Oleh : Amin Mudzakkir
STF Driyarkara adalah kampus yang agak lain. Sementara kampus-kampus lain menyelenggarakan wisuda setiap tahun (bahkan dalam setahun bisa beberapa kali), kampus ini suka-suka. Saya tidak tahu kapan STF terakhir kali melakukannya, tetapi yang pasti kemarin siapapun yang lulus setelah 2016 boleh mengikuti kegiatan wisuda. Itu pun dibatasi karena keterbatasan tempat. Saya sendiri lulus S3 tiga tahun lalu, tetapi baru kemarin mengikuti kegiatan wisuda secara sukarela.
Dalam banyak hal lainnya, STF Driyarkara juga agak lain. Misalnya ketika kampus-kampus lain mengejar publikasi Scopus, kampus ini terlihat santai-santai saja. Bagi lulusan S3, naskah disertasi memang harus diterbitkan menjadi buku untuk mendapatkan ijazah. “Biar dibaca sehingga berguna bagi orang banyak”, begitu alasannya.
Saya tidak tahu dari mana sikap agak lain kampus yang awalnya merupakan bagian dari formasi pendidikan calon pastur Katolik itu berasal. Mungkin karena mereka belajar filsafat dan teologi atau mungkin juga karena faktor lain. Mereka seperti berada di luar lintasan arus neoliberal.
Saya juga tidak tahu apakah kampus seperti ini bakal bertahan. STF Driyarkara seperti sekolah alternatif bagi mereka yang memang ingin agak lambat menjalani hidup. Tidak tergesa-gesa. Angkatan saya ketika S2 di kampus ini juga rata-rata menyelesaikan program pendidikan dalam waktu 4-5 tahun, bahkan lebih, setelah sebelumnya harus menyelesaikan matrikulasi satu tahun lamanya.
Jelas kampus yang berlokasi di “Jembatan Serong” itu akan menghadapi tantangan dari sistem pendidikan tinggi neoliberal yang sangat keras. Dunia hari ini tidak suka model sekolah alon-alon asal kelakon seperti demikian. Makanya beberapa waktu lalu sempat ada isu STF Driyarkara akan dilebur ke dalam Universitas Atmajaya, meski hingga hari ini tidak pernah terjadi.
Orientasi publik kampus yang oleh tukang ojek lebih dikenal sebagai “oh yang di belakang SD Melania ya” itu sangat kuat, tercermin dari figur utamanya, yaitu Franz Magnis-Suseno. Kadang saya berpikir nama lain dari STF Driyarkara adalah STF Franz Magnis-Suseno. Pastor sepuh yang tahun ini hampir berusia 88 tahun itu mengajar dari awal kampus berdiri hingga sekarang. Ini sih udah the core of the core-nya agak lain. Tidak hanya mengajar, Romo Magnis masih aktif menyuarakan pandangan politik dan moral di publik secara persisten, hampir tanpa ampun, seperti bisa kita saksikan di Mahkamah Konstitusi kemarin itu. Lagi-lagi saya tidak tahu apa yang membuat beliau tetap sehat dan tangkas, selain pengalaman saya ketika bimbingan menulis disertasi kepada beliau yang pasti tidak bisa dilakukan antara jam 13-14. “Itu adalah jadwal saya tidur siang!”, demikian penjelasannya dalam bahasa Indonesia logat Jerman yang mantap.










