiran AI memungkinkan sebagian proses produksi dilakukan lebih cepat dan dengan biaya lebih rendah.

Namun, kebutuhan perusahaan tidak selesai ketika sebuah berkas berhasil dibuat. Seseorang tetap harus memahami pesan merek, karakter audiens, dan mutu hasil yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dari sini muncul kemungkinan perubahan peran. Musisi, desainer, dan pekerja kreatif dapat mengambil tanggung jawab lebih besar sebagai pengarah, penyunting, serta penilai hasil produksi berbantuan AI. Pengetahuan seni mereka menjadi dasar untuk mengambil keputusan.

Peran tersebut dapat dijalankan di perusahaan, studio, agensi, maupun secara mandiri. Kita tidak perlu menganggap bahwa masa depan semua seniman harus berada di kantor. Yang berubah adalah susunan tugas dan kemampuan yang dibutuhkan dalam sebagian pekerjaan.

Kajian ILO–NASK tahun 2025 menilai transformasi pekerjaan sebagai dampak AI generatif yang paling mungkin secara keseluruhan, sebab banyak pekerjaan tetap membutuhkan kontribusi manusia.

Namun, temuan itu tidak menjamin setiap pekerja akan memperoleh peluang yang sama.

Sebagian perusahaan mungkin tetap membutuhkan tenaga ahli. Sebagian lainnya dapat menerima hasil yang dianggap cukup baik dari staf umum. Pesanan tertentu bisa berkurang, harga jasa dapat tertekan, dan kesempatan bagi pekerja pemula mungkin menyempit.

Kekhawatiran seniman karenanya layak didengar. Studi PMP Strategy yang dipesan CISAC pada 2024 memperkirakan 24 persen pendapatan pencipta musik berisiko terdampak pada 2028 dalam kondisi yang dikaji. Angka itu merupakan proyeksi, tetapi mengingatkan kita bahwa peluang teknologi dan kerugian ekonomi dapat hadir bersamaan.

Siapa menikmati manfaatnya?

Adaptasi membutuhkan kesempatan belajar dan biaya. Seruan agar seniman menguasai AI akan terasa kosong apabila seluruh manfaat efisiensi dinikmati perusahaan, sementara pekerja diminta menghasilkan lebih banyak dengan penghargaan yang semakin kecil.

Pendidikan seni perlu memberi ruang bagi penguasaan teknologi baru sekaligus memperkuat pengetahuan bidang, daya kritis, dan kepekaan. Perusahaan perlu menghargai kemampuan mengarahkan dan menilai hasil. Pengembangan AI juga perlu menghormati pencipta yang karyanya digunakan, melalui persetujuan, transparansi, dan imbalan yang layak.

Pengalaman “Bintang Jatuh” membuat saya memahami nilai kolaborasi. Gagasan saya membutuhkan kemampuan orang lain untuk tumbuh. Kehadiran AI kini memperluas pilihan dalam proses itu, sekaligus mengubah hubungan antara gagasan, keterampilan, dan pekerjaan.

Saya menyambut kemungkinan tersebut dengan harapan bahwa lebih banyak orang dapat mewujudkan sesuatu yang selama ini hanya tersimpan dalam kepala. Harapan yang sama perlu diberikan kepada para musisi dan pekerja kreatif: kesempatan untuk berkembang serta memperoleh penghidupan yang layak.

Ketika menghasilkan lagu menjadi semakin mudah, tantangan kita adalah menjaga ruang bagi keputusan artistik dan penghargaan terhadap manusia yang mengambilnya.

Advertisement

Advertisement

Tinggalkan Komentar