Cerpen Marlin Dinamikanto
Namanya Mbak Yem. Selebritis baru di jagat medsos. Tentu saja identitasnya gelap. Tidak tercatat di Dukcapil mana pun di seluruh dunia. Tapi wajahnya begitu akrab. Khususnya di lingkungan bapak-bapak yang terpikat, tampilan, gaya dan cara bertuturnya yang luar biasa.
“Temani saya di sini dong. Di pinggir jalan pasar Kramatjati,” sapa Mbak Yem mesra. Kalung emas, cincin berlian dan beragam hadiah virtual seharga ratusan poin berloncatan dari ribuan akun yang mengikuti live streamingnya.
Bapak-bapak dari berbagai kategori usia pun berdatangan ke Pasar Kramatjati. Terlebih ada hasil survei yang viral menyebutkan banyak emak-emak dari generasi X yang single parents. Tidak sedikit pula anak-anak perempuan yang dilahirkan rindu figur seorang bapak.
Bapak-bapak pun berloncatan girang. Bukankah buah kelapa semakin tua semakin kental santannya? Mereka pun berdatangan mencari lapak kue cucur di pasar Kramatjati.
“Lesung pipitnya itu lho,” komentar bapak-bapak bersepatu sport merk ternama tapi sayang terlihat jahitan kurang rapi di solnya.
“Goyangannya mantap,” sambut temannya yang berbaju warna-warni ala Jamaika.
“Emang pernah nyoba?” protes bapak-bapak berkemeja coklat, cemburu.
‘Nggak, sih, cuma ngebayangin aja.”
“Jangan asal ngebacot lu ye. Kalau kena undang-undang ITE baru tahu rasa,” teman satunya lagi yang berkaos jack mania mengingatkan sambil buang puntung rokok ke comberan.
Pedagang ikan segar, pedagang sayur hingga mas-mas pendorong gerobak bingung. Bapak-bapak terus berdatangan. Mencari Mbak Yem. Mengutip pernyataan singkat perempuan bertubuh sintal yang hanya mengenakan daster saat berjualan, dia menyebut mulai jualan jam 1 dini hari. Tapi sejak pukul 11 malam bapak-bapak sudah mulai berdatangan dan menggeledah hingga sela-sela lapak yang didatanginya.
“Tidak ada mbak Yem di sini. Adanya Samiyem tukang bumbu yang buka setelah subuh nanti,” terang mas-mas berkaos warna biru langit yang mengaku koordinator para pedagang.
“Nggak mungkin Mbak Yem bohong. Dia pasti jualan di sekitar sini,” sanggah bapak-bapak berjaket US Army.
“Tapi di mananya? Ini pasar pinggir jalan yang paling panjang di dunia. Depan Ramayana kah? Depan Matahari kah? Atau di seberang rumah sakit tentara?” ujar mak-mak penjual ikan bersepatu booth yang baru turun dari mobil bak.
Tentu saja bapak-bapak yang terus berdatangan bukan penggemar kue cucur. Terlebih rasanya yang manis, terbuat dari tepung pula, bertolak belakang dengan gaya hidup kekinian yang sepanjang waktu hanya berjuang supaya tidak gembrot. Lalu apa yang mereka cari?
“Umur saya 23 tahun, janda dua anak. Kebetulan nih, saya bosan hidup sendiri. Mau cari siapa pun yang mau jadi bapaknya anak-anak. Tua juga nggak apa-apa. Yang penting mau menerima saya dan kedua anak saya apa adanya,” begitu ucapnya sambil membalik-balikkan kue cucur yang digoreng di wajan sederhana.
Masing-masing di antara bapak-bapak yang umumnya dari generasi X, bahkan ada yang dari generasi baby bomber, khususnya yang pernah direct message merasa yakin betul dirinya benar-benar sedang ditunggu sang pujaan hati.
“Gue udah kasih 60 berlian,” ujar bapak-bapak pensiunan tentara membuka obrolan.
