
Oleh: Pril Huseno
Tersebutlah, seorang lansia yang tengah kepingin sekali ngopi di malam hujan kawasan Taman Puring Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sebutlah Namanya Pak Karim. Bapak tua ini sedang menjaga anaknya yang tengah dirawat di rumah sakit swasta di area tersebut.
Keluar hospital, tengok kiri kanan, ia berjalan menyusuri tepian trotoar menuju sebuah warkop kecil. Tujuannya memang mencari kopi hitam panas agar tenggorokan terasa lebih segar. Tapi langkahnya kendur setelah melihat warkop tersebut penuh pengunjung. Kebanyakan pula bapak-bapak. Malas bertegur sapa permisi minta kursi, lansia ini meneruskan langkah ke timur. Jumpalah di sebelah kanan sebuah kafe besar yang mayoritas diisi anak muda.
Sejenak bapak ini ragu mau masuk atau tidak, karena baginya, kumpul ngopi dengan anak anak muda bak masuk ke negeri tak bertuan. Tiada seorangpun yang dikenal untuk disapa atau diajak ngobrol.
Malang, kakinya malah terus saja melangkah ke arah pintu masuk, hingga tiba di depan customer service. Dia merasa its no point to return…
‘’Mari pak, Bapak mau pesan apa?’’ tanya anak muda laki laki CS ramah.
Si lansia ini setelah melihat daftar menu yang tertegak di sebelah mesin hitung kemudian minta waktu untuk membaca menu yang tersedia.
Sejenak pak tua ini bingung. Nama-nama menu yang tertera satupun tak ada yang dikenalnya. 99 % nama asing berbahasa Inggris yang tak familiar di matanya.
Di kampungnya di Jogja, bapak kita ini biasanya cukup memesan satu kopi hitam panas porsi kecil kepada si akang penjaga warung angkringan. Atau susu jahe panas, aman sudah.
Agak lama pak tua ini membaca dengan tatapan kosong, sampai matanya tertumbuk pada tulisan di menu: “human coffee’’—..
‘’Ah, ini saja, mungkin ini kopi panas enak, karena akrab dengan para pengunjung yang rata-rata manusia di sini…’’ pikir si bapak.
‘’Oke mas, saya pesan yang ini ya,’’ katanya kepada mas CS.
‘’Baik pak, tunggu sebentar nanti dipanggil …!’’
Tak berapa lama dan belum sempat duduk, CS satunya seorang gadis cantik memanggil namanya untuk mengambil pesanan.
Namun apa lacur, pak tua kita tak sempat berkata-kata lagi, yang disajikan si gadis ternyata semacam cappuccino coffee berbatu es.
‘’Wah, bukan ini yang saya mau…,’’ pikir pak tua. Kok malah kopi pakai batu es?
Pak tua kita mau protes tapi keburu menyadari kesalahannya.
‘’Wahai Karim…., mengapa tak kau pesan tadi kopi hitam panas..?’’ keluhnya dalam hati.
Rupanya yang Namanya ‘’human coffee’’ itu adalah sejenis cappuccino berbatu es. Sesal kemudian tak berguna. Seharusnya tadi dia lantang saja menyebut : ‘’mau minum kopi hitam panas, ada gak?’’ begitu.
Tapi ya sudahlah, harganya pun tak kaleng-kaleng sekira Rp35,000 segelas besar. Lumayan, pikir bapak tua.
Takut malu karena salah pesan, pak tua kita langsung menuju tempat duduk tinggi di tengah-tengah anak muda. Untungnya posisi pas di tepi jendela kaca yang menghadap jalan raya. Namun tak urung pak tua jadi malu juga karena di sebelah luar kaca duduk para anak muda lelaki dan perempuan. Apa mau dikata.
‘’Nasi sudah jadi bubur. Tak mau lagi aku ngopi sendirian di tempat seperti ini,’’ gumamnya dalam hati.
Rasa dingin karena meneguk es kopi susu, begitu menusuk sampai ke tulang. Maklum, sudah gaek dipaksa harus menenggak minuman dingin berbatu es. Tak ada nikmat-nikmatnya. Maunya segar dan hangat karena kopi hitam panas, malah jadi begini. Pak tua kita mengutuki kebodohannya sambil memicingkan mata, tiap kali menyeruput minuman.
Lansia dan Alienasi Kelas Sosial
Lansia di Indonesia, apalagi yang berumur 60 tahun ke atas, kerap digolongkan sebagai kelas Masyarakat yang tidak lagi produktif dan hanya perlu diberikan bantuan sosial, serta kasih sayang keluarga. Urusan produktivitas, tak usahlah lagi diharapkan. Baik karena memang stamina fisik tak memadai lagi, juga dipandang sudah sulit untuk fokus jika menuntut harus menelurkan ide-ide brilian atas satu dan lain hal.
