Oleh: Shamsi Ali Al-Nuyorki
Akhir-akhir ini marak terjadi rally atau demonstrasi anti-Islam dan anti-Syariah di berbagai kota di Amerika. Pelakunya hanya segelintir orang, maksimal puluhan, namun mengatasnamakan ratusan juta masyarakat Kristen Amerika.
Penggerak utama kegiatan ini adalah Jack Lang, salah seorang konspirator dan pelaku penyerangan Capitol Hill saat Donald Trump kalah pilpres dari Biden. Ia sempat ditangkap dan dipenjara, namun dibebaskan melalui amnesti oleh Trump setelah kembali terpilih menjadi presiden.
Berdasarkan jejak digital, Jack Lang sendiri sejatinya adalah seorang Yahudi Zionis. Beberapa foto memperlihatkan dirinya beribadah dan mencium Tembok Ratapan di Yerusalem serta bertemu dengan para pemimpin negara Zionis Israel. Karena itu sebagian besar meyakini bahwa Jack Lang adalah konspirator bayaran yang sengaja membangun permusuhan untuk mengantar pada bentrokan antara warga Kristen dan Muslim di Amerika.
Sejak dibebaskan dari penjara, Jack Lang telah melakukan hal serupa di beberapa kota, seperti di Texas di depan Islamic Center yang dipimpin oleh Syekh Yasir Qadhi, salah seorang ulama kharismatik di Amerika, di Philadelphia, termasuk di New York di depan kediaman resmi Wali Kota New York, Zohran Mamdani, beberapa bulan lalu. Yang menarik, ketika ia melakukannya di Minnesota, warga Somalia turun tangan dan memberikan pelajaran kepadanya. Hal serupa juga terjadi ketika ia pertama kali melakukannya di Detroit dan Los Angeles beberapa hari lalu.
Dalam aksinya, Jack Lang dan kelompoknya menggunakan dalih kebebasan berbicara dan berekspresi. Sesuatu yang bagi kami masyarakat Muslim di Amerika sangat dihargai dan disyukuri. Namun kebebasan berbicara dan berekspresi harus dipahami dalam konteks yang benar dan sewajarnya. Kebebasan itu tidak pernah dimaksudkan untuk mengganggu, menghalangi, apalagi merusak hak orang lain, termasuk hak masyarakat Muslim untuk beragama dan menjalankan agamanya. Karena itu alasan Jack Lang adalah alasan yang dipaksakan atas nama Konstitusi.
Gabungan Rasisme dan Islamofobia
Jika kita perhatikan pergerakan Jack Lang, baik aksi maupun kata-katanya, dapat disimpulkan bahwa kegiatan yang saya sebut sebagai “trouble and chaos maker” (pembuat onar dan kekacauan) itu dimotivasi oleh dua hal utama.
Pertama, sebagaimana Trump dan pengikutnya termasuk Jack Lang, memang mengidap penyakit rasisme yang parah. Mereka adalah pengikut paham Nazi yang merasa superior berdasarkan ras kulit putih atau “white supremacy”. Karena itu target mereka secara umum adalah warga non-kulit putih, khususnya Hispanik dan warga kulit hitam.
Serangan kepada masyarakat Muslim juga didorong oleh sentimen ini. Sebab masyarakat Muslim di Amerika dan Barat secara umum dikategorikan sebagai pendatang (imigran) dan non-kulit putih. Sejak lama Islam di Amerika dipandang sebagai agama non-kulit putih, khususnya dipandang agama orang Arab, Asia Selatan, dan Afrika. Kelompok rasis ini memandang Islam sebagai agama dari Timur (secara demografis) yang dianggap terbelakang dan tidak beradab.
Namun kebencian dan permusuhan mereka kepada masyarakat Muslim lebih dari sekadar dorongan rasisme. Ia juga didorong oleh semangat kebencian, kemarahan, bahkan frustrasi karena perkembangan Islam yang tidak lagi terbendung. Mereka telah mengerahkan segala daya dan upaya: media, kekuasaan, ekonomi, dan lain-lain, namun Islam tetap berkibar dan berkembang. Dalam bahasa seorang pendeta Yahudi: “Islam itu semakin ditekan, semakin meninggi.”
Hal ini membuat mereka, Jack Lang dan kelompoknya, semakin gerah dan ingin melakukan apa saja untuk menghambat perkembangan tersebut. Sikap inilah yang lebih populer disebut Islamofobia, yaitu ketakutan terhadap Islam tanpa alasan yang jelas. Merasa terancam oleh sesuatu yang sebenarnya bukan ancaman. Salah satunya adalah ketakutan bahwa umat Islam akan mengambil alih Amerika (to take over). Detroit menjadi target karena di wilayah itu banyak pejabat kotanya adalah Muslim, dari Wali Kota, anggota DPRD, hingga Kepala Kepolisiannya (Ali Shaheen). Dan mereka begitu khawatir, bahkan ketakutan, jika fenomena Detroit ini merambah ke daerah atau kota lainnya.