“Dikit amat. Gua udah utang pinjol puluhan juta buat ngasih doi ribuan berlian, nggak keitung lagi deh berapa kalung emas yang gue lempar. Doi sering sapa nama gue di laif, hai Bang Toing yang gagah perkasa,. Jangan lupa sawerannya” beber lelaki tambun yang mengaku sudah bosan menduda.
Lelaki 62 tahun itu bertekad melamar Mbak Yem yang dipikirnya perempuan mandiri. Bayangkan saja, saat orang-orang tidur lelap dia malah jualan kue cucur di pasar pinggir jalan. Dia tidak sadar kalau perempuan itu sudah mengumpulkan banyak sekali hadiah virtual yang bisa diuangkan dengan hitungan US Dollar.
Sejak pukul 11 malam saat pedagang baru saja membuka lapak, bapak-bapak dari berbagai kelompok usia mulai berdatangan. .Di warteg belakang Ramayana ini saja tercatat 5 lelaki paruh baya, 6 lansia dan 2 orang yang masih berumur di bawah 40 tahun.
*
Sudah satu pekan lebih bapak-bapak yang dikunyah oleh bayangnya sendiri berdatangan ke pasar Kramatjati. Ada yang datang setiap hari. Ada pula yang kadang-kadang saja datang. Untung-untungan. Berburu lokasi jualan Mbak Yem yang sejauh ini masih misteri.
Mbak Yem sendiri tidak pernah lagi live streaming. Bahkan sudah satu bulan lebih tidak mengunggah konten. Bapak-bapak yang mengirim direct message tidak satu pun yang ditanggapi. Namun akunnya tidak dikunci.
Lama-lama serbuan bapak-bapak itu membuat pedagang kesal. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ini jalanan umum. Siapa pun, pembeli atau bukan pembeli, bebas melintas dengan tujuan masing-masing. Singkat cerita, sesama pengguna jalan, dilarang melarang.
Namun mereka luapkan kejengkelan kalau ada bapak-bapak yang bertanya tempat jualan Mbak Yem. Bahkan ada yang mendamprat, ngapain tanya-tanya. Pernah pula nyaris terjadi adu jotos namun cepat dilerai oleh petugas keamanan.
Mbak Yem oh Mbak Yem. Mungkin sekarang dia sedang menikmati liburannya ke Ciang May, Hongkong, Canton, sedang berbelanja di Myeodong Market atau bahkan sedang di Camp Nou Barcelona. Entahlah. Yang jelas ada ratusan bapak-bapak penasaran mencari lapak jualan Mbak Yem yang memang tidak ada.
Mbak Yem, tulis bapak berambut gondrong, berkaos hitam dan kalung tengkorak di lehernya, “engkau bagai magnet yang menyihir pasir besi dari tujuh benua, ketahuilah dengan mata hatimu, aku mencintaimu dengan sepenuh jiwa meskipun itu hanya fatamorgana.”
Lansia yang membiarkan janggut lebatnya tumbuh sembarangan di dagunya itu memang seorang penyair yang sering memenangkan lomba cipta puisi cinta. Sesungguhnya pula dia jatuh cinta kepada banyak perempuan.
Tapi hanya sebatas cinta platonis. Mungkin bapak-bapak itu penampakan lain dari mendiang Didi Kempot yang menyebut dirinya The Godfather of Broken Heart. Betul begitu?
“Siapa bilang? Lu nggak tahu siapa dia. Jadi lu jangan banyak cerita. Ape lu pernah denger orang ini kami gotong rame-rame setelah pingsan digebukin massa karena kegep ngajak check in bini orang?” protes lelaki gimbal yang dikenal sebagai penyair meskipun jarang sekali menulis puisi.
*
Misteri siapa Mbak Yem akhirnya terpecahkan. Tapi tidak semua. Hanya sebagian saja. Bermula dari keisengan tracking face, tracing domain, atau entah apa nama aplikasi yang digunakannya, seorang anak muda dari generasi Lamine Yamal bisa membongkar siapa sebenarnya Mbak Yem.
