Oleh: Dr. M. Hatta Taliwang*)
Antara Ragam Jakarta, Register Militer, dan Retorika Politik Populer
Setiap presiden Indonesia mempunyai gaya komunikasi publik yang berbeda. Soekarno kerap dikenang melalui pidato yang retoris, Soeharto melalui tutur yang lebih terkendali dan dipengaruhi budaya komunikasi Jawa, Abdurrahman Wahid melalui humor dan permainan ironi, sedangkan Susilo Bambang Yudhoyono sering diasosiasikan dengan pilihan kata yang formal dan berhati-hati. Penyederhanaan seperti itu berguna sebagai pintu masuk, tetapi tidak boleh dianggap sebagai klasifikasi ilmiah tanpa penelitian terhadap kumpulan pidato yang cukup besar.
Dalam konteks itu, gaya tutur Presiden Prabowo Subianto menarik karena mempertemukan beberapa register yang biasanya dianggap berjauhan. Dalam pidato-pidato publiknya kita dapat menemukan bahasa Indonesia resmi, kosakata militer, bentuk kolokial Jakarta seperti “gue” dan “lu”, kata konkret seperti “maling” dan “nyolong”, humor, sindiran, serta kalimat-kalimat pendek yang konfrontatif. Pertanyaannya bukan sekadar apakah Prabowo “berbahasa Betawi”, melainkan bagaimana berbagai pengalaman sosial dan institusional membentuk repertoar bahasa yang kemudian dipilihnya ketika berbicara kepada khalayak yang berbeda.
Prabowo lahir di Jakarta pada 17 Oktober 1951 dan tercatat bersekolah di TK Sumbangsih pada 1956–1957 sebelum menjalani sebagian besar pendidikan sekolahnya di luar Indonesia, antara lain di Singapura, Hong Kong, Kuala Lumpur, Zürich, dan London. Sumber-sumber berbeda sedikit mengenai tahun persis kepulangan keluarga Prabowo, tetapi jelas bahwa ia telah kembali berinteraksi dengan lingkungan Indonesia menjelang akhir 1960-an dan masuk AKABRI pada 1970.
Tirto.id mencatat bahwa setelah keluarga Sumitro Djojohadikusumo kembali ke Indonesia, Prabowo berkenalan dengan Soe Hok Gie dan beberapa orang dalam lingkarannya. Catatan harian Gie pada 22 Mei 1969 memang menyebut pembicaraan dengan Prabowo mengenai gagasan membentuk Pioneer Corps. Jadi keberadaan Prabowo di lingkungan anak muda dan aktivis Jakarta pada akhir 1960-an mempunyai dasar dokumenter, tetapi menyimpulkan bahwa pada periode inilah “dialek Betawi Prabowo menjadi semakin kental” masih merupakan hipotesis yang belum dapat dibuktikan hanya dari data biografis tersebut.
Hal serupa berlaku untuk pengalaman militernya. Prabowo masuk AKABRI pada 1970, lulus pada 1974, kemudian menjalani karier militer sampai 1998 dengan berbagai penugasan dan jabatan, termasuk di Kopassus dan Kostrad. Karena penugasannya berlangsung di banyak tempat dan tidak terus-menerus di Jakarta, tidak cukup kuat untuk mengatakan bahwa periode 1974–1998 dengan sendirinya mempertebal “bahasa Betawi” Prabowo, tetapi sangat masuk akal untuk menguji apakah kehidupan panjang dalam institusi militer meninggalkan jejak pada cara ia menyusun ujaran.
Dengan pembatasan itu, tesis yang lebih hati-hati dapat diajukan. Gaya Prabowo tampaknya bukan produk satu dialek, melainkan hasil pertemuan beberapa repertoar komunikasi: lingkungan keluarga elite-intelektual, pengalaman internasional, bahasa pergaulan Jakarta, budaya komunikasi militer, dan teknik komunikasi politik kepada massa. Dalam sosiolinguistik, cara melihat seperti ini lebih kuat daripada mencoba mencari satu “asal” tunggal bagi seluruh kebiasaan bicara seseorang.
