Oleh: Denny JA

Bayangkan seorang anak berdiri di antara puing rumahnya. Debu menempel di rambut. Di belakangnya, sebuah kota kehilangan bentuk. Di tangannya, tak ada senjata. Hanya sebuah botol kosong.

Mungkin ia mencari air. Mungkin mencari keluarganya. Kita tidak mengenal namanya. Tetapi gambar-gambar serupa dari Gaza, hari demi hari, membuat jutaan orang Amerika melihat wajah seperti itu.

Di zaman ini, perang dapat berlangsung ribuan kilometer jauhnya. Namun satu wajah yang terluka dapat memasuki ruang keluarga, lalu perlahan mengubah percakapan sebuah bangsa.

-000-

Sesuatu memang sedang berubah di Amerika Serikat. Bukan perubahan sederhana. Bukan pula berarti Amerika tiba-tiba menjadi anti-Israel, apalagi membenarkan Hamas. Yang berubah adalah peta simpati.

Dukungan yang dahulu sangat condong kepada Israel kini semakin terbelah, terutama ketika publik menilai perang di Gaza dan cara perang itu dijalankan.

Gallup pada Februari 2026 menemukan 41 persen warga Amerika lebih bersimpati kepada Palestina, sementara 36 persen lebih bersimpati kepada Israel. Untuk pertama kalinya dalam seperempat abad, Israel tidak lagi unggul.

Secara statistik, Gallup menegaskan selisih lima poin itu belum signifikan, karena margin kesalahannya empat poin. Karena itu, tidak tepat mengatakan secara mutlak bahwa Amerika kini memilih Palestina.

Namun sejarah angkanya mencolok. Pada 2018, simpati kepada Israel mencapai 64 persen, sedangkan Palestina hanya 19 persen. Sejak itu, jarak tersebut cenderung menyempit.

Pada 2024, perbandingannya masih 51 melawan 27. Tahun 2025 menjadi 46 melawan 33. Pada 2026, angkanya berbalik menjadi 36 melawan 41.

Yang lebih mengejutkan, survei Februari 2026 itu dilakukan beberapa bulan setelah gencatan senjata. Perang besar telah mereda, tetapi simpati tetap bergerak. Ingatan rupanya bekerja lebih lama daripada perang.

Inilah perubahan sesungguhnya. Bukan kemenangan satu pihak dalam opini publik, melainkan hilangnya keunggulan simpati yang selama lebih dari dua dekade dinikmati Israel.

Pew Research Center memberikan potret lain. Survei 4 sampai 17 Mei 2026 menemukan 62 persen warga Amerika berpandangan negatif terhadap pemerintah Israel. Pada 2022, angkanya baru 43 persen.

Namun di sinilah kehati-hatian intelektual diperlukan. Pemerintah Israel bukan rakyat Israel. Israel bukan Netanyahu. Palestina bukan Hamas. Setiap pasangan itu harus dipisahkan agar kita tidak tergelincir pada kesimpulan yang keliru.

Ketika membaca angka-angka ini, bagian yang paling mengusik bagi saya justru bukan 41 melawan 36. Yang lebih bermakna adalah jarak antara penilaian terhadap pemerintah dan terhadap rakyatnya.

Terhadap rakyat Israel, 52 persen warga Amerika masih berpandangan positif. Terhadap rakyat Palestina, angkanya 50 persen. Keduanya hampir berimbang, jauh berbeda dari penilaian terhadap pemerintah Israel.

Hamas justru tetap sangat tidak populer. Sebanyak 84 persen warga Amerika memiliki pandangan negatif terhadap Hamas, menurut survei Pew yang sama. Hanya sepuluh persen yang memandangnya positif.

Karena itu, meningkatnya simpati kepada Palestina tidak dapat disederhanakan sebagai dukungan kepada Hamas. Justru di sanalah perubahan opini Amerika menjadi lebih menarik untuk dibaca.

Publik semakin membedakan sebuah bangsa dari pemerintahnya, korban sipil dari kelompok bersenjata, serta hak atas keamanan dari cara sebuah perang dijalankan.

Mengapa pergeseran sebesar itu terjadi? Setidaknya ada tiga penjelasan: cara perang dilihat, lensa generasi muda, dan politik Amerika sendiri yang sedang terbelah.

-000-

PERTAMA, GAZA MENGUBAH CARA PERANG DILIHAT

Tanggal 7 Oktober 2023 tetap menjadi luka besar. Hamas menyerang Israel, membunuh warga sipil dan membawa sandera. Trauma yang ditinggalkan serangan itu nyata dan tidak boleh dilupakan.

