Oleh: Dhia Prekasha Yoedha
Pada suatu masa dalam era Presiden Soeharto, sosok Kartini pernah diabadikan dalam mata uang Republik Indonesia 1985, untuk nominasi Rupiah terbesar Rp10.000. Yang menarik penominasian nilai terbesar hingga terendah uang kertas Rupiah semasa itu adalah tidak sepenuhnya menggambarkan para tokoh pahlawan nasional prakemerdekaan.
Setelah nominal tertinggi warna ungu bergambar Kartini, 1986 diedarkan pula nominal Rp5.000 warna coklat muda bergambar Teuku Umar. Juga tahun 1987 beredar satuan nominal Rp1.000 warna biru yang bergambar Sisingamangaraja XI.
Namun gambar untuk urutan nominal yang lebih kecil, Rp500 yang berwarna hijau, dan Rp100 yang berwarna merah muda, tak lagi sosok pahlawan. Untuk yang Rp500 bergambar kekayaan sumber daya alami khas Nusantara berupa fauna, yaitu rusa, sesuai emisi 1988. Dan nominal Rp100 gambar burung dara mahkota emisi tahun 1984, yang kemudian digantikan dengan kapal Phinisi pada 1992.
Lantas apa? Ternyata seri nominal Rupiah tahun 1980an itu, memicu bisik-bisik spekulatif atas alam bawah sadar yang mendominasi pola pikir rejim Jenderal Soeharto. Ditengarai seolah ada rekayasa rejim yang sengaja menstereotip-kan identitas sosio kultural menjadi politik kelas.
Spekulasi yang menyebut seolah lapis elit teratas di Republik semasa itu, merupakan privelese hanya bagi suku Jawa yang muslim, sepanjang dia Abangan atau Priyayi, asal bukan Santri. InI terwakili dari simbolisasi sosok Kartini. Simbolisasi ini seakan menegaskan posisi puncak lapis elit ini, tidak bisa tidak, harus tetap figure Soeharto. Lalu untuk lapis elit kedua di bawahnya merupakan hak penuh bagi Muslim non-Jawa, seperti tersimbolkan pada sosok pahlawan Aceh, Teuku Umar. Lapis elit ketiga, yang disimbolkan pada pahlawan Batak, Sisingamangaraja, jelas menyiratkan posisi ini ditempati oleh Non-Muslim, yang Non-Jawa.
Lantas bagaimana dengan posisi berikut di bawahnya? Apakah mereka dianggap sebagai mirip Rusa yang meski banyak ditemukan, tapi karena bernasib langka hingga perlu dilestarikan dalam cagar budaya budaya? Atau diperlakukan bak burung dara mahkota hewan cantik piaraan, maupun warisan budaya bak kapal Phinisi dari Sulawesi?
Identitas sebagaiman dijelaskan Stuart Hall dalam The Question of Cultural Identity, 1994, merupakan sesuatu yang secara aktual terbentuk melalui proses tidak sadar yang melampaui waktu. Bukan kondisi yang terberi begitu saja dalam kesadaran sejak lahir. Sehingga dalam identitas itu, terdapat sesuatu yang bersifat ‘’imajiner’’ atau difantasikan atas keutuhan identitas yang diidamkan. Alhasil tiap identias niscaya menyisakan ketidaklengkapan. Selalu ‘’dalam proses’’ atau ‘’sedang dibentuk’’.
Politik identitas sendiri adalah tindakan politis mengedepankan kepentingan-kepentingan anggota suatu kelompok yang memiliki kesamaan identitas atau karakteristik, baik berbasiskan ras, etnis, jender, atau keagamaan. Sehingga politik identitas juga berarti sebagai rumusan lain dari politik perbedaan.
Cressida Heyes dalam Stanford Encyclopedia of Philosophy, 2007, merumuskan politik identitas sebagai penandaan aktivitas politis dalam arti luas, sekaligus teorisasi atas trauma pengalaman ketidakadilan dari anggota kelompok sosial tertentu di lingkup kehidupan Bersama antar kelompok. Karuan politik identitas juga berarti upaya pembebasan dari kelompoknya situasi keterpinggiran yang secara spesifik mencakup konstituensi mereka dalam konteks Masyarakat yang lebih luas.
Akan tetapi penggunaan politik identitas untuk meraih kekuasaan, niscaya kian mempertajam perbedaan dan memicu pertikaian. Ini terlihat dalam kasus perseteruan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dengan Gerakan Masyarakat Jakarta (GMJ).
Di lain pihak, politik identitas juga seakan meneguhkan adanya kebutuhan yang bersifat esensialistik atas keberadaan kelompok sosial tertentu sesuai identifikasi primordialitas. Terbukti dalam perkembangan berikut, politik identias justru acap dibajak atau ditunggangi kelompok mayoritas untuk memapankan dominasi kekuasaan mereka. Nominalisasi Ruiah Kartini hingga Rusa mungkin bisa menjadi rujukan untuk itu.
Repost dari Majalah Aktual Edisi 28, Desember 2014.
Advertisement