Langsung dan Minim Eufemisme
Salah satu karakter yang terlihat dalam banyak penampilan publik Prabowo adalah kecenderungan menggunakan proposisi yang relatif langsung. Persoalan yang dalam bahasa birokrasi dapat diterangkan melalui istilah seperti “penyimpangan”, “ketidakefisienan”, atau “penyelewengan pengelolaan keuangan” kadang ia ubah menjadi kosakata sehari-hari seperti “maling”, “nyolong”, atau “akal-akalan”. Dalam sambutan resmi pada PENAS Petani dan Nelayan XVII tahun 2026, misalnya, transkrip Sekretariat Negara merekam ungkapan “sopan-sopan tetap maling” dan pembicaraan mengenai uang yang “nyolong dari rakyat”.
Namun, sifat langsung tersebut tidak otomatis dapat disebut sebagai sifat “orang Betawi”. Menariknya, dalam pidato yang sama Prabowo sendiri mengatakan bahwa cara berbicara perlu disesuaikan dengan hadirin, bahkan menyebut bahwa ketika berbicara dengan petani dan nelayan ia perlu berbicara lebih keras. Pernyataan itu justru dekat dengan teori audience design dari Allan Bell, yang menjelaskan bahwa penutur dapat mengubah gaya bahasa sebagai respons terhadap siapa pendengarnya.
Dengan demikian, directness Prabowo sebaiknya dipahami sebagai strategi komunikasi sekaligus bagian dari repertoar personalnya. Prabowo memang gemar berpindah antara bahasa formal dan bahasa sangat kolokial sesuai konteks dan audiensnya.
“Lu–Gue” sebagai Penanda Hubungan Sosial
Penggunaan “gue/gua” dan “lu/lo” memang sangat diasosiasikan dengan percakapan Jakarta. Penelitian tentang Jakarta Indonesian menjelaskan bahwa ragam ini berkembang sebagai varietas kontak yang antara lain dipengaruhi Betawi dan bahasa Indonesia, dan bentuk “gue–lo” mempunyai makna sosial serta regional tertentu.
Prabowo sendiri masih memakai bentuk tersebut dalam kapasitasnya sebagai presiden. Dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah pada Februari 2026, transkrip resmi mencatat kalimat “lu jangan menantang gue lo” ketika ia berbicara mengenai mantan pimpinan BUMN. Pada September 2026, ia bahkan bercanda mengenai kritik terhadap kebiasaannya menggunakan “lu-gue”, yang menunjukkan bahwa pilihan register bahasa tersebut bukan sesuatu yang tidak disadarinya.
Meski demikian, “lu–gue” tidak otomatis menciptakan hubungan yang sepenuhnya horizontal. Kajian tentang pronomina Indonesia menunjukkan bahwa pilihan kata ganti membawa informasi mengenai kedekatan, posisi sosial, generasi, dan identitas regional, tetapi hubungan tersebut sangat bergantung pada konteks. Seorang presiden yang mengatakan “lu” kepada orang lain tetap berbicara dari posisi institusional yang berbeda, sehingga efeknya lebih tepat disebut pengurangan jarak formal daripada penghapusan hierarki.
Di sinilah Communication Accommodation Theory dari Howard Giles membantu membaca fenomena tersebut. Teori ini menerangkan bahwa penutur dapat menyesuaikan cara berbicara untuk memperkecil atau memperbesar jarak sosial dengan lawan bicara. Penggunaan register kolokial oleh seorang pejabat tinggi karena itu dapat berfungsi sebagai bentuk convergence, yakni mendekatkan citra komunikasinya kepada bahasa sehari-hari audiens, walaupun posisi kekuasaannya sendiri tidak berubah.
Konkret Dibandingkan Abstrak
Ciri lain yang terlihat adalah kecenderungan menggunakan kata yang menunjuk tindakan secara langsung. Dibandingkan mengatakan “terdapat penyalahgunaan sumber daya publik”, bentuk seperti “ada yang nyolong” mengurangi tingkat abstraksi dan segera menghadirkan pelaku, tindakan, serta penilaian moral. Penggunaan kata “maling” dalam beberapa pidato resmi menunjukkan bahwa kecenderungan tersebut bukan hanya ilustrasi hipotetis, tetapi benar-benar terdapat dalam repertoar publik Prabowo.
