Oleh: Ariyo Bimmo
Peneliti Kebijakan Publik dan Mahasiswa Program Doktor FISIP Universitas Padjadjaran.

Melihat wisatawan asing berbelanja di Sarinah setelah konser Kanye West, atau Ye, saya ikut senang. Ada produk Indonesia yang dibawa pulang, ada transaksi yang menghidupi usaha, dan ada kesempatan bagi Jakarta untuk dikenal melalui pengalaman yang menyenangkan. Namun, pemandangan itu juga mengingatkan kita bahwa manfaat ekonomi sebuah pertunjukan perlu dipersiapkan jauh sebelum panggung didirikan.

Konser menghadirkan alasan untuk datang. Kesiapan kota menentukan apakah pengunjung akan tinggal lebih lama, mengunjungi tempat lain, lalu membelanjakan uangnya. Di antara keduanya terdapat pekerjaan panjang yang melibatkan promotor, pemerintah, pengelola transportasi, hotel, dan pelaku usaha.

Dalam kasus Ye, ada pelajaran tambahan tentang kejelian membaca peluang. Kementerian Ekonomi Kreatif, melalui keterangannya pada September 2026, menyebut Jakarta sebagai satu-satunya kota di Asia Tenggara dan Oseania yang dikonfirmasi dalam tur tahun ini.

Promotor juga menyampaikan adanya minat penonton dari Australia, Singapura, Malaysia, serta sejumlah negara lain.

Posisi seperti itu mengubah cakupan pasar. Sebuah konser di Jakarta dapat melayani permintaan dari beberapa negara sekaligus. Penggemar yang bersedia menyeberangi batas negara untuk menonton artis kesayangannya berpotensi menjadi tamu hotel, pelanggan restoran, dan pembeli produk lokal.

Kita sering melihat Singapura mengambil posisi tersebut. Enam pertunjukan Taylor Swift pada Maret 2024, dengan Singapura sebagai satu-satunya persinggahan di Asia Tenggara, memperlihatkan bagaimana konser dapat dijadikan tujuan perjalanan regional. Pengalaman itu semestinya mendorong Indonesia lebih aktif menyiapkan penawaran yang kompetitif.

Peluang juga dapat muncul ketika pilihan lokasi pertunjukan terbatas. Australia pernah membatalkan visa Ye pada 2025, terkait lagu dan pernyataan antisemitnya. Keterbatasan pilihan lokasi dapat menciptakan pasar bagi kota lain, meskipun besarnya perpindahan permintaan tetap perlu dibuktikan melalui data penonton. Kejelian membaca perubahan peta pertunjukan harus disertai penilaian atas risiko penyelenggaraannya.

Untuk pasar Australia, konser di Jakarta membuka kemungkinan perjalanan dengan tujuan yang berbeda. Kita ingin pengunjung mengenal pengalaman perkotaan Indonesia, termasuk kuliner, belanja, museum, dan kehidupan budayanya. Jakarta layak ditawarkan sebagai tujuan yang memiliki daya tariknya sendiri.

Advertisement

Kejelian semacam ini perlu menjadi pekerjaan rutin.

Kementerian yang menangani ekonomi kreatif dan pariwisata, bersama perangkat daerah terkait, perlu membangun komunikasi yang teratur dengan promotor serta agen artis internasional.

Informasi mengenai rencana tur, jeda jadwal, penjualan tiket, dan asal penggemar harus diolah menjadi dasar mengambil keputusan.
Pemerintah tidak perlu mengambil alih pekerjaan promotor.

Kontribusinya adalah memastikan kepastian perizinan, koordinasi keamanan, kelancaran kebutuhan produksi, dan pelayanan kota. Sementara itu, keputusan komersial tetap memerlukan perhitungan bisnis yang sehat. Bila dukungan anggaran publik dipertimbangkan, manfaat tambahannya bagi masyarakat harus dapat diperiksa.

Kita juga perlu terus memperbarui pemahaman tentang selera penonton. Boyz II Men, Guns N’ Roses, dan Bon Jovi memiliki penggemar serta nilai komersialnya sendiri. Konser nostalgia tetap mempunyai tempat. Namun, kalender pertunjukan perlu memberi ruang yang cukup bagi artis yang sedang berada di puncak percakapan generasi sekarang.

Ukuran relevansi tidak cukup ditentukan oleh nama yang akrab bagi pengambil keputusan. Data pendengar lintas negara, pertumbuhan penggemar, rekam penjualan tiket, dan kesediaan melakukan perjalanan dapat membantu membaca permintaan. Popularitas pun perlu dibedakan dari kelayakan mendatangkan artis dengan biaya tertentu.

