Catatan Bola Marlin Dinamikanto
Kuartet ganas Mbabe, Dembele, Olise dan Barcola dibuat tumpul oleh kuartet pertahanan Spanyol yang digalang Laporte, Cubarsi, Cucurela dan Pedro Poro. Banteng ketaton sebagaimana diuangkapkan pundit nasional Yusuf Kurniawan berhasil dibunuh oleh Matador yang begitu tenang, cerdas dan mematikan.
Sebelumnya, Arsen Wenger, pensiunan pelatih legendaris Arsenal berkewarganegaraan Perancis mengingatkan, tidak ada satu pun tim nasional di muka bumi ini bisa mengalahkan Perancis kecuali Spanyol. Sejarah telah membuktikan supremasi Spanyol atas Perancis. Dari 40 pertemuan Spanyol bisa memenangkan 17 laga seri 10 dan hanya kalah 13 kali. Dalam dua pertemuan terakhir Mbape Cs juga dikandaskan oleh Lamine Yamal Cs. Di La Liga pun Mbape (Real Madrid) dikalahkan Lamine Yamal (Barcelona) dengan skor 6-1.
La Fuente pun sadar dengan daya ledak tim Didier Deschamps. Untuk itu Spanyol lebih taktis dan sengaja tidak menempatkan Lamine Yamal sebagai pusat permainan. Yamal sang bintang utama La Furia Roja taat dengan skema permainan yang diinginkan pelatih. Meskipun bocah ajaib yang baru berusia 19 tahun pada 13 Juli, atau dua hari sebelum pertandingan, tampak kurang bahagia meskipun timnya memenangkan pertandingan. Hingga La Fuente dan sang kapten Rodri turun langsung menghiburnya.
Memang sepanjang permainan Yamal yang bermain penuh 90 menit jarang mendapatkan operan dari rekannya. Sekali-kalinya dapat operan dia langsung mengoper bola ke rekan lainnya. Jarang terlihat gerakan eksploratif sebagaimana sering dia ekspos dalam permainan sebelumnya. Yamal, meskipun berkontribusi langsung atas terciptanya gol lewat tendangan penalti Oyarzabal setelah dia dijatuhkan Lucas Digne di kotak penalti. Tapi sepanjang 90 menit Yamal tidak banyak melakukan eksplorasi. Bukan karena cedera, lelah atau penurunan performa. Melainkan karena tuntutan taktis yang mesti dipatuhinya.
Selain sukses Spanyol yang mampu menjinakkan Olise, Barcola dan Mbape, cederanya William Saliba sebelum babak I berakhir juga semakin memperburuk keadaan.
Gol kedua Spanyol tatkala Olmo merangsek pertahanan dan meskipun terjatuh masih mampu mengirim bola ke ruang kosong yang mampu disambar Pedro Poro menjadi gol, tidak terlepas dari kacaunya barisan pertahanan yang ditinggalkan pemain kunci William Saliba. Lucas Digne terlambat menutup ruang membuat Pedro Poro hanya dengan tiga sentuhan mampu mengecoh Maignan. Gol ini membuat Perancis semakin frustrasi untuk menyamakan kedudukan.
Akhirnya, Spanyol berhasil melanjutkan mimpi mengulangi pencapaian Xavi, Iniesta dan Busquets pada 2010. Apakah dia akan bertemu Inggris untuk mengulangi final Euro 2024 atau mewujudkan Finalisamo yang mempertemukan juara Eropa dan Amerika Latin yang gagal digelar akibat padatnya kompetensi, dengan menantang juara dunia 3 kali Argentina? Kita tunggu malam nanti.
Pegangsaan, 15 Juli 2026
Advertisement










