Cerpen Absurd

Karya: Gus Nas Jogja

Banjir yang Menelan Waktu dan Keimanan. Sumatera sedang melarungkan dirinya sendiri dalam pusaran Banjir Bandang dan gelombang lumpur. Di pesisir yang biasanya riuh oleh deru mesin sawit, kini hanya ada orkestra air cokelat yang mendidih. Aku berdiri di atas sisa jembatan yang terputus di Lembah Anai, memandang dunia yang telah berubah menjadi hamparan cermin keruh.

Di sini, di tengah bencana yang melumpuhkan nalar, aku datang sebagai Sang Peziarah—bukan mencari makam yang tenang, melainkan mencari jejak “Dia” yang katanya berjalan di tengah terang namun tak terlihat oleh mata yang silau akan angka.

Hujan belum benar-benar berhenti. Langit berwarna abu-abu seperti wajah orang yang sudah lama tidak tidur. Di kejauhan, sisa-sisa rumah hanyut seperti kotak korek api yang dibuang raksasa. Inilah panggung absurditas: di mana prestasi akademik tak bisa menghentikan air, dan rapor merah tak lagi berarti saat nyawa berada di ujung dahan pohon andalas.

Pertemuan di Pasar yang Tenggelam

Aku berjalan menyusuri pasar di pinggiran daerah terdampak banjir bandang. Pasar itu kini hanya berupa sisa-sisa lapak yang terendam hingga pinggang. Di sanalah aku melihatnya. Seorang lelaki tua, dengan jubah yang lebih mirip kain pel kotor, berdiri di atas sebongkah kayu hanyut. Ia menengadahkan tangan kepada orang-orang yang sedang sibuk menyelamatkan sisa harta mereka.

“Sedekahnya, Tuan… Sedekah untuk menyelamatkan tanganmu sendiri,” suaranya serak, bersaing dengan gemuruh arus.

Pemandangan itu terasa sangat surrealis. Di tengah bencana, di mana semua orang ingin menerima bantuan, dia justru mengemis. Orang-orang mencibir. “Dasar pengemis tak tahu diri, air sudah di leher masih sempat meminta-minta!”

Namun, matanya… matanya tidak meminta. Matanya adalah telaga yang tenang, seolah ia sedang melakukan ritual suci. Aku teringat kisah dalam Salalim Al-Fudhola. Apakah ini jenis faqir ketiga? Yang meminta bukan karena lapar, melainkan karena ingin menjadi jembatan bagi keselamatan orang lain dari sifat bakhil dan bahlil di tengah krisis?

Emas di Tengah Lumpur


Aku mendekatinya. Dalam tas ranselku, aku membawa sisa-sisa hartaku sebagai peziarah: sekeping emas murni pemberian guruku, beratnya tepat seratus dinar ditambah segenggam kecil butiran emas sebagai cadangan. Aku ingat wasiat Syaikh Junaid Al-Baghdadi. Pengair dan Waliyullah absurd ini mengajarkanku bahwa kebenaran sering kali disembunyikan dalam bungkus yang paling kita benci.

“Wahai Syaikh,” kataku, suaraku bergetar terkena percikan air banjir. “Ambillah ini. Ini sedekahku. Selamatkan aku dari kekikiran ini.”

Lelaki itu—Sang Wali Rajab yang menyamar—menerimanya dengan tangan yang kasar dan berlumpur. Ia tidak mengucapkan terima kasih. Ia justru mengeluarkan sebuah timbangan kuno dari balik jubahnya yang basah kuyup. Di atas kayu hanyut itu, di tengah banjir bandang yang bisa menyeret kami kapan saja, ia mulai menimbang emas itu.

Adegan itu Absurd. Dunia sedang kiamat kecil, dan dia sibuk menimbang emas.

Setelah beberapa saat, ia mengambil segenggam butiran emas yang merupakan kelebihan dari seratus dinar itu. Sisanya, kepingan emas murni seratus dinar itu, ia lemparkan kembali ke dadaku hingga aku hampir terjatuh ke dalam arus cokelat.

“Hanya ini yang menjadi hak-ku untuk kau berikan,” ucapnya puitis, suaranya kini terdengar seperti guntur yang merdu. “Sisanya adalah bebanmu. Kau ingin bersedekah untuk menyelamatkan dirimu, tapi kau memberi lebih dari apa yang diminta jiwamu secara jujur. Kau hanya ingin pamer kepada Tuhan.”

Aku terpaku. Seratus dinar emas itu kini terasa lebih berat dari seluruh banjir yang menggenang di Sumatera. Sang Wali Rajab tersenyum. Ia tidak pergi menjauh, ia seolah-olah perlahan menyatu dengan kabut hujan dan uap air banjir.

Di atas puing-puing Sumatera yang terluka, aku menyadari bahwa aku adalah peziarah yang sombong. Aku datang membawa prestasi “sedekah” untuk menutupi ketakutanku akan bencana. Sang Wali Rajab mengajariku bahwa Ketangguhan Mental yang sejati bukan terletak pada berapa banyak yang kita miliki atau kita beri, melainkan pada ketajaman kita membedakan mana yang “Hak” dan mana yang “Keinginan Ego”.

Banjir ini adalah dekonstruksi. Ia menghapus ijazah, ia merendam rapor, ia menenggelamkan status. Yang tersisa hanyalah manusia-manusia faqir di hadapan semesta.

Ada yang masuk kelompok Ruhaniyyin, yang diam dalam harga diri meski perut melilit.

Ada yang bersama Muqorrobin, yang menerima ujian air dengan ridho.

