Oleh: Doddy Fauzi, Ketua Koperasi Sastera Indonesia
Sastrawan Saut Situmorang jatuh sakit di negeri seberang, nun di Guangzhou yang jauh, dan harus menerima perawatan di ruang ICU dengan biaya mahal. Hal ini diumumkan oleh akun Jual Buku Sastra – JBS lewat FB. Tujuannya untuk mengetuk kawan-kawan, kiranya ada yang tergerak untuk membantu.
Seseorang di seberang yang lain, dengan menyebut atas nama kemanusiaan sekalipun berseberangan dalam dunia sastra, hendak menyumbang biaya pemulangan Saut dari Guangzhou, China, ke tanah air. Namun Saut menolak.
Seseorang itu meminta orangnya untuk meneruskan niatnya, dan sampey juga ke aku (pasti ke yang lain juga). Saya menduga Saut akan menolak. Dan benar, Saut yang saya kenal itu menolak. Saya sangat setuju!
Ada prinsip ‘dignity over expediency’, yaitu harga diri dan martabat yang ditempatkan jauh di atas kemudahan pragmatis. Menolak bantuan dari pihak yang berseberangan di saat sukar, boleh saja ada yang menyebutnya sebagey bentuk keras kepala yang picik. Namun bagi saya, sikap Saut menegaskan keberanian moral untuk menjaga keutuhan karakter. Tidak semua uluran tangan layak diterima ketika ia berpotensi merusak garis batas integritas yang selama ini dirawat.
Ketika ada tokoh agama atow ormas keagamaan tampak merapat pada lingkaran kekuasaan, lalu mendapatkan konsesi misalnya pertambangan yang jelas merusak lingkungan, aku sangat muak melihatnya. Sikap Saut yang justru dalam keadaan sakit butuh bantuan tapi menolak sumbangan dari orang yang telah memecah-belah sastrawan, membuat saya merasa masih ada oase di negeri yang tandus dari niley integritas ini.
Sikap Saut itu memiliki akar sejarah dan pijakan moral yang sangat kuat. Saya teringat kisah yang dituturkan seorang khotib bahwa Nabi Muhammad menyuruh membakar rumah ibadat yang dibangun oleh kaum munafikun, yang punya niat hendak memecah belah umat. Peristiwa itu terjadi di Madinah jelang Perang Tabuk, ketika sekelompok kaum munafik mendirikan tempat ibadah. Secara lahiriah, alasan mereka tampak mulia dan bertopengkan kemaslahatan kemanusiaan, yaitu membantu orang tua dan musafir yang kesulitan di saat cuaca buruk. Namun, di balik dinding-dindingnya tersimpan intrik politik untuk memecah belah barisan.
Al-Qur’an melalui QS. At-Tawbah (9: 107โ108) membongkar kepalsuan tersebut dan menamainya Masjid Dhirar. Rasulullah SAW tak terkecoh oleh wujud lahiriah tempat ibadah itu, dan beliau justru mengutus para sahabat untuk merubuhkan dan membakarnya sampey rata dengan tanah.
Kebaikan lahiriah atow dalih kemanusiaan serta-merta kehilangan kesuciannya jika berdiri di atas niat culas atow kompromi etis. Bahkan seperti kisah di atas, jika seseorang membangun rumah ibadat dari hasil curaling, rumah ibadat tersebut lalu dibakar, adalah sudah benar. Sebab pada akhirnya, kemurnian proses dan keteguhan sikap jauh lebih berharga daripada selaksa kompromi dan kemudahan sementara.
Ironinya, kisah Saut di Guangzhou ini bisa memetakan betapa bobroknya tata kelola kebudayaan kita. Kementerian Kebudayaan dikabarkan memberikan bantuan pengobatan untuk Saut, namun jumlahnya masih jauh dari cukup.
Setahun sebelum musibah di Guangzhou terjadi, Saut pernah melamar apresiasi untuk sastrawan yang sudah berkarya 40 tahun. Syarat dan dokumen Saut sangat memenuhi. Kontribusi pemikirannya untuk dunia sastra terasa nyata dan benderang. Namun apa yang terjadi? Tim verifikasi pemerintah, dalam hal ini Badan Bahasa di bawah Kemendikdasmen, ternyata tidak meloloskan Saut. Ada rasa perih di hatiku, karena aku juga termasuk yang tidak lolos verifikasi secara administratif.