Tetapi setelah itu perang memanjang. Kamera terus bekerja. Setiap hari, publik Amerika juga menyaksikan wajah lain konflik: kehancuran kota, kelaparan, dan penderitaan warga Palestina.

Persepsi sebagian publik pun bergeser. Konflik tidak lagi semata dilihat sebagai persoalan keamanan Israel menghadapi Hamas, tetapi juga sebagai tragedi kemanusiaan yang menimpa warga Gaza.

Gallup pada Juli 2025 menemukan hanya 32 persen warga Amerika menyetujui operasi militer Israel di Gaza. Sebanyak 60 persen menyatakan tidak setuju. Itulah angka terendah sejak pengukuran dimulai.

Bandingkan dengan November 2023. Ketika Gallup pertama kali mengukurnya, 50 persen masih menyetujui operasi militer Israel, sedangkan 45 persen tidak menyetujuinya.

Pew menemukan pola serupa. Pada September 2025, 39 persen mengatakan operasi Israel terhadap Hamas telah berjalan terlalu jauh, naik dari 27 persen pada akhir 2023.

Polling tentu tidak membuktikan bahwa gambar penderitaan Gaza sendirian menyebabkan perubahan tersebut. Korelasi opini tidak otomatis menjelaskan seluruh rantai sebab akibat.

Namun urutan waktunya penting. Ketika perang memanjang, dukungan terhadap operasi militer Israel menurun, sementara kekhawatiran terhadap nasib warga sipil semakin menguat.

Perang modern ternyata berlangsung di dua medan. Yang pertama adalah tanah tempat tentara bertempur. Yang kedua adalah layar tempat dunia memberikan penilaian.

Tank dapat menghancurkan bangunan dalam hitungan detik. Tetapi sebuah foto anak di antara reruntuhan dapat tinggal dalam ingatan manusia selama bertahun-tahun.

-000-

KEDUA, GENERASI MUDA MELIHAT DENGAN LENSA BERBEDA

Generasi Amerika yang lebih tua tumbuh dengan memori Holocaust, Perang Dingin, dan kisah Israel sebagai negara kecil yang berjuang mempertahankan eksistensinya di tengah tetangga yang memusuhinya.

Generasi muda memasuki cerita itu melalui pintu berbeda. Mereka tumbuh bersama media sosial, diskursus hak asasi, ketimpangan kekuasaan, politik identitas, dan gambar penderitaan sipil.

Akibatnya, dua generasi dapat menyaksikan konflik yang sama, membaca sejarah yang sama, tetapi sampai pada intuisi moral yang sangat berbeda.

Pew Mei 2026 menemukan hanya 32 persen warga Amerika berusia 18 sampai 29 tahun berpandangan positif terhadap rakyat Israel. Terhadap rakyat Palestina, angkanya 58 persen.

Terhadap pemerintah Israel, penilaian positif kelompok muda itu bahkan hanya 18 persen. Angka ini menunjukkan jarak yang sangat lebar antara generasi baru dan sikap resmi Washington.

Bandingkan dengan warga berusia 65 tahun ke atas. Sebanyak 68 persen masih berpandangan positif terhadap rakyat Israel dan 47 persen terhadap pemerintah Israel.

Perbedaan ini penting karena generasi bukan sekadar kategori statistik. Generasi adalah waktu yang sedang berjalan menuju masa depan, membawa ingatan dan luka zamannya sendiri.

Mahasiswa hari ini kelak menjadi senator, profesor, jurnalis, pengusaha, diplomat, pemimpin organisasi, dan pembentuk opini Amerika dua puluh tahun mendatang.

Karena itu, perubahan terdalam mungkin bukan apa yang dipikirkan Amerika hari ini. Yang lebih penting adalah memori moral yang sedang dibentuk pada generasi berikutnya.

-000-

KETIGA, POLITIK AMERIKA SENDIRI SEDANG TERBELAH

Selama puluhan tahun, dukungan kepada Israel menjadi salah satu sedikit wilayah kesepakatan Republikan dan Demokrat. Kini, wilayah itu ikut terseret ke dalam polarisasi politik Amerika.

Pada Mei 2026, 51 persen Republikan masih berpandangan positif terhadap pemerintah Israel. Di kalangan Demokrat, angkanya hanya 16 persen. Jaraknya lebih dari tiga kali lipat.

Bahkan terhadap rakyat Israel, jarak itu terasa. Sebanyak 65 persen Republikan berpandangan positif, sementara di kalangan Demokrat hanya 43 persen. Israel kian dibaca melalui kacamata partai.

