Dalam menjalani kehidupan ini, kita sering lupa bahwa pergerakan alam semesta dikendalikan oleh Dia Yang Maha Pencipta (Al-Khaliq) dan Maha Pengatur (Al-Mudabbir). Segala sesuatu bergerak dalam genggaman Kekuasaan-Nya: “bi yadihi al-mulk”. Dan Dia yang menguasai dan mengendalikan segalanya: “wa Huwa ‘ala kulli syai’in Qadir”.
Secara kasat mata, kita menyusun rencana, mengejar target, menghitung segala kemungkinan, bahkan seringkali merasa yakin akan hasil akhir. Namun kita pula yang kemudian dilanda cemas ketika segalanya tidak berjalan sesuai harapan. Bahkan seringkali melampiaskan amarah kepada sekitar, kepada diri sendiri, bahkan kepada Allah, Sang Pemilik dan Penguasa keadaan.
Tidakkah sudah waktunya kita berhenti sejenak untuk merenung? Perhatikanlah matahari yang terbit tepat pada waktunya, bulan yang beredar pada garis edarnya, dan bintang-bintang yang tetap setia menghiasi malam. Langit yang indah itu tertata rapi oleh-Nya. Sejak kapan kita merasa harus mengatur seluruh pergerakan hidup ini?
Boleh jadi yang membuat kita lelah bukanlah karena beratnya beban hidup, melainkan karena kita terlalu lama memaksakan diri memikul sesuatu yang sejatinya bukan menjadi ranah kita: kendali mutlak yang hanya milik Sang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Mari kita merenung sejenak. Tarik napas perlahan, lalu “istafti qalbak” (tanyakan pada hatimu): “Apakah kita telah benar-benar bersandar sepenuhnya kepada Allah, atau jangan-jangan hanya menjadikan Allah sebagai stempel pembenaran bagi keakuan diri kita?”
Sadarilah, bisa jadi ada harapan dan doa yang belum terkabul bukan karena Allah tidak mendengar, tetapi karena Dia sedang menata sesuatu yang belum mampu kita pahami. Dia sedang merencanakan dan mempersiapkan kita agar layak menerima ketika waktunya telah tiba. Alam semesta tidak pernah meminta kita untuk memahami pergerakannya. Demikian pula dengan setiap peristiwa dalam hidup ini. Namun yang pasti, Dialah yang menggerakkan segalanya sesuai dengan takaran yang sesuai dan tepat.
Karena itu, setelah segala ikhtiar yang memungkinkan telah kita tunaikan, mari kita belajar berkata dengan hati yang lebih tenang: “Ya Allah, aku telah berusaha. Selebihnya, aku serahkan kepada-Mu.”
Sungguh, ketenangan itu bukan datang karena persoalan hidup telah selesai, melainkan karena kesadaran bahwa ada Allah yang tidak pernah kehilangan kendali atas segalanya. Perhatikanlah dengan saksama, langit tetap tegak berdiri tanpa tiang yang terlihat. Semoga hati kita pun tetap kokoh karena senantiasa bersandar kepada Sandaran yang tak pernah goyah: “al-‘Urwatul Wutsqa”. InshaAllah!
NYC Subway, 12 Agustus 2026
Advertisement










