Puisi Pril Huseno

Sangkar besi tlah patah
Lelaki berjalan lepas luar gerbang
Penuh kekejian dan hina
Tembok tinggi penjara ujung timur kota.
Terhuyung pelan hendak ke mana menuju
Semua sanak menutup pintu
Air mata, telah lama ia titipkan di pagar penjara
Malam, mengajaknya berbincang
Tentang rencana demi rencana
Yang telah dikira.
Ternyata, ia tak punya rencana.
Hanya ingin lepas begitu saja.
Lalu lapar menerjang mendera
Hanya ada sedikit dana hasil jualan narkoba
Di sel penjara.
Lelaki nanar natap penjual suguhan
Makan malam bersama kolega
Itu kebiasaannya dulu
Dinas tugas santap hiburan malam mabuk dansa
Lalu lelap di dada perempuan hingga pagi menyapa.
Lelaki makan dengan lahap
Mengunyah sial, menelan duka
Masuk bel dari anak tercinta semata wayang
‘’Ayah di mana…’’
Lelaki titik air mata, pertama sejak ia titipkan
Itu air mata.
Ia menjawab sedang di rumah kolega, seperti dulu
Tekad hendak pulang, berjalan ia menyeret langkah
Gontai melata jalan
Bersua ia dengan dua belia mabuk
Meracau acungkan belati ke sana ke mari
Lelaki sigap menghindar
Apa daya tangan si belia sanggup ia piting
Belati masuk ke dada belia mabuk,
mati dia.
Malang, petugas datang
Lelaki digelandang…
Sangkar besi tiada jadi patah’
Tapi tlah mengurungnya kembali
Lelaki lama menunggu waktu yang binasa

Jakarta, 12 Agustus 2026

Advertisement

Tinggalkan Komentar