Gallup memperlihatkan pola yang sama terhadap perang. Pada Juli 2025, 71 persen Republikan menyetujui operasi militer Israel di Gaza. Di kalangan Demokrat, persetujuan itu tinggal 8 persen.

Retakan itu bahkan mulai muncul di dalam kubu Republikan sendiri. Survei Pew Maret 2026 menemukan 57 persen Republikan berusia 18 sampai 49 tahun berpandangan negatif terhadap Israel, naik dari 50 persen setahun sebelumnya. Garis generasi kini memotong garis partai.

Kelompok independen, penentu banyak pemilu Amerika, juga bergeser. Pada Februari 2026, mereka lebih bersimpati kepada Palestina daripada Israel, dengan perbandingan 41 melawan 30 persen.

Ketika sebuah isu luar negeri menjadi penanda identitas partai, sikap terhadapnya tidak lagi hanya ditentukan peristiwa di Gaza, tetapi juga oleh siapa yang membela dan menentangnya di Washington.

Maka sesungguhnya tidak ada satu “Amerika”. Ada yang muda dan tua. Ada Republikan dan Demokrat, masing-masing dengan ingatan sejarah yang berbeda.

Masing-masing melihat perang yang sama dari jendela pengalaman yang berbeda. Dan dari jendela itulah simpati politik perlahan dibentuk, lalu diwariskan.

-000-

Pergeseran persepsi ini tidak lahir di ruang hampa. Untuk memahami akar historis dan pemicu emosional di balik pembacaan publik Amerika yang terus berubah, dua buku kunci ini memberikan panduan mendalam.

Dua buku membantu kita memahami mengapa konflik ini begitu sulit dimasukkan ke dalam kotak moral yang sederhana, dan mengapa publik Amerika membacanya dengan cara yang terus berubah.

BUKU PERTAMA: THE HUNDRED YEARS’ WAR ON PALESTINE

Rashid Khalidi, Metropolitan Books, 2020

Khalidi membaca konflik dari perspektif sejarah Palestina. Ia menempatkan kehilangan tanah, pengungsian, perang, pendudukan, dan ketimpangan kekuasaan dalam rangkaian sejarah panjang sejak 1917.

Kekuatan buku ini terletak pada pertemuan arsip dengan pengalaman keluarga Khalidi sendiri. Palestina hadir bukan sebagai abstraksi geopolitik, tetapi sebagai manusia dengan ingatan.

Khalidi menggunakan kerangka kolonialisme pemukim untuk membaca sejarah tersebut. Kerangka itu diperdebatkan, tetapi berpengaruh besar dalam diskursus akademik dan aktivisme kontemporer di kampus Amerika.

Ia juga menyoroti peran Amerika sebagai penyokong utama Israel. Buku ini membantu memahami mengapa sebagian generasi baru membaca Palestina melalui bahasa perampasan tanah dan hak menentukan nasib.

-000-

BUKU KEDUA: MY PROMISED LAND: THE TRIUMPH AND TRAGEDY OF ISRAEL

Ari Shavit, Spiegel & Grau, 2013

Shavit membawa pembaca memasuki kontradiksi Israel dari dalam. Ia menulis tentang idealisme Zionisme, pencapaian Israel, ancaman eksistensial, tetapi juga tragedi yang menyertainya.

Buku ini menolak kenyamanan moral sederhana. Israel tampil sekaligus sebagai proyek keselamatan sebuah bangsa dan sebagai bagian sejarah yang membawa penderitaan bagi bangsa lainnya.

Kekuatan Shavit terletak pada keberaniannya menampung dua kenyataan sekaligus. Ketakutan orang Yahudi mempunyai sejarah. Pengalaman kehilangan orang Palestina juga mempunyai sejarah.

Buku ini juga membantu memahami mengapa generasi Amerika yang lebih tua tetap melihat Israel sebagai tempat berlindung. Bagi mereka, Israel adalah jawaban atas trauma, bukan sekadar sebuah negara.

Membaca Shavit berdampingan dengan Khalidi mengajarkan sesuatu. Konflik ini terlalu dalam untuk dipahami hanya dengan satu memori, satu luka, atau satu narasi moral.

-000-

KONTRA-ARGUMEN: JANGAN TERLALU CEPAT MENGATAKAN AMERIKA BERUBAH

Ada argumen kuat bahwa kesimpulan mengenai perubahan Amerika terlalu jauh. Hubungan Amerika dan Israel jauh lebih dalam daripada fluktuasi beberapa tahun polling.

Israel tetap mitra strategis Amerika. Hamas tetap dinilai sangat negatif. Rakyat Israel bahkan masih memperoleh penilaian positif dari mayoritas tipis masyarakat Amerika.

