Makassar, Kansnews.com — Kurangnya sosialisasi dan pemahaman mengenai jalur pendaftaran Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) di lingkungan Sekolah Luar Biasa (SLB) kembali menjadi sorotan. Isu ini mengemuka dalam pertemuan daring yang diselenggarakan oleh komunitas Disability Network Information (DISINI) melalui Google Meet pada Rabu malam (14/1/2026).
Dalam diskusi tersebut terungkap adanya kasus calon mahasiswa baru (camaba) asal SLB berinisial Q yang mengalami kendala serius dalam proses pendaftaran SNBP. Kendala tersebut bukan disebabkan oleh kemampuan akademik siswa, melainkan oleh kesalahpahaman di tingkat sekolah terkait alur dan mekanisme pendaftaran SNBP.
Peserta diskusi menjelaskan bahwa hingga kini masih banyak guru di SLB yang belum memahami secara utuh sistem Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB), termasuk jalur pendaftaran SNBP. Padahal, dalam skema SNBP terdapat dua metode pengisian nilai, yakni melalui sistem e-Rapor dan pengisian nilai secara manual oleh pihak sekolah.
“Masalah utamanya adalah minimnya sosialisasi tentang jalur masuk perguruan tinggi di SLB. Akibatnya, banyak guru belum paham alur pendaftaran SNPMB,” ungkap Muh. Ilham, pendiri komunitas DISINI.
Meski demikian, pihak sekolah camaba tersebut disebut telah melakukan upaya penyesuaian dan perbaikan untuk mengatasi kendala pendaftaran yang terjadi. Langkah ini diapresiasi, namun dinilai belum cukup jika tidak diiringi dengan peningkatan kapasitas dan pemahaman yang lebih sistematis.
Diskusi juga menghadirkan pengalaman seorang siswa SLB asal Aceh yang tidak mengalami kendala dalam pendaftaran jalur SNBP sebagai contoh praktik baik. Selain itu, Fajrin, difabel alumni Universitas Brawijaya, turut menekankan pentingnya wawasan, literasi informasi, serta pemahaman tentang tujuan berkuliah bagi camaba yang masih awam tentang dinamika perguruan tinggi untuk difabel.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa hambatan terbesar yang dihadapi siswa difabel bukan terletak pada keterbatasan individu, melainkan pada sistem pendidikan yang belum sepenuhnya inklusif dan ramah difabel.
Komunitas DISINI menilai persoalan ini perlu menjadi bahan evaluasi serius bagi pemangku kebijakan pendidikan, khususnya agar hak siswa SLB untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi tidak terhambat oleh persoalan administratif dan minimnya informasi.
Ke depan, diperlukan peningkatan sosialisasi, edukasi, serta pendampingan yang berkelanjutan terkait pendaftaran SNBP dan jalur masuk perguruan tinggi lainnya di lingkungan SLB. Tanpa upaya tersebut, mimpi siswa difabel untuk mengakses pendidikan tinggi berisiko kembali terhambat oleh persoalan yang seharusnya dapat dicegah sejak awal.