“Nama aslinya Chaterine Salsabila binti Dharma Budi Samsara, usia 25, saya juga tahu tempat tinggalnya, bukan saja alamat yang tercatat di e-KTP, tapi juga tempat tinggal sehari-harinya,” ungkap anak muda dengan tampilan ala Lamine Yamal dalam sebuah diskusi daring yang diselenggarakan oleh Paguyuban Bapak-bapak Korban Mbak Yem.
“Kalau begitu ramai-ramai kita geruduk rumahnya. Kita minta semua yang kita beri dikembalikan. Belum lagi biaya transportasi, uang kopi dan jajan selama mencari tempat jualannya di Kramatjati yang tidak pernah ada,” ajak bapak-bapak pensiunan guru SD yang mengaku habis Rp 50 juta selama ikuti live streaming Mbak Yem si tukang jualan kue cucur.
“Setuju. Ayo bergerak,” ujar bapak-bapak berkaca mata hitam dan topi laken kesayangan, lengkap dengan kemeja kotak-kotak, celana denim cut bray dan sepatu lancip berhak tinggi.
“Sabar, sabar, tidak bisa begitu. Harus ada gelar perkara, cari niat jahatnya apa, motifnya apa dan sebagainya,” ujar Nandang Surya Kencana yang berprofesi pengacara.
“Kesuwen (kelamaan), ayo ndang mangkat (cepat berangkat),” tanggap bapak-bapak berbadan gempal berlatar belakang aktivis mahasiswa. Tapi segera dia tertawa sendiri, dulu yang dilawan Soeharto. Kok sekarang Mbak Yem?
Maka dia koreksi sendiri pernyataannya yang spontan itu. “Oke-oke, saya manut saja kata mas Nandang, pengacara kondang yang sudah lama sekali saya kenal, tapi sayang belum pernah dapat kasus yang nendang.”
“Ya ya, saya ikut saja bagaimana baiknya,” timpal bapak-bapak yang mantengin betul layar zoom meeting, fitur videonya dibiarkan aktif sehingga terlihat jelas saat minum amlodiphine 10 gram.
“Apa perlu kami percayakan kepada mas Nandang membuat somasi saja ke alamat rumahnya,” usul bapak-bapak pensiunan polisi yang memajang foto profilnya dengan seragam lengkap berpangkat Aiptu.
“Kalau somasi saya tanya pokok perkaranya apa?” sanggah sang pengacara.
“Sudah jelas, pasal 378, penipuan,” jawab bapak-bapak berambut keriting yang sepertinya didukung oleh sebagian besar dari 432 peserta zoom meeting yang sebagian besar sudah lebih dari satu jam tidak beranjak dari layar hape atau laptopnya.
“Begini ya bapak-bapak, bukannya saya tidak setuju kalau perbuatan Mbak Yem atau entahlah siapa namanya telah merugikan bapak-bapak sekalian. Tapi apakah Mbak Yem berniat menipu bapak dengan menjanjikan keuntungan seperti misalnya investasi bodong?”
“Kan dia menjanjikan akan menjadi istri yang baik dan Solehah?” jawab bapak-bapak berjaket US Army yang dibelinya di pasar loak.
“Kepada siapa janji itu diucapkan?” kejar si pengacara sambil memegang pulpen
“Ya kepada semua kami yang ada di sini!” jawab bapak berjaket US Army.
“Maksudnya Mbak Yem menjanjikan mau diperistri oleh banyak orang?” tandas Nandang yang diam-diam sudah menghubungi Mbak Yem untuk mendapatkan rekaman percakapan ini sehingga dia berhak mengklaim honor penasehat hukum, syukur-syukur dia mau jadi istrinya.
“Ya, enggak juga sih,” ujar bapak-bapak berkopiah putih dengan suara lirih.
Semua terkesiap. Acara zoom meeting yang diselenggarakan oleh Paguyuban Bapak-bapak Korban Mbak Yem itu berakhir tanpa kesimpulan. Mungkin hidup itu sendiri memang tidak harus disimpulkan. Hanya perlu dijalani meskipun acap kali menjadi korban dari harapannya sendiri
Jakarta, Juni 2026
Catatan foto hanya ilustrasi demi sempurnanya sandiwara
Advertisement