Secara retoris, bahasa konkret mempunyai keuntungan karena menurunkan beban pemrosesan pesan. Pendengar tidak perlu menerjemahkan istilah institusional seperti “penyelewengan”, “maladministrasi”, atau “penyalahgunaan kewenangan” ke dalam gambaran tindakan yang lebih sederhana. Akan tetapi, konsekuensinya adalah kompleksitas masalah dapat berkurang ketika satu persoalan institusional yang mempunyai banyak sebab diringkas menjadi kategori moral sederhana seperti “maling” atau “orang jahat”.
Karena itu, bahasa konkret bukan ukuran tingkat intelektualitas pembicara. Ia merupakan pilihan register yang dapat digunakan baik oleh orang berpendidikan tinggi maupun rendah, tergantung tujuan komunikasinya. Pertanyaan analitis yang lebih relevan bukan apakah bahasa itu “pintar” atau “tidak pintar”, melainkan informasi apa yang menjadi lebih mudah dipahami dan nuansa apa yang hilang akibat penyederhanaan tersebut.
Hiperbola dan Ekspresi Emosional
Prabowo juga sering menggunakan ekspresi yang mempunyai intensitas emosional tinggi. Kalimat pendek, pengulangan, pertanyaan retoris, perubahan volume suara, dan kosakata evaluatif dapat membuat pidato terasa seperti percakapan langsung daripada pembacaan dokumen resmi. Unsur ini tampak berulang dalam berbagai penampilan publik dan karena itu dapat diperlakukan sebagai karakter retoris yang dapat diamati, bukan semata-mata kesan pribadi.
Ekspresivitas merupakan fenomena yang terdapat dalam banyak tradisi tutur, dalam komunikasi massa, dan dalam retorika politik di berbagai negara. Bahwa ekspresivitas tersebut kompatibel dengan ragam percakapan Jakarta yang akrab baginya, kemudian diperkuat oleh pengalaman berpidato dan budaya komunikasi politik.
Dari sudut political communication, emosi juga berfungsi menjaga perhatian khalayak. Pesan yang dipersonalisasi melalui kemarahan, humor, kegembiraan, atau rasa heran lebih mudah tampil sebagai pengalaman langsung pembicara daripada sebagai rumusan teknokratis. Efektivitasnya tentu bergantung pada audiens, karena gaya yang dianggap autentik oleh satu kelompok dapat dianggap berlebihan oleh kelompok lain.
Humor, Celetukan, dan Pergantian Suasana
Humor merupakan bagian lain yang sering hadir dalam pidato Prabowo. Ia dapat bergerak dari pembicaraan serius menuju celetukan, imitasi percakapan, komentar terhadap wartawan, atau komentar mengenai dirinya sendiri, lalu kembali ke agenda utama. Pola ini menciptakan kesan bahwa pidato tidak seluruhnya bergerak melalui naskah formal, meskipun kita tidak dapat mengetahui hanya dari penampilan publik bagian mana yang benar-benar spontan dan bagian mana yang telah menjadi kebiasaan retoris.
Hubungan antara humor Prabowo dan budaya tutur Betawi dapat diajukan sebagai kemungkinan pengaruh, tetapi bukan sebagai fakta kausal. Tradisi Betawi memang mengenal humor dalam berbagai praktik budaya, termasuk dalam representasi jawara dan pertunjukan Palang Pintu, tetapi keberadaan kemiripan tidak membuktikan hubungan langsung dengan pembentukan gaya personal Prabowo. Penelitian mengenai konstruksi jawara Betawi bahkan menunjukkan bahwa unsur humor dapat menjadi bagian dari cara figur jawara kontemporer mendekatkan diri kepada masyarakat.
Karena itu, kata yang tepat adalah “kemiripan repertoar”, bukan “asal-usul yang pasti”. Prabowo tumbuh dalam terlalu banyak lingkungan sosial untuk direduksi menjadi satu tradisi budaya. Pengalaman internasional, keluarga, militer, politik, media, dan kehidupan Jakarta kemungkinan saling bertumpuk dalam membentuk kebiasaan komunikasinya.
Kata Kasar sebagai Penanda Moral
Kata seperti “maling”, “nyolong”, “bodoh”, atau ungkapan konfrontatif dapat terdengar kasar jika dibandingkan dengan norma bahasa birokrasi. Akan tetapi, dalam komunikasi politik, pemilihan kata semacam itu juga mengubah masalah administratif menjadi masalah moral. “Penyalahgunaan anggaran” terutama menjelaskan kategori pelanggaran, sedangkan “maling uang rakyat” sekaligus memberikan penilaian moral terhadap pelakunya.
