
Oleh: Sobirin Malian (Dosen FH UAD)
Selama ini, kita mungkin keliru menempatkan pahlawan. Kita memperlakukan mereka layaknya artefak museum: dikagumi dari balik kaca, dipuja dalam seremoni tahunan, namun terasa asing dalam denyut keseharian. Kita terjebak dalam mitos bahwa kepahlawanan adalah ledakan besar di masa lalu, atau sosok “juru selamat” yang kelak turun dari langit untuk memberesi kekacauan dunia.
Padahal, pahlawan bukanlah sebuah titik henti dalam sejarah. Ia adalah denyut nadi yang harus kita hidupkan di sini, dan saat ini.
Bahaya dari Budaya “Menunggu”
Kesalahan terbesar kita hari ini adalah memelihara budaya menunggu. Kita membiarkan krisis membusuk dan ketidakadilan merajalela hanya karena merasa tidak memiliki “mandat” untuk bergerak. Kita menangguhkan tanggung jawab moral kepada sosok imajiner yang kita harap akan datang membawa keajaiban.
Tanpa sadar, kita menjadi penonton di negeri sendiri, sementara potensi kebajikan dalam diri kita terasing dalam kesunyian. Ingatlah apa yang pernah dikatakan oleh Edmund Burke: “Satu-satunya hal yang diperlukan agar kejahatan menang adalah ketika orang-orang baik tidak melakukan apa pun.”
Keheningan yang Menghidupkan
Di era digital, mata kita sering kali buta dalam mengenali keteladanan. Algoritma media sosial menjebak kita untuk lebih memuja mereka yang bising dan penuh sensasi, daripada mereka yang bekerja dalam senyap demi maslahat.
Kita seolah lupa pada pesan bijak Jalaluddin Rumi: kreasi lahir dalam keheningan, sedangkan kehancuran datang dengan kebisingan. Lihatlah pohon; saat ia tumbuh memberikan oksigen, ia tak pernah bersuara. Namun, saat ia tumbang, ia menimbulkan dentum yang memekakkan telinga. Pertanyaannya: apakah kita akan terus memberi panggung pada kegaduhan yang kosong, atau mulai belajar menyimak keheningan yang berisi?
Kepahlawanan Tanpa Lampu Sorot
Kepahlawanan sejati tidak butuh lampu sorot. Ia ada pada kejujuran seorang pegawai yang dengan tegas menolak suap. Ia hadir pada ketekunan guru di pelosok yang tak terjangkau sinyal. Ia hidup pada keberanian Anda untuk tetap berbuat baik, meski tak ada satu pun kamera yang merekamnya.
Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan orang baik. Kita hanya kekurangan kemauan untuk mengapresiasi kebaikan-kebaik kecil tersebut agar menjadi arus utama di ruang publik. Kita tidak butuh satu pahlawan untuk memimpin jutaan orang; kita butuh jutaan orang yang memiliki mentalitas pahlawan dalam setiap tindakan sederhana mereka.
Menjadi Jawaban
Sebuah negeri menjadi murung bukan karena ketiadaan pahlawan, melainkan karena rakyatnya terus-menerus “memerlukan” pahlawan sebagai pelarian dari tanggung jawab kolektif.
Pahlawan tidak untuk dinanti, melainkan untuk digali dari dalam diri. Ia bukan tentang siapa yang paling keras berteriak di mimbar, tapi tentang siapa yang paling teguh menjaga api integritas di tengah badai godaan. Sebagaimana kutipan dari Barack Obama: “Kita adalah orang-orang yang kita tunggu-tunggu. Kita adalah perubahan yang kita cari.”
Maka, mari berhenti menunggu penyelamat. Mulailah menatap cermin, dan jadilah jawaban atas persoalan yang ada di depan mata kita sendiri











