Sastra Bulan Purnama Spesial
Yogyakarta, Kansnews.com – Kali ini, Sastra Bulan Purnama (SBP) spesial, akan menyajikan puisi yang terkumpul dalam buku berjudul ‘Para La Vida’, diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Beberapa penyair yang menulis dalam buku ini, diantaranya Afnan Malay, Ahmad Munjid, FX. Rudy Gunawan, Nezar Patria dan beberapa penyair lainnya.
Tajuk dari SBP Spesial, ‘Puisi dalam Diplomasi Budaya dan Komunikasi Politik’, akan diselenggarakan, Minggu, 20 September 2026, pkl. 15.30 di Museum Sandi, Jl. Faridan M Noto No.21, Kotabaru, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55224
Ons Untoro, Koordinator Sastra Bulan Purnama menyampaikan, Sastra Bulan Purnama seringkali menambah pertunjukkan sastra, dalam hal ini pembacaan puisi, diluar acara rutin bulanan, dan biasanya diberi label spesial.

“Pembacaan puisi para aktivis dan sekaligus penyair, beberapa di antaranya pejabat negara, merupakan acara spesial, karena acara reguler sudah dilakukan awal bulan September lalu,” jelas Ons Untoro
Menggagas sebuah antologi puisi lintas bangsa, yaitu antologi puisi dua negara dalam dua bahasa, merupakan gagasan kreatif yang relevan dengan upaya memperkuat diplomasi kebudayaan antar negara. Gagasan kreatif ini juga memiliki nilai terobosan baru karena selama ini pengembangan diplomasi kebudayaan lebih banyak memanfaatkan seni pertunjukan. Sastra, khususnya puisi, terbilang masih jarang mengisi ruang diplomasi kebudayaan.
Program residensi umumnya hanya menghasilkan karya personal, maka jika sebuah residensi bisa menghasilkan antologi puisi penyair dua negara, ini merupakan sebuah langkah maju di dunia kebudayaan. Mungkin baru untuk pertama kalinya sebuah program residensi menghasilkan karya kolaborasi. Dan itulah yang dilakukan dua sastrawan Jogjakarta, FX Rudy Gunawan dan Afnan Malay, penulis antologi puisi berjudul To Kill the Invisible Killer (Antologi Puisi Melawan Covid 19) yang diterbitkan Kepustakaan Popular Gramedia (KPG), Juni 2020.

Mereka residensi di Chile, Amerika Selatan, atas undangan Fundacion Jovenes Cambiando el Mundo (Yayasan Pemuda Mengubah Dunia). Sebuah yayasan yang dilandasi ide kepedulian pada pengentasan kemiskinan, ketidakadilan dan inklusi melalui media seni. Program residensi kolaborasi puitik inilah yang layak mendapat dukungan dari semua stake holder kebudayaan. Selama satu bulan residensi ( Desember 2022 – Januari 2023) mereka langsung mempersiapkan kolaborasi karya dengan sejumlah penyiar Chile.
Program ini selain menjadi sebentuk diplomasi kebudayaan juga memperluas jejaring melalui karya kolaboratif. Proses dimulai dengan serangkaian diskusi bersama sejumlah penyair Chile untuk merumuskan frame work kolaborasi, mulai dari menentukan tema, proses penerjemahan sampai timeline penerbitan buku. Setelah menyepakati frame work karya bersama bertema refleksi kemanusiaan di tengah dunia yang menghadapi perubahan besar sejak pandemi, para penyair pun langsung mulai berkarya.
Tema utama yang dirumuskan oleh para penyair dua negara adalah reflection about humanity in term of social, political, economy and cultural relations among people, among nations. What kind of relations we should create for our future to strengten our existence as human being and to build peace and harmony while humanity threaten by artificial intellegent, information technology and bio technology. Ini merupakan tema yang sangat kontekstual dan penting untuk menjawab berbagai persoalan aktual dewasan ini. Harapannya antologi puisi dua negara dalam dua bahasa hasil residensi ini bisa memicu diskusi lebih luas dan menginsipirasi seniman dan budayawan di berbagai belahan dunia.
Kegiatan bulanan komunitas Sastra Bulan Purnama (SBP) yang sudah berlangsung selama 15 tahun, mengusung tema ‘Puisi dalam Diplomasi Budaya dan Komunikasi Politik’. Adapun buku yang menjadi trigger adalah antologi puisi dua negara (Indonesia dan Chile) berjudul Para la Vida yang menampilkan puisi dari para penyair Indonesia dan Chile dalam dua bahasa, Indonesia dan Spanyol sebagai hasil dari program residensi yang dilakukan FX Rudy Gunawan dan Afnan Malay.

Rudy adalah alumni Fakultas Filsafat UGM dan Magister Humaniora di Universitas Sanata Dharma bidang Kajian Budaya, saat ini sedang studi S3 di Filsafat UGM. Ia adalah seorang jurnalis dan penulis yang pernah menjadi tenaga ahli di KSP (Kantor Staf Presiden). Ia juga pendiri Perkumpulan Seni Indonesia, pendiri penerbit GagasMedia, pendiri majalah khusus tentang disabilitas “Diffa”, pendiri Koran Desa dan pernah menjadi Editor in Chief Voice of Human Rights (VHR). Rudy telah menulis sekitar 45 buku mulai dari novel, kumpulan esai, kumpulan cerpen, biografi tokoh, wacana filsafat dan karya investigasi jurnalistik.
Sedangkan Afnan adalah alumnus fakultas hukum UGM, pernah menjadi presidium AJI (Aliansi Jurnalis Independen) pasca kongres Surabaya (1999). Pernah menjadi staf khusus Menteri Pertanian (2014-2019) sebelumnya tenaga ahli ketua MPR, Taufiq Kiemas dan Sidarto Danusubroto. Menerbitkan antologi puisi Tentang Presiden dan Pelajaran Membaca (2020), Puisi-puisinya dimuat dalam antologi bersama penyair Indonesia, 123 Purnama (2021) dan Pulang Ke Rumahmu (2022).
Selain talkshow dengan narasumber Nezar Patria Wamen Komdigi dan Mohammad Anshor Staf Khusus Menteri Luar Negeri, dan akan dipandu Arie Sujito Wakil Reltor 3 UGM, acara ini akan dimeriahkan oleh pembacaan puisi dari sejumlah tokoh, aktivis dan penyair dengan iringan biola. Mereka antara lain Ahmad Munjid, Faisol Riza (Wamen Perindustrian), Amiruddin (Komisioner Komnas HAM), Mugianto (Wamen HAM), Esther Yusuf (Tenaga Ahli Wamen HAM), Afnan Malay, FX Rudy Gunawan, Ifdhal Kasim (Ketua Peradi), Mulyadi Siregar (Steering Committe Lembaga Administrasi Negara), Jasmine Azahra dan Irwan Dwi Kustanto (penyair tunanetra). (*)










