Oplus_16908288
Oleh: Yusuf Blegur


Kerasukan setan itu lebih nyata pada banyak yang berburu harta dan jabatan dengan segala cara. Seringkali nafsu menikmati kue-kue kekuasaan menjadi alasan paling adidaya untuk mengubur idealisme. Pembenaran menjadi jawaban satu-satunya ketika lari dari hakikat kebenaran itu sendiri


Banyak orang, bukan karena tidak tahu, hanya saja tak sanggup melaksanakannya. Hidup terombang-ambing di antara kesadaran ideal spiritual dan kesadaran rasional material. Membuat sebagian besar fatalistik membentuk pikiran, sikap, dan tindakannya. Namun lebih banyak lagi yang terjerembab dan larut terseret arus deras populisme dan realisme. Menjadi kaya berharta, punya jabatan, lalu terus terpandang dan dihormati, adalah segala-galanya.

Seolah-olah dunia harus dinikmati dengan kemewahan hidup, kesenangan, dan pemenuhan atas semua keinginan. Pada setiap orang dan apapun yang diperlukan untuk menjadikan dirinya menjadi yang terbaik, terhebat, dan paling istimewa. Semua itu dinobatkan dan dilanggengkan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan dan kesuksesan. Sangat materialistik dan mengakrabkan diri pada gaya hidup hedonis.

Lalu, seiring waktu perlahan dan pasti muncul sifat-sifat selfish, arogan, dan tiran. Lebih dari sekedar status quo, yang demikian juga mulai mengubur nilai-nilai etis, moral, dan hukum. Bahkan prinsip-prinsip malu dan kepekaan mulai lenyap. Gotong-royong, Solideritas, dan sensitifitas serta sekedar empati sudah sulit dijumpai. Gejala yang penting dirinya, keluarganya, dan kelompoknya selamat dan bahagia, itu menjadi tujuan utama. Masa bodoh dengan yang lain, dengan rakyat, bangsa, dan negara. Jika perlu abaikan agama sekalipun.

Kesadaran makna dan kesadaran krisis telah tercerabut dari tubuh dan jiwa yang terseok-seok menghadapi realita. Takut pada keterbatasan dan kemurangan, trauma pada kemiskinan dan kehilangan penghargaan sosial, memaksa pikiran melenceng, khianat, dan lari terbirit-birit dari hakekat dan kesejatian perjuangan. Seiring waktu, skeptis dan apriori terhadap kejujuran, kebenaran, dan keadilan. Kesulitan dan penderitaan orang lain dalam radius sosial dianggap lumrah, wajar, dan permisif.

Lalu, bermunculan para intelektual pelacur, agamawan yang berdagang ayat, dan aktivis yang lebih rendah dari pengemis. Segenap narator kemerdekaan dan kebebasan itu malah memenjarakan dirinya dalam kemelaratan karakter. Memburu panggung kekuasaan, menjadi birokrat sekaligus hipokrit. Tak ada lagi keberpihakan pada rakyat terpinggirkan dan tertindas. Hanya ada toran besar penampung air liur untuk terus membasahi lidah yang menjulur. Pada atasan, pada junjungan, dan pada pimpinan yang memberi jabatan dan kewenangan.

Sungguh, perburuan harta dan jabatan telah menjadi tujuan dan kebanggaan. Tak ada lagi amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Kekayaan membabi-buta dianggap semata-mata kemuliaan. Kesederhanan kerap ditempatkan sebagai keterbatan dan bahkan kehinaan. Padahal, keberimpahan dalam banyak hal itu lebih layak disebut berlebihan. Bukan tak mungkin melampaui batas, kemudian kehilangan kemanusiaannya sendiri.

Atau bisa juga, Tuhan lebih menginginkan keteladanan ketimbang kekayaan dan kemewahan. Sering tak terdengar bisikanNya, jadilah yang bermanfaat seluas-luasnya apapun status sosialnya. Jika perlu berkorban lah walau itu dianggap kebodohan. Bukan semata kekayaan yang bisa saja menyesatkan. Mungkin juga Tuhan tak bosan berceloteh, bagaimanapun pekerjaan, mengabdi dan berbaktilah kepada rakyat, bangsa dan negara serta agama. Meskipun dengan gaji minimal tapi kedamaian maksimal.


Bekasi Kota Patriot.
22 Rabiul Akhir 1448 H/3 Oktober 2026.
Advertisement

Tinggalkan Komentar