Sesudah berhasil menarik pengunjung, pekerjaan berikutnya adalah menghubungkan mereka dengan ekonomi kota. Di sinilah Sarinah menjadi contoh yang menarik. Transformasinya yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada Juli 2022 meneruskan gagasan Sarinah sebagai tempat perdagangan produk Indonesia. Revitalisasi tersebut menyediakan ruang yang lebih menarik untuk mempertemukan karya lokal dengan pembeli.

MRT dan angkutan umum memperkuat kemungkinan pertemuan itu. Sarinah dapat dijangkau melalui kawasan Bundaran HI dengan melanjutkan perjalanan dari stasiun MRT. Tersedianya pilihan mobilitas memperluas kesempatan wisatawan menjelajahi kota, menghubungkan tempat menginap dan lokasi pertunjukan dengan pusat perdagangan.

Artinya, investasi transportasi dan pembenahan pusat perdagangan mempunyai hubungan dengan kemampuan kota memperoleh manfaat dari acara internasional. Konser menjadi pemicu kunjungan, sementara infrastruktur dan destinasi yang disiapkan sebelumnya membantu menyebarkan aktivitas ekonomi.

Kesinambungan pembangunan terlihat dalam hubungan tersebut. Pemerintahan berganti, tetapi infrastruktur yang dibangun dan kawasan yang dibenahi dapat terus menghasilkan manfaat ketika dikelola serta dikembangkan. Dukungan pemerintah hari ini terhadap penyelenggaraan acara bertemu dengan hasil pekerjaan tahun-tahun sebelumnya.

Jakarta dan kawasan sekitarnya memiliki pilihan lokasi, antara lain kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta International Stadium, JIExpo, serta ICE di Tangerang. Setiap lokasi mempunyai karakter dan kebutuhan berbeda. Pemilihannya harus memperhitungkan jenis acara, kapasitas, akses, dan kesiapan operasional.

Tantangannya adalah membuat pengunjung mudah bergerak sebelum dan sesudah acara. Jam angkutan umum perlu mengikuti kebutuhan penonton. Informasi perjalanan harus jelas, jalur berjalan kaki aman, dan titik penjemputan tertata. Pengalaman pulang yang melelahkan dapat mengurangi kesan baik dari pertunjukan yang berhasil.

Pelaku usaha lokal juga perlu memperoleh akses yang nyata. Informasi pusat belanja produk Indonesia dapat dimasukkan ke komunikasi resmi acara. Hotel bisa menawarkan tambahan malam menginap dengan kegiatan wisata kota. Promotor dapat membuka kesempatan bagi pemasok lokal yang memenuhi standar produksi.

Dengan demikian, efek pengganda ekonomi memiliki jalur yang konkret. Belanja pengunjung menjadi pendapatan usaha, lalu sebagian pendapatan itu mengalir kepada pekerja dan pemasok. Semakin kuat keterhubungan dengan pelaku ekonomi lokal, semakin besar kesempatan manfaatnya tinggal di dalam negeri.

Pola tersebut perlu berlangsung sepanjang tahun melalui konser, kompetisi olahraga, pameran, dan festival budaya. Kalender yang terencana membantu pengusaha mengatur persediaan serta tenaga kerja. Keragaman acara juga memungkinkan manfaat menjangkau kelompok usaha dan kawasan yang berbeda.

Keberhasilannya perlu diukur melampaui jumlah penonton. Berapa pengunjung dari luar daerah dan luar negeri? Berapa lama mereka tinggal? Berapa belanja di luar tiket, dan berapa bagian yang diterima usaha lokal? Perhitungan juga perlu memperhatikan biaya penyelenggaraan serta dukungan publik agar kita memahami manfaat bersihnya.

Kedatangan wisatawan dapat menambah permintaan ketika sebagian usaha menghadapi tekanan. Bersamaan dengan itu, penguatan daya beli warga tetap harus dikerjakan. Ekonomi kota membutuhkan penduduk yang mampu berbelanja dan pengunjung yang mempunyai alasan untuk kembali.

Kita boleh berbangga ketika wisatawan berbelanja di Sarinah setelah menonton konser. Kebanggaan itu sebaiknya diteruskan menjadi pekerjaan yang teratur: membaca peluang lebih awal, menyiapkan pelayanan kota, dan memperluas keterlibatan usaha lokal. Dengan begitu, manfaatnya masih dirasakan warga setelah penonton pulang.

Advertisement

Tinggalkan Komentar