‘’Lansia itu, tugas negara…’’ kata petinggi negeri.
Oleh karenanya, perlu diberikan banyak insentif. Antara lain, diskon 40% atas biaya naik kereta api antar kota dan transportasi lokal seperti Trans Jakarta.
Tapi, perkara menangani lansia agaknya perlu bijak dan dicarikan solusi jitu agar ‘’poro sepuh’’ seperti kisah pak Karim di atas, tidak merasa terasing dan terpojokkan pada situasi-situasi tertentu. Sungguh, istilah terpinggirkan, terasingkan atau teralienasi bukannya mau gegayaan jadi Marxian, tapi memang begitulah yang terjadi.
Padahal perkara pak Karim, sebetulnya sederhana. Dia hanya lupa mengucapkan ‘’pesan kopi panas manis’’, dan terlanjur dibuatkan segelas es kopi susu macam cappuccino ice coffee. Itu lebih karena, dia tak terbiasa memasuki ranah orang muda zaman Gen Z seperti saat ini. Bagi pak Karim, memasuki kafe mewah seperti itu adalah kejadian langka. Biasanya di Jogja ia bisa begitu jika dibawa oleh anak tertuanya untuk ngopi di tempat-tempat keren. Ia tinggal duduk, pesanan ditulis oleh sang putra yang menanyakan Ayah mau minum apa, dan setelah itu kopi siap di tempat duduk.
Nah, pengalaman-pengalaman itu setidaknya memberikan beberapa Kesan, Pertama, gaya berjualan anak muda saat ini rata-rata tidak lagi mengikuti kaidah Bahasa Indonesia. Dulu, di zaman pak Harto sempat mewajibkan semua tulisan marketing ataupun papan nama, bahkan nama orang, harus berbahasa Indonesia. Sampai-sampai saudara-saudara kita WNI keturunan Tionghoa harus mengganti nama aslinya dengan nama Indonesia.
Sekarang, coba kita lihat, di mana-mana sudah berubah. Kata idiolog Iran Ali Syariati ‘’semua sudah terbaratkan’’. Rata-rata café anak muda berisi menu berbahasa Inggris. Bahasa gaul anak Jaksel pun sudah menempelkan idiom-idiom English dalam keseharian Bahasa gaulnya. Padahal, bangsa Jepang tidak mau mengubah nama-nama mereka ke Bahasa Inggris, begitu pula semua daftar isian menu.
Huruf Kanji pun ketat dipergunakan, dan jarang menggunakan huruf Latin. Begitu pula orang di China daratan. Mungkin mereka sadar, urusan Bahasa adalah perihal strategis pertahanan keamanan negara. Boleh kita baca bagaimana bangsa Jepang dan Bangsa Ceko berjuang mempertahankan Kedaulatan Bahasanya masa awal-awal Restorasi Meiji ataupun bangsa Ceko Ketika berjuang mempertahankan Bahasa Cekoslovakia Ketika dijajah Jerman pada abad ke 15.
Urusan Bahasa ini, memang sudah memuai, luntur jauh ketimbang zaman-zaman bulan Bahasa, Yus Badudu dan lain-lainnya di masa lalu.
Pak Karim dan lansia-lansia lainnya kebanyakan adalah juga korban praktik berbahasa yang ‘’terbaratkan‘’ itu. Paham saja tidak dengan nama-nama menu berbahasa Inggris, bagaimana mau pesan….
Otomatis, dari segi mau ngopi saja, para lansia sudah teralienasi secara kategori sosial di café-café lucu itu.
Kedua, ruang-ruang para orang tua kita, memang terasa menyempit. Wilayah ‘’main’’ mereka hanya di seputaran rumah, kebun, rerumputan halaman dan menjadi MC, alias Momong Cucu. Pak Karim juga merasakan itu. Dulu, kala malam hari ia acap kali kumpul kongkow dengan rekan-rekan mudanya di warung angkringan atau warung kopi sederhana. Bisa tertawa sepuasnya. Kini, para lansia itu sudah ogah diajak ngopi malam. ‘’Masuk angin,’’ kata mereka.