Kenapa harus perih?
Karena saya kuliah bukan mengambil jurusan administrasi atau sekretaris, tapi pendidikan bahasa dan sastra, yang tugas utamanya adalah melakukan edukasi di bidang bahasa dan sastra. Saya kemudian menjadi jurnalis, tentu tidak gagap-gagap amat dalam hal administrasi dan kesekretariatan. Namun saat melamar untuk menerima hibah seperti yang dilakukan Saut dan juga saya yakin ribuan sastrawan-seniman di tanah air, tiba-tiba kami harus belajar dulu urusan administrasi yang menjengkelkan. Jika pemerintah memang mau menghargai para sastrawan, ada baiknya bantuan hibah itu tidak diumumkan sebebas-bebasnya sehingga siapapun bisa melamar asal bisa memenuhi urusan administrasi namun substansi meleset, seperti dalam kasus tidak lolos verifikasinya Saut.
Saut bisa jadi dipandang sebagey kerikil di dalam sepatu bagi birokrat dan mafia sastra. Namun Saut amat konsisten dan tajam mengkritisi kegiatan-kegiatan sastra yang tak masuk akal. Ia dengan sengit menentang proyek rekayasa buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia, sebuah kerjaan busuk di mana seseorang yang belum teruji kekaryaannya dipaksakan masuk kanon lewat rekayasa penggiringan opini publik, hanya karena orang tersebut adalah yang menyeponsori lahirnya buku itu.
Kritik yang bernas, jauh lebih penting dari sekadar gutak-gitek pantat. Kemajuan peradaban di dunia ini, lahir karena adanya memeriksa kembali sesuatu yang sudah dianggap menjadi tesis, kemudian dibongkar secara radikal dan logis, sehingga lahir anti-tesis, dan si anti-tesis kembali menjadi sintesis yang harus dirumuskan ulang dengan metode dan ilmu pengetahuan yang lebih akurat. Semua bangsa, membangun peradabannya lewat hasil pemikiran yang akurat, baik itu di bidang sain, pun di bidang humaniora.
Ketika para kritikus dibrangus, dibungkam tanpa ditimbang, maka ini bangsa sejatinya sedang memundurkan pencapeyan peradaban.
Orang yang mendedikasikan hidupnya menjaga kejujuran sastra justru disingkirkan dan dihancurkan hak-haknya. Lalu ketika ia terdesak sakit di negeri orang, negara hanya menyodorkan bantuan ala kadarnya, sementara pihak lawan mencoba mengulurkan tangan yang berbau kompromi dan โseakan-akanโ.
Saut memilih tetap tegak. Ia tidak mau menjual sisa martabatnya kepada โmusuhโ yang hendak menumpang sebagey pahlawan. Bagi saya, niley seorang sastrawan sejati seperti Saut tidak ditentukan oleh lembaran piagam verifikasi Badan Bahasa atow belas kasihan birokrasi. Keteguhan jiwanya yang tak bisa dibeli sampey kapan pun, adalah mestinya menjadi sikap penyair, sastrawan, dan budayawan.
๐๐ป๐ณ๐ผ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐๐ฎ๐น ๐๐๐ธ๐ ๐ฆ๐ฎ๐๐๐ฟ๐ฎ – ๐๐๐ฆ
Bang Saut Situmorang saat ini tengah berjuang di ICU RS Sun Yat-sen University (Shenzhen Futian), Guangdong, China. Beliow yang berada di China sejak 6 Juli 2026 untuk memenuhi undangan residensi sastra, mengalami Pneumonia parah akibat infeksi ganda virus dan bakteri langka yang resisten obat, diperberat riwayat Hipertensi serta Hipoglikemia. Saat ini fungsi paru-paru kanannya hanya tersisa 20%. Setelah mengeluh batuk dan lelah hebat di awal Agustus, ia resmi dirawat di ICU sejak 7โ8 Agustus 2026 dan dijadwalkan menjalani tindakan pemasangan selang trakea per 10 Agustus 2026.
Kiranya ada filantropis yang terketuk untuk membantu, dapat mengontak akun Jual Buku Sastra di – JBS di FB.