Upaya Memecah Belah
Lebih dari sekadar rasisme dan Islamofobia, apa yang dilakukan oleh kelompok anti-Islam ini diduga sebagai upaya untuk memecah belah dua komunitas yang memiliki potensi kerja sama untuk kebaikan Amerika dan dunia. Kita tahu bahwa kelompok agama terbesar di dunia saat ini adalah Kristen, jika Katolik dan Protestan disatukan. Sementara umat Islam adalah kelompok agama terbesar kedua, bahkan menjadi yang terbesar jika umat Kristiani dibagi menjadi dua kelompok: Katolik dan Protestan.
Kelompok-kelompok radikal seperti Jack Lang dan lain-lain sebenarnya tidak ingin melihat kedua komunitas ini hidup damai dan rukun. Karena seperti disebutkan sebelumnya, Jack Lang adalah seorang Zionis dan memiliki kedekatan bahkan kepentingan dengan Zionis Israel. Sebagian meyakini bahwa Jack Lang dan kelompoknya mendapat dukungan finansial dari Zionis Israel untuk menjalankan misinya. Dan tampaknya itu adalah sebuah kenyataan. Jack Lang adalah Yahudi Zionis yang melakukan kejahatan terhadap Islam atas nama Kristen. Maka kedua komunitas ini (Islam dan Kristen) sesungguhnya adalah korban dari Zionis Jack Lang dan Gengnya.
Pengkhianat Atas Nama Patriotisme
Hal yang lebih jahat lagi dari Jack dan kelompoknya adalah pengkhianatan yang mereka lakukan terhadap nilai dan Konstitusi Amerika atas nama patriotisme dan membela Amerika. Padahal yang terjadi justru adalah pengkhianatan dan perusakan terhadap nilai dan Konstitusi Amerika itu sendiri.
Kita semua tahu bahwa Amerika membanggakan diri sebagai panglima demokrasi. Tidak hanya mengaku sebagai negara demokrasi, tetapi juga kerap mengaku membawa dan membela demokrasi di berbagai belahan dunia. Sebuah pengakuan yang tentunya terbuka untuk dikritik dan diperdebatkan. Karena kenyataannya, seringkali atas nama demokrasi, Amerika melakukan berbagai hal yang jelas-jelas paradoks dengan demokrasi. Apa yang dilakukan di Afghanistan, Irak, Iran, bahkan di negara-negara Amerika Latin, terbaru di Venezuela, jelas merupakan pelecehan terhadap konsep demokrasi yang diakuinya.
Amerika juga mengaku paling toleran dan memberikan kebebasan beragama (freedom of religion) kepada semua warganya. Bahkan paling getol menilai kebebasan beragama di berbagai negara di dunia. Lebih jauh, hubungannya dengan negara lain seringkali dikaitkan dengan penilaian terhadap kebebasan beragama di negara tersebut.
Yang lebih utama lagi adalah Konstitusi Amerika yang sangat ideal dalam hal kebebasan beragama. Merujuk pada Konstitusinya, saya termasuk yang selalu membela dan menyanjung Amerika dalam hal kebebasan beragama. Sayangnya konstitusi seringkali hanya diposisikan sebagai konsep yang indah, namun tidak mengakar dalam perilaku sebagian masyarakat Amerika, seperti yang terlihat pada perilaku Jack Lang dan kelompoknya.
Maka merujuk pada nilai dan Konstitusi Amerika yang ideal itu, saya berani mengatakan bahwa Jack Lang dan kelompoknya, hingga bosnya di Gedung Putih, adalah pengkhianat dan perusak atas nama patriotisme. Inilah yang membuat tokoh-tokoh agama di Detroit bersatu dan menolak Jack Lang dan gengnya.
Akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Jack Lang dan sesamanya tidak akan memberikan kebaikan dan keuntungan kepada umat yang dalam pengakuannya mereka wakili (Kristiani). Tidak juga kepada negara dan bangsa Amerika. Sebaliknya yang terjadi adalah pengkhianatan, perusakan, dan mempermalukan bangsa dan negara.
Dan untuk Islam dan komunitas Muslim, kita tidak akan terintimidasi, apalagi ketakutan dan melemah. Tindakan-tindakan yang tidak sejalan dengan nilai dan Konstitusi Amerika ini justru menjadi motivasi bagi kami untuk terus berbuat, bukan saja bagi komunitas Muslim, tetapi kami akan terus berkontribusi untuk menjadikan Amerika, rumah kami bersama lebih baik. Dan Islam tidak akan pernah terhenti, walaupun dihalangi dengan berbagai cara. Sebaliknya Islam akan semakin maju dan kuat, akan ikut menjadi bagian yang menentukan arah perjalanan bangsa ini ke depan. InsyaAllah!
Manhattan, 19 Agustus 2026
Advertisement