Fenomena ini dapat dibaca melalui konsep register. Bahasa resmi negara cenderung membutuhkan presisi hukum dan institusional, sedangkan pidato massa dapat memilih kosakata yang lebih cepat menimbulkan evaluasi moral. Karena itu, perbedaan keduanya bukan sekadar “halus versus kasar”, tetapi juga perbedaan fungsi komunikasi.
Literatur mengenai political style memberi tambahan penjelasan. Benjamin Moffitt menunjukkan bahwa sebagian gaya politik populis menggunakan apa yang ia sebut “bad manners”, yaitu pelanggaran terhadap ekspektasi tentang bagaimana seorang politisi seharusnya berbicara atau bertingkah, bersama dengan seruan kepada “the people” dan konstruksi mengenai ancaman atau krisis. Kerangka ini dapat digunakan untuk membaca sebagian retorika Prabowo, tetapi kemiripan gaya tidak dengan sendirinya membuktikan seluruh ideologi atau praktik politiknya bersifat populis.
Unsur “Jago Betawi” sebagai Analogi Budaya
Hubungan antara Prabowo dengan figur “jago Betawi”, yaitu figur yang diasosiasikan dengan keberanian, ketegasan, kemampuan menghadapi lawan, dan posisi sosial tertentu di lingkungan masyarakat. Hubungan tersebut menarik sebagai analogi budaya karena terdapat kemiripan performatif antara figur yang menampilkan keberanian secara terbuka dengan sebagian persona politik Prabowo.
Bahwa terdapat kemiripan simbolik antara sebagian persona Prabowo dan imaji populer mengenai figur jago. Kemiripan itu dapat menjadi alat interpretasi budaya, tetapi bukan penjelasan kausal mengenai bagaimana ia memperoleh gaya bicaranya.
Pengaruh Register Militer
Prabowo menjalani pendidikan AKABRI sejak 1970 dan kemudian berkarier di lingkungan militer selama lebih dari dua dekade sampai 1998. Ia hidup cukup lama dalam institusi yang memiliki pola komunikasi khas, struktur hierarkis, kosakata khusus, dan kebutuhan akan instruksi yang jelas.
Penelitian mengenai register taruna Akademi Militer di Indonesia menemukan karakter bahasa yang singkat, padat, dan tegas. Penelitian lain mengenai register kemiliteran juga menemukan penggunaan kata, frasa, akronim, singkatan, serta intonasi yang dibentuk oleh kebutuhan komunikasi institusional. Karena itu, jika dalam pidato Prabowo ditemukan kalimat pendek, bentuk imperatif, pengulangan instruksi, atau penekanan yang kuat, pengalaman militernya merupakan hipotesis penjelas yang lebih beralasan dibandingkan sekadar menghubungkannya dengan identitas regional.
Tetapi pengaruh militer tetap tidak boleh dianggap sebagai hubungan mekanis. Seorang mantan tentara tidak otomatis berbicara dengan gaya komando setiap saat, dan Prabowo sendiri dapat menggunakan bahasa yang berbeda dalam forum diplomatik, rapat pemerintahan, kampanye, pertemuan partai, atau acara massa. Teori audience design justru memprediksi variasi seperti ini karena seorang penutur memiliki beberapa gaya yang dapat diaktifkan sesuai konteks.
Bahasa Rakyat Tidak Sama dengan Anti-Intelektual
Menggunakan “maling” daripada “pelaku tindak pidana”, atau “nyolong” daripada “melakukan penyalahgunaan”, tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seorang pembicara memiliki cara berpikir sederhana. Bahasa merupakan pilihan representasi, sehingga gagasan kompleks dapat dikomunikasikan dengan kosakata sederhana dan gagasan sederhana juga dapat disembunyikan di balik istilah yang terdengar akademis. Tingkat formalitas bahasa dan tingkat kompleksitas pemikiran merupakan dua variabel yang tidak identik.
Dalam kasus Prabowo, kontrasnya justru menarik. Ia berasal dari keluarga yang kuat dalam tradisi intelektual dan ekonomi, menghabiskan sebagian masa pendidikan di beberapa negara, kemudian menjalani pendidikan militer dan karier institusional yang panjang. Pada saat yang sama, ia dapat memilih register yang sangat kolokial ketika berbicara kepada massa.
Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui audience design dan communication accommodation. Seorang pembicara dapat menurunkan tingkat formalitas tanpa harus menurunkan kompleksitas konseptualnya, karena perubahan tersebut mungkin ditujukan untuk menyesuaikan pesan dengan audiens atau menciptakan jarak sosial yang lebih kecil.
Paradoks Prabowo: Elite dalam Biografi, Kolokial dalam Performa Publik
Di sinilah paradoks gaya komunikasi Prabowo menjadi lebih jelas. Biografinya berhubungan dengan keluarga elite, pendidikan internasional, lingkungan militer tingkat tinggi, bisnis, dan politik nasional, tetapi register yang digunakannya di hadapan massa dapat bergerak sangat jauh dari bahasa birokratik elite. Formula “high background, low register” cukup menarik sebagai permainan konsep, tetapi istilah “low register” sebaiknya diganti dengan “elite background, colloquial public register” agar tidak memberi kesan bahwa bahasa kolokial secara linguistik lebih rendah.
Kerangka Benjamin Moffitt mengenai political style juga relevan di sini. Moffitt menunjukkan bahwa pemimpin politik tertentu dapat sekaligus menampilkan diri sebagai figur luar biasa yang memiliki kekuasaan dan sebagai sosok yang tampak dekat dengan “orang biasa”. Dengan kata lain, jarak sosial tidak selalu dihapus dengan menyembunyikan status elite, tetapi dapat dikelola melalui performa bahasa, humor, gestur, pakaian, pilihan kata, dan cara berinteraksi dengan audiens.
Prabowo memberikan contoh menarik mengenai pertemuan dua posisi tersebut. Ia dapat berbicara sebagai kepala negara dengan seluruh otoritas institusional yang menyertainya, lalu beberapa menit kemudian menggunakan “gue”, “lu”, “enggak”, “maling”, atau “nyolong”. Perpindahan ini lebih produktif dianalisis sebagai style-shifting daripada sebagai bukti bahwa terdapat satu dialek tunggal yang mendominasi seluruh cara bicaranya.
Kesimpulan
Menyebut gaya tutur Prabowo sebagai “bahasa Betawi” ternyata menyederhanakan. Secara sosiolinguistik, lebih akurat mengatakan bahwa ia menggunakan repertoar bahasa Indonesia yang berlapis, dengan unsur Jakarta Indonesian yang mempunyai hubungan historis dengan Betawi, bentuk kolokial perkotaan, gaya tutur personal, jejak register militer, serta strategi komunikasi politik kepada audiens massa. Jakarta sendiri sejak lama merupakan ruang kontak bahasa sehingga bahasa pergaulannya berkembang melalui perjumpaan Betawi, bahasa Indonesia, Melayu Tionghoa, Jawa, Sunda, serta kelompok-kelompok pendatang lainnya.
Dari sisi fakta, kita dapat membuktikan bahwa Prabowo lahir di Jakarta, mengalami masa kecil awal di kota itu, menjalani sebagian besar pendidikan sekolah di luar negeri, kembali berinteraksi dengan lingkungan Jakarta pada akhir 1960-an, berhubungan dengan Soe Hok Gie, masuk AKABRI pada 1970, berkarier panjang di militer, dan sampai sekarang menggunakan bentuk kolokial seperti “gue”, “lu”, “maling”, serta “nyolong” dalam sejumlah pidato publik. Dari sisi interpretasi, kita dapat menduga bahwa pengalaman Jakarta, militer, kehidupan internasional, dan politik massa bersama-sama membentuk repertoar komunikasinya, tetapi kita tidak dapat menentukan berapa besar kontribusi masing-masing unsur.
Kesimpulannya, bahwa gaya komunikasi publik Prabowo merupakan gaya tutur Indonesia-Jakarta yang kolokial, memperoleh warna dari lingkungan linguistik Jakarta, bertemu dengan kebiasaan komunikasi militer yang singkat dan tegas, lalu digunakan melalui mekanisme audience design dan political performance untuk berbicara kepada berbagai lapisan masyarakat. Hal ini juga menjelaskan mengapa seorang tokoh dengan latar sosial sangat elite dapat terdengar sangat informal ketika berada di depan massa.***25092026***
*)Magister Komunikasi Politik.
Advertisement










