Oplus_16908288
Oleh : Ispelsy

Hari itu Sabtu tanggal 30 Mei saya dikirimi pesan oleh senior saya, sebuah link dari instagram. Tanpa membuka link tersebut saya langsung menebak, itu hadrat di Negeri (Desa) Sepa, di Kabupaten Maluku Tengah. Kemudian saya menjawab seni hadrat di kalangan masyarakat muslim Maluku saat lebaran Idul Adha sudah lazim. Ibarat suatu kewajiban karena dilakukan untuk penghantaran hewan kurban.

Seni hadrat bukan hanya saat Idul Adha, bahkan saat mengantar calon pengantin, hal ini sering dilakukan. Di Idul Adha seni atraksi hadrat menimbulkan decak kagum bahkan dibeberapa negeri ada yang unik, bahkan memicu adrenalin bila tak sanggup menyaksikannya, seperti karnaval abdau di di Negeri Tulehu atau lawa pipi di Negeri Hila.

Kembali ke keunikan apa yang diperagakan para pemuda Negeri Sepa dengan tradisi hadratnya, lewat akun facebook masyarakat Negeri Sepa (ichy Amahoru), dia mengisahkan sejarah kostum berjas hitam ini bermula sejak dahulu diinisiasi oleh Almarhum Tete (kakek) Raja Ibrahim Amahoru, saat itu Raja dengan kapasitas sebagai pimpinan Negeri Sepa se-petuanan wilayah adat Silalouw beliau memiliki telenta menjahit dan mendesain. Maka Almarhum menjahit setelan jas dan dibagikan buat