Kabar duka itu datang dari Aceh. H. Sjamsul Kahar, wartawan senior, tokoh pers Aceh, sekaligus ayahanda Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, telah berpulang ke rahmatullah pada Kamis, 24 September 2026, pukul 02.20 WIB di RSUD dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh.
Dunia jurnalistik Indonesia kehilangan salah seorang sosok yang perjalanan hidupnya tidak dapat dipisahkan dari sejarah pers di Aceh.
Bagi banyak orang, nama Sjamsul Kahar mungkin lebih dikenal sebagai tokoh di balik Harian *Serambi Indonesia*. Namun, bagi dunia pers, jejaknya jauh lebih panjang. Ia adalah wartawan yang menjalani profesinya dalam rentang sejarah yang panjang—melewati perubahan zaman, pergolakan politik, konflik Aceh, hingga bencana tsunami 2004 yang nyaris menghapus seluruh jejak fisik Serambi Indonesia.
Serambi Indonesia dirintis dan didirikan oleh M. Nourhalidyn dan H. Sjamsul Kahar. Pada 9 Februari 1989, Mimbar Swadaya bertransformasi menjadi harian Serambi Indonesia, dengan Nourhalidyn sebagai Pemimpin Umum dan Sjamsul Kahar sebagai Pemimpin Redaksi. Saat itu, Sjamsul juga dikenal sebagai wartawan Kompas di Aceh.
Dari situlah sebuah sejarah besar pers Aceh kemudian tumbuh. Tetapi perjalanan itu sama sekali tidak mudah.
Serambi Indonesia pernah menghadapi tekanan akibat konflik Aceh. Kemudian tsunami 26 Desember 2004 menghantam kantor dan fasilitas produksinya. Sejumlah wartawan dan karyawan menjadi korban. Koran itu bahkan sempat berhenti terbit. Namun, pers mempunyai naluri untuk bertahan.
Beberapa hari setelah tsunami, Serambi Indonesia kembali hadir. Dalam situasi ketika Aceh sedang berduka dan masyarakat membutuhkan informasi, surat kabar itu kembali menjalankan fungsi jurnalistiknya. Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah pers Indonesia.
Di tengah sejarah itulah nama Sjamsul Kahar menjadi penting.
Ia bukan sekadar orang yang bekerja di sebuah perusahaan pers. Ia adalah bagian dari generasi wartawan yang mengalami langsung bagaimana pers bekerja ketika keadaan tidak normal—ketika sebuah berita bukan sekadar komoditas informasi, tetapi juga menjadi cara masyarakat memahami apa yang sedang terjadi di sekeliling mereka.
Karena itu, menyebut Sjamsul Kahar sebagai wartawan senior rasanya belum cukup. Ia adalah saksi tiga zaman.
Ia menyaksikan perubahan Indonesia dari masa Orde Baru, Reformasi, hingga era demokrasi digital. Ia melihat bagaimana teknologi mengubah wajah media, bagaimana surat kabar bertransformasi, dan bagaimana profesi wartawan terus berhadapan dengan tantangan baru.
Yang lebih penting, ia meninggalkan sebuah warisan. Warisan itu bukan hanya Serambi Indonesia. Warisan itu adalah tradisi jurnalistik, keberanian untuk menjaga ruang informasi, dan keyakinan bahwa masyarakat membutuhkan pers yang hadir di tengah kehidupan mereka.
Hari ini, ketika kabar tentang kepergiannya sampai kepada kita, ingatan tentang sosoknya pun kembali mengemuka.
Ada kalimat Aceh yang terasa begitu tepat untuk melepas kepergiannya: “Donya nyoe asoe peunawa, akhirat nyoe asoe keu abadi.” Dunia ini tempat bertanam. Akhirat adalah tempat keabadian.
Pak Sjamsul Kahar telah menanam. Di dunia jurnalistik, ia menanam kata, berita, keberanian, pengalaman, dan sebuah tradisi yang kemudian tumbuh menjadi bagian dari sejarah pers Aceh. Kini tibalah waktunya beliau menuju keabadian.
Hormat kita yang mendalam untuk seorang wartawan tangguh yang telah melewati zaman dan meninggalkan jejak panjang dalam sejarah pers Indonesia.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan kekhilafan almarhum, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Dan untuk keluarga yang ditinggalkan, khususnya Bapak Nezar Patria dan keluarga besar, semoga diberikan kekuatan dan ketabahan.
Selamat jalan, Pak Sjamsul Kahar. Jalan panjang itu telah selesai. Kenangan dan warisan jurnalistik Anda akan tetap hidup.
Depok, 24 September 2026
*Satrio Arismunandar,* mantan jurnalis Harian Kompas (1988-1995). WA: 081286299061. ***
Advertisement










