Oleh: Sobirin Malian (Dosen Penggiat Literasi)

Kita hari ini hidup di era yang sangat bising. Gadget di genggaman tangan telah mengubah setiap orang menjadi komentator sekaligus hakim bagi kehidupan orang lain. Ruang digital dan media sosial, yang semula diciptakan untuk mendekatkan, kini sering kali berubah menjadi medan perang ego. Jari-jari begitu mudah mengetik makian, dan lisan begitu ringan melontarkan penghinaan demi sebuah kata bernama “viral” atau “kemenangan argumen”.

Di tengah kepungan badai kata-kata yang destruktif ini, jiwa kita sering kali merasa lelah, terprovokasi, dan gatal untuk membalas. Namun, mari kita sejenak menepi dan menyimak kembali warisan kebijaksanaan dari abad kedua Hijriah, sebuah nasihat emas dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullah tentang seni menjaga lisan dan kehormatan diri. Beliau pernah berkata:

“Jika engkau dihina, jangan jadikan lisanmu menjadi senjata untuk membalas. Diam yang disertai kesabaran seribu kali lebih tajam daripada kata-kata. Ingatlah, gunung tidak menjadi rendah hanya karena dilempari batu, dan langit tidak menjadi sempit hanya karena burung-burung melintas di bawahnya. Begitu pula dirimu; hinaan orang lain tidak akan pernah mengurangi nilaimu. Tetaplah berjalan di jalan yang benar, karena kehormatan sejati lahir dari akhlak yang baik, bukan dari kemenangan dalam perdebatan.”

Nasihat kuno ini terasa begitu segar dan menampar realita hidup kita hari ini. Nilai-nilai yang beliau sampaikan merupakan cerminan langsung dari bimbingan wahyu yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ, sekaligus sejalan dengan logika sains modern. Dari untaian kalimat tersebut, ada tiga seni menjalani hidup yang bisa kita renungkan:

1. Diam yang Elegan, Bukan Kekalahan

Di zaman sekarang, orang yang diam sering kali dicap sebagai pengecut atau kalah. Kita dituntut untuk selalu mengklarifikasi, membalas komentar negatif, atau membuat konten tandingan demi membela diri.
Namun, mari kita renungkan sabda Rasulullah ﷺ yang sangat lugas:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim)

Imam Asy-Syafi’i mengaktualisasikan hadis ini dengan sangat indah. Beliau mengajarkan bahwa diam bukan berarti kalah. Diam di tengah badai makian adalah sebuah pilihan sadar untuk memindahkan medan pertempuran. Kita menolak bertarung di kubangan lumpur yang kotor, dan memilih membawa perkara tersebut ke tempat yang lebih tinggi—ke hadapan Allah Yang Maha Adil lewat jalur kesabaran. Ini adalah bentuk kekuatan mental tingkat tinggi, bukan kelemahan.

2. Menjadi Seteguh Gunung, Seluas Langit

Perhatikan analogi indah yang beliau bawakan. Sebuah gunung tidak akan pernah bergeser satu sentimeter pun hanya karena dilempari kerikil kecil. Langit pun tidak pernah berkurang luasnya hanya karena ada kepakan sayap burung yang melintas di bawahnya.
Menariknya, sains psikologi modern membenarkan hal ini melalui teori proyeksi psikologis (psychological projection). Secara ilmiah, seseorang yang gemar menghina, merendahkan, atau melakukan cyberbullying di media sosial, sebenarnya sedang menunjukkan kerapuhan dan keroposnya jiwa mereka sendiri. Sifat agresif tersebut merupakan topeng untuk menutupi rasa minder, kecemasan, atau luka batin yang belum selesai dalam diri pelakunya (inner child yang terluka). Mereka merendahkan orang lain agar diri mereka yang kerdil bisa merasa “lebih tinggi”.

Lalu, mengapa kita membiarkan kedamaian hati kita hancur hanya karena luapan emosi dari jiwa-jiwa yang sedang sakit tersebut? Mengapa harga diri kita harus jatuh hanya karena gunjingan orang lain? Sifat pemaaf dan keteguhan hati Anda justru akan mengangkat derajat Anda di sisi Allah, sebagaimana janji Rasulullah ﷺ:

“Tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba sifat pemaaf melainkan kemuliaan (di dunia dan akhirat).” (HR. Muslim)

Anda adalah apa yang Anda lakukan di hadapan Allah, bukan cerminan dari rusaknya mental orang yang menghina Anda.

3. Kemenangan Sejati Adalah Ketenangan Akhlak

Sering kali kita terjebak dalam ilusi bahwa memenangkan perdebatan atau berhasil membungkam musuh adalah puncak kepuasan. Padahal, kemenangan dalam debat kusir biasanya menyisakan hati yang keras dan dendam yang tak berkesudahan.
Rasulullah ﷺ bahkan memberikan jaminan khusus bagi orang-orang yang mau mengalah dalam perdebatan demi menjaga kedamaian hati:

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan meskipun dia berada di pihak yang benar.” (HR. Abu Dawud)

Kehormatan sejati seorang manusia di era modern ini lahir dari kemampuannya mengendalikan diri. Di saat semua orang memilih untuk membalas dengan narasi yang sama kejamnya, keindahan akhlak Anda yang tetap tenang dan anggun akan menjadi pembeda yang benderang.

Sebuah Renungan Penutup

Pada akhirnya, hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan meladeni setiap gonggongan kebencian. Kita tidak perlu melempari setiap anjing yang menggonggong di sepanjang jalan kita, karena itu hanya akan membuat perjalanan kita terhenti.
Mari kita jadikan tuntunan Rasulullah ﷺ dan nasihat Imam Asy-Syafi’i sebagai perisai pelindung jiwa kita. Tetaplah melangkah di jalan yang benar, rawatlah ketenangan hatimu, dan biarkan waktu yang membuktikan bahwa ketulusan dan akhlak mulia akan selalu menemukan tempat terhormatnya—baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Advertisement
Advertisement

Tinggalkan Komentar