Gallup sendiri mengingatkan bahwa keunggulan Palestina sebesar lima poin pada Februari 2026 tidak signifikan secara statistik. Jadi jangan mengumumkan revolusi opini terlalu cepat.

Argumen itu layak dihormati. Namun jawabannya juga kuat. Yang penting bukan satu angka pada satu waktu, melainkan arah perubahan dalam rentang beberapa tahun.

Dari 2018 sampai 2026, simpati Gallup kepada Israel turun dari 64 menjadi 36 persen. Pada periode yang sama, simpati kepada Palestina naik dari 19 menjadi 41 persen.

Pew menunjukkan arah serupa melalui pertanyaan berbeda. Survei Maret 2026 menemukan 60 persen warga Amerika berpandangan negatif terhadap Israel sebagai negara, naik dari 42 persen pada 2022.

Dalam survei yang sama, 59 persen menyatakan sedikit atau sama sekali tidak percaya kepada Benjamin Netanyahu dalam menangani urusan dunia.

Dua lembaga berbeda, dengan pertanyaan dan seri waktu berbeda, menunjukkan arah yang berdekatan. Kesimpulan paling hati-hati: lanskap opini Amerika memang sedang berubah.

Belum tentu permanen. Belum tentu linear. Pemilu, perang baru, atau perdamaian dapat membalikkannya. Namun perubahan ini terlalu besar untuk disebut sekadar riak sesaat.

-000-

Perubahan opini Amerika membawa pelajaran yang melampaui Israel dan Palestina. Kekuatan negara tidak hanya ditentukan senjata, teknologi, dan sekutu, tetapi juga legitimasi moral.

Israel berhak hidup aman. Palestina berhak atas keamanan, martabat, dan masa depan. Mengecam Hamas tidak mengharuskan kita menutup mata terhadap penderitaan warga Gaza.

Di situlah empati menemukan kedewasaannya: mampu berduka untuk korban di Israel dan di Gaza sekaligus. Kita tidak perlu memadamkan luka satu bangsa untuk menerangi luka bangsa lainnya.

Israel memiliki Iron Dome untuk melindungi langitnya. Tetapi sejarah belum menemukan Iron Dome yang mampu mencegat perubahan hati sebuah generasi.*

Bali, 2 Oktober 2026

REFERENSI

Buku

1. Khalidi, Rashid. The Hundred Years’ War on Palestine: A History of Settler Colonialism and Resistance, 1917–2017. New York: Metropolitan Books, 2020.

2. Shavit, Ari. My Promised Land: The Triumph and Tragedy of Israel. New York: Spiegel & Grau, 2013.

Survei

3. Gallup. “Middle East” (seri tren simpati Amerika terhadap Israel dan Palestina, 2001–2026; survei World Affairs 2–16 Februari 2026). https://news.gallup.com/poll/1639/middle-east.aspx

4. Gallup. “Israelis No Longer Ahead in Americans’ Middle East Sympathies.” 27 Februari 2026 (survei 2–16 Februari 2026). https://news.gallup.com/poll/702440/israelis-no-longer-ahead-americans-middle-east-sympathies.aspx

5. Gallup. “32% in U.S. Back Israel’s Military Action in Gaza, a New Low.” 29 Juli 2025 (survei 7–21 Juli 2025). https://news.gallup.com/poll/692948/u.s.-back-israel-military-action-gaza-new-low.aspx

6. Pew Research Center. “How Americans View the Israel-Hamas Conflict 2 Years Into the War.” 3 Oktober 2025 (survei 22–28 September 2025). https://www.pewresearch.org/politics/2025/10/03/how-americans-view-the-israel-hamas-conflict-2-years-into-the-war/

7. Pew Research Center. “Negative Views of Israel, Netanyahu Continue to Rise Among Americans, Especially Young People.” 7 April 2026 (survei 23–29 Maret 2026). https://www.pewresearch.org/short-reads/2026/04/07/negative-views-of-israel-netanyahu-continue-to-rise-among-americans-especially-young-people/

8. Pew Research Center. “Americans’ Views of Israelis Have Grown Increasingly Negative, but Views of Palestinians Have Held Fairly Steady.” 9 Juli 2026 (survei 4–17 Mei 2026). https://www.pewresearch.org/short-reads/2026/07/09/americans-views-of-israelis-have-grown-increasingly-negative-but-views-of-palestinians-have-held-fairly-steady/

-000-

Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA’s World.


https://www.facebook.com/share/19ZVZmQdFy/?mibextid=wwXIfr

Advertisement

Tinggalkan Komentar