Oleh: Sobirin Malian (Dosen Penggiat Literasi)
Ruang publik digital Indonesia sedang mengalami disorientasi parah. Sang “Panglima Akal Sehat”, Rocky Gerung, yang selama hampir sedekade memosisikan diri sebagai oposisi epistemologis tunggal melawan kejutan-kejutan kekuasaan, akhirnya tunduk pada gravitasi politik praktis.
Pelantikannya sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada 2 Oktober 2026 oleh Presiden Prabowo Subianto adalah sebuah antiklimaks dari drama “retorika perlawanan” di Indonesia.
Ini bukan sekadar perpindahan jabatan; ini adalah mutasi genetik dari sebuah figur publik. Rocky yang dulu bertindak sebagai disruptive noise (kebisingan yang mengganggu), kini sukarela masuk ke dalam silent advisory chamber (ruang penasihat yang senyap).
Komodifikasi Diksi dan Ironi User
Selama bertahun-tahun, Rocky Gerung memproduksi diksi seperti “dungu”, “oligarki”, dan “fasisme baru” sebagai komoditas perlawanan yang dikonsumsi jutaan pengikutnya di YouTube dan media sosial. Kanal digitalnya menjadi oasis bagi publik yang dahaga akan kritik tajam. Namun, argumen etis yang ia sampaikan pasca-pelantikan justru menyingkap ironi terbesar.
Rocky berapologi bahwa Wantimpres memiliki “kedudukan etis, bukan teknis” dan menyebut Presiden sebagai user (pengguna) dari pertimbangannya. Di sinilah letak pergeseran radikal tersebut:
• Dulu: User utama Rocky adalah publik, rakyat yang bingung dengan Omnibus Law, pemotongan TKD, hingga megaproyek IKN.
• Sekarang: User tunggalnya adalah Presiden.
Berdasarkan UU No. 19/2006, nasihat Wantimpres bersifat rahasia. Dengan kata lain, “akal sehat” yang dulu diobral gratis di ruang publik, kini telah dinasionalisasi oleh Istana untuk konsumsi eksklusif penguasa.
Strategi Sun Tzu: Jinak dalam Dekapan
Langkah Presiden Prabowo Subianto adalah replika sempurna dari strategi politik klasik: “Keep your friends close, and your critics closer” (Dekati temanmu, tapi dekati lagi pengkritikmu). Dengan merangkul kritikus paling bising ke dalam lingkaran dalam, Istana berhasil melakukan kooptasi linguistik.
Istana tidak perlu membungkam Rocky dengan jeruji besi; mereka cukup membungkamnya dengan protokoler dan sumpah jabatan. Ketika pengeras suara digital itu dicabut colokannya dari dunia maya dan dipindahkan ke ruang rapat tertutup, volume kegelisahan rakyat otomatis mengecil.
Kematian Kredibilitas Oposisi Tanpa Beban
Prediksi para akademisi, termasuk pakar komunikasi Henri Subiakto, kini menghadapi ujian realitas. Kehilangan terbesar Rocky bukan pada jabatannya, melainkan pada kredibilitasnya.
Dulu, setiap kritik Rocky dianggap tulus karena ia berdiri di luar pagar tanpa beban. Di masa depan, jika Rocky berbicara membela kebijakan pemerintah, publik tidak akan lagi melihatnya sebagai suara “akal sehat”, melainkan sebagai artikulasi dari “akal Wantimpres”. Ia telah kehilangan hak istimewanya sebagai pengamat independen yang tidak bisa dipecat.
Kesimpulan: Dari Lonceng Menjadi Jam Dinding
Jika dianalogikan, Rocky Gerung yang dulu adalah lonceng raksasa di menara kota—berisik, mengguncang, dan terdengar oleh sekampung halaman—kini telah berubah menjadi jam dinding mewah di kamar tidur Presiden. Ia tetap berdetak, ia tetap bekerja dengan presisi, tetapi suaranya hanya boleh didengar oleh sang pemilik kamar.
Sejarah akan mencatat tanggal 2 Oktober 2026 sebagai hari di mana retorika “akal sehat” resmi diberi stempel stiker dinas Istana. Perjalanan dari pemberisik menjadi pembisik ini adalah pengingat pahit bagi publik: dalam politik Indonesia, pada akhirnya semua kritik punya harga, dan semua kebisingan punya batas akhir.