Well, apakah kita para pembuat kebijakan publik juga memikirkan ruang-ruang kreatif atau ruang-ruang sosialisasi bagi para lansia? Rasanya jarang kita baca atau dengar. Jadi, para lansia ini dibiarkan menghitung hari di rumah, atau seputaran halaman rumah sambil jadi MC. Upaya-upaya kreatif untuk memancing mereka agar bisa berkreasi dengan mengagumkan, menjadi nihil. Walhasil, makin banyak para lansia yang cepat sakit, karena kesepian. Alienasi sosial seperti ini memang menjadi runyam buat para lansia. Akan bijak sekali jika para Walikota, Gubernur juga memikirkan upaya merawat semangat para lansia ini. Ingatkah, bahwa Kolonel Sanders penemu ayam KFC, justru sukses ketika di usia 73 tahun? Chat GPT menulis : Kolonel Sanders mulai sukses membangun waralaba KFC ketika usianya sekitar 65 tahun, setelah memulai upaya penjualan resep ayamnya di tahun 1950-an, dan menjual perusahaannya saat berusia 75 tahun dengan nilai jutaan dolar, menunjukkan kesuksesan besar terjadi di usia senja.
Itu dua hal saja dulu yang dapat diambil catatan sementara.
Tawaran dari Yogyakarta
Di Yogyakarta, para budayawan dan sastrawan yang tergabung dalam KOSETA (Koperasi seniman dan budayawan Yogyakarta) menghidupkan Koperasi KOSETA setelah sekira 10 tahun tidak aktif. Para seniman dan budayawan tersebut, rata-rata telah berusia lanjut. KOSETA juga mendapuk Yani Saptohoedoyo sebagai sesepuh dan Sastrawan-eks wartawan Sigit Sugito sebagai ketua. Budayawan pemikir Taufik Rahzen ikut menjadi salah satu Pembina di KOSETA.
Aktivitas KOSETA saat ini amat beragam dan menjadi tempat berkumpulnya para lansia dan seniman muda di Yogyakarta dengan kegiatan-kegiatan produktif. Belum lama, komunitas budayawan itu mengadakan acara Pengumpulan Donasi dan Doa Bersama untuk para korban bencana di Aceh dan Sumatera. Melibatkan para mahasiswa Aceh, Sumut dan Sumbar dalam acara yang digelar meriah, lengkap dengan aneka pertunjukan budaya dari mahasiswa asal masing-masing wilayah terdampak bencana.
Beberapa hari lalu juga KOSETA melaksanakan ziarah dan temu pendapat di areal makam para seniman dan budayawan Yogyakarta di makam seniman Girisapto, Imogiri. Ada patung besar budayawan Sapto Hoedoyo di gerbang masuknya. Kolaborasi para budayawan dan seniman senior dan junior di KOSETA ke depan kabarnya akan semakin trengginas dalam melakukan kerja-kerja budaya. KOSETA Juga menggagas peringatan 200 tahun Perang Diponegoro. Acara berwibawa yang melibatkan banyak kalangan di Yogyakarta.
Yogyakarta juga punya forum Sastra Bulan Purnama (SBP). Forum tempat berkumpulnya para sastrawan Yogyakarta setiap bulan sekali. SBP ini telah 14 tahun eksis mengadakan aneka kegiatan sastra. Para lansia sastrawan ataupun simpatisan pemerhati sastra kerap berkumpul di even-even SBP.
SBP juga menginisiasi penulisan buku tentang para lansia. Sebuah Upaya menghargai semangat hidup para lansia di usia lanjut, dengan kerja-kerja kreatif. Para penulis buku itu adalah para lansia itu sendiri. Juga mengadakan diskusi buku tentang lansia di Gedung DPRD DIY.
SBP pun punya koordinasi dengan PWS (Persatuan Wartawan Sepuh) Yogyakarta. PWS ini belum lama juga mengadakan diskusi buku di Lokasi Museum Sandi Yogyakarta. Jadi, para wartawan senior berkumpul mengabarkan keberadaan masing-masing dan masih piawai beradu pendapat cerdas.
Penutup
Para orang tua seperti Pak Karim dan para lansia lainnya, harus diberi banyak ruang untuk berinteraksi sesamanya. Tawaran dari Yogyakarta mengisyaratkan, minimal harus ada upaya dari para lansia sendiri untuk mengoranisasikan diri sendiri bersama sesama lansia. Dari kalangan lansia tersebut masih amat banyak potensi yang bisa dimanfaatkan untuk kerja kerja kreatif dan bermutu. Dukungan dari banyak pihak atau stakeholder juga dibutuhkan untuk menjadi stimulan kegiatan para lansia. Amat dihargai upaya dari sementara Perusahaan yang masih mau mempekerjakan karyawan yang telah berusia 60 tahun ke atas, baik di aras nasional maupun lokal kedaerahan.
Yogyakarta, 26 Januari 2026
Telah ditayangkan di Kompasiana.com