Dan ada Sang Wali, yang bertindak absurd sebagai pengemis hanya agar manusia tidak mati sebagai orang bakhil dan bahlil di saat terakhir mereka.

Keheningan di Balik Gemuruh

Hujan mulai reda. Lelaki tua itu hilang. Yang tersisa hanyalah butiran emas segenggam di tangannya yang mungkin akan ia berikan kepada yatim piatu di tenda pengungsian sana. Aku berdiri sendiri di tengah lumpur, memegang seratus dinar yang ditolaknya.

Aku kini paham. Di dunia yang sedang Overload dengan beban dan caci-maki, kebenaran sering kali menyamar menjadi sesuatu yang kita pandang rendah. Wali Allah tidak selalu duduk di singgasana cahaya; kadang ia berdiri di tengah banjir bandang Sumatera, menadahkan tangan, bukan untuk mengisi perutnya, tapi untuk mengosongkan beban dosa di tangan kita.

“Jangan kau cari Tuhan di menara yang tinggi jika kau belum bisa menemukan-Nya dalam tangan seorang pengemis yang jujur di tengah lumpur.”

***

Apa yang dilakukan Sang Wali di tengah banjir Sumatera bukan sekadar tindakan absurd; itu adalah sebuah Kritik Epistemologis terhadap cara kita memberi. Dalam kacamata ekonomi spiritual, emas yang dikembalikan adalah simbol dari “Beban Ego” yang seringkali kita selipkan dalam amal ibadah.

Dalam kitab Salalim Al-Fudhola, tindakan mengambil hanya segenggam dan membuang sisanya adalah manifestasi dari tingkat Ahli Hikmah. Sang Wali tidak membutuhkan emas itu; ia hanya membutuhkan “Hak” atau niat yang murni dari Sang Peziarah. Sisanya, yang berjumlah seratus dinar, adalah “kebisingan” atau upaya kita untuk “membeli” Tuhan dengan angka. Ini adalah tamparan bagi masyarakat kita yang terjebak dalam Banalitas Angka—di mana kesalehan seringkali diukur dari besarnya donasi yang diunggah ke media sosial.

Timbangan yang dikeluarkan dari balik jubah lusuh itu adalah simbol Keadilan Kosmik. Di dunia yang sedang overload dengan informasi dan pencitraan, kita kehilangan alat ukur untuk menentukan mana yang esensial dan mana yang artifisial. Sang Wali hadir membawa kembali “Timbangan” itu ke tengah banjir, mengingatkan kita bahwa di hadapan bencana, hanya kejujuran yang memiliki berat.

Estetika “Pengemis Surgawi”

Secara sastrawi, tokoh Sang Wali Rajab adalah antitesis dari pahlawan konvensional. Ia tidak menghentikan banjir dengan tongkat Musa yang sakti; ia justru “mengemis” di tengah banjir.

Tindakan mengemis di tengah bencana adalah puncak dari Surrealisme Spiritual. Ia menempatkan dirinya di posisi paling rendah sebagai pengemis untuk memberikan kesempatan bagi orang lain berada di posisi yang tinggi dari Sang Pemberi. Ini adalah dialektika tentang “Ketinggian dalam Kerendahan”.

Wali Rajab ini mengingatkan kita pada pemikiran Samuel Beckett dalam Waiting for Godot, di mana penantian akan sesuatu yang transenden seringkali terjadi dalam situasi yang tampak sia-sia dan absurd. Bedanya, Sang Wali tidak menunggu; ia menjadi “Godot” itu sendiri dalam rupa pengemis yang berlumpur.

Doa yang Menyamar sebagai Keluhan

Aku, Sang Peziarah, berdiri mematung memandang emas yang dikembalikan. Aku menyadari bahwa banjir bandang di Sumatera ini bukan hanya tentang perpindahan air dan tanah, tetapi tentang Perpindahan Kesadaran.

Sang Wali Rajab yang bersembunyi dalam terang adalah pengingat akan konsep Malamitiyah—mereka yang sengaja menyembunyikan kewaliannya di balik perilaku yang dipandang rendah oleh publik agar terjaga dari fitnah pujian. Di era Pasca-Kebenaran, di mana semua orang berlomba-lomba nampak suci di depan kamera, Sang Wali justru berlomba-lomba nampak hina agar hanya Allah yang mengetahui rahasianya.

Pulang dari Peziarahan Lumpur


Aku meninggalkan lokasi banjir dengan tas yang lebih ringan, meski emas seratus dinar itu masih ada di sana. Beratnya kini berbeda; ia tidak lagi berat karena nilainya, tapi berat karena tanggung jawabnya.

Sumatera masih basah. Langit masih mendung. Namun, di dalam dadaku, banjir telah surut. Aku telah bertemu dengan Kebenaran yang Tak Bersolek. Aku telah melihat bahwa dalam dunia yang overload dengan beban pencapaian akademik dan prestasi formal, hanya mereka yang berani menjadi “faqir” di hadapan-Nya yang akan menemukan jalan pulang.

“Wali itu tidak hilang, ia hanya kembali menyamar ke dalam kerumunan. Mungkin esok ia menjadi tukang parkir yang menolak uang lebihmu, atau sopir truk yang memberimu jalan di tengah macetnya Jogja di saat Natal dan Tahun Baru. Ia ada di sana, menjaga timbangan dunia agar tidak miring oleh kesombongan kita.”

Advertisement
Artikulli paraprakSinyal Kegagalan Pemerintahan Prabowo: Hutang, Penanganan Korupsi Stagnan dan Polarisasi
Artikulli tjetërG2RT – KT Tanjung Banon: Inovasi Pergerakan Ikonik Global pada Kawasan Transmigrasi Sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru

Tinggalkan Komentar