Oleh : Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle

Prabowo Subianto mengundang investor global Raymond Dalio memberi kuliah di istana kepresidenan beberapa hari lalu. Ray (Raymond) menjelaskan bahwa situasi Indonesia saat ini tepat pada posisi potensial untuk tinggal landas dan dalam leadership yang tepat, meski harus mengatasi beberapa tantangan.

Situasi tersebut terkait utang Indonesia yang masih rendah, kemampuan untuk mendapatkan support investor asing dan segala potensi ekonomi lainnya yang baik. Namun, beberapa tantangan seperti korupsi dan birokrasi yang lamban, harus dapat diatasi. Ray melihat bahwa Prabowo memiliki kemampuan untuk menjalankan transformasi, karena sosok Prabowo mirip Deng Xiaoping di China, katanya.

Jika kita melakukan searching tentang “Ray dan Deng Xiaoping”, ternyata Ray telah berulang kali menyebut kepemimpinan Deng Xiaoping sebagai referensi penting bagi kesuksesan sebuah negara untuk maju. Pada tahun 2023, Ray menyematkan hal itu pada Perdana Menteri India, Narendra Modi, dan pada tahun 2024 terhadap Pangeran MBS, Saudi Arabia. Ray yang mengklaim pernah berinteraksi dengan Deng, tentu melihat jalan Deng adalah jalan yang tepat untuk sebuah kemajuan.
Meskipun Deng adalah tokoh RRC era 80-90 an, namun dalam analisa kontemporer, Ray memasukkan point perubahan teknologi, khususnya Artificial Intelligent, sangat penting dimasukkan sebagai unsur analisis saat ini.

Prabowo dan Deng Xiaoping tentu mempunyai kesamaan, sebagaimana imajinasi Ray. Namun,
keduanya juga tentunya berbeda. Begitu pula latarbelakang persoalan negara yang sedang mereka hadapi, baik internal maupun internasional.

Dengism adalah sebuah istilah yang disematkan untuk pandangan politik dan ekonomi Deng. Beberapa hal yang penting untuk diketahui dari Dengism adalah

Pertama, Deng menolak “class struggle”.


Berbeda dengan Mao Zedong, pemimpin revolusi China, yang taat pada ajaran Marxisme -Leninisme, yakni perjuangan kelas sampai terwujudnya kekuasaan kaum proletar (popular Masses di Cina), Deng melihat bahwa untuk kemajuan bangsa China hanya bisa dicapai dengan berkompromi kepada sistem kapitalis. Perjuangan ala Mao yang membuat terbunuhnya puluhan juta rakyat China, karena kelaparan (famine 1958-62), mengubah cara pandang Deng terhadap jalan Komunisme.

Menurutnya, Komunisme harus diubah menjadi Sosialisme Berkarakter China, yakni mengadopsi cara-cara kapitalis dalam pembangunan. Deng, yang berkuasa sejak 1978, dengan strategi “Reform and Opening Up” membangun kota-kota tepi pantai selatan secara besar-besaran sebagai kota kota kapitalis. Pembangunan pedesaan yang berbasis komunal direformasi menjadi berbasis keluarga. Teknologi dimajukan. Internasional politik dan ekonomi dibuka. Namun, cara kapitalis ini dikontrol oleh Partai Komunis China alias Negara Komunis. Sehingga, dikenal sebagai State-Capitalism.

Prabowo dan Deng yang tidak anti kapitalis itu, keduanya berasal dari ideologi sosialisme. Namun, kaderisasi Prabowo berada di tangan bapaknya, merujuk pada berbagai statement adiknya, Hashim Djojohadikusumo, sebaliknya Deng Xiaoping mengalami kaderisasi dalam organisasi Partai Komunis China. Hal ini membuat kepemimpinan Prabowo lebih individualistik, sedangkan Deng lebih kolektif.

Kedua, Prabowo dan Deng mempunyai kesamaan mencintai petani, sebagai basis perjuangan.

Namun, keduanya berbeda arah. Prabowo meyakini bahwa kolektivisme di pedesaan harus menjadi kekuatan petani.
Ini tercermin dari langkah terkini Prabowo membangun 70.000 koperasi di desa. Sebaliknya, Deng, karena trauma dengan kolektivisme era Mao, menghilangkan basis-basis komunal termasuk mengecilkan koperasi di pedesaan.
Deng bahkan memberi kesempatan kapitalis masuk ke pedesaan.

Ketiga, Prabowo dan Deng sama-sama ragu soal demokrasi.

Advertisement

Tinggalkan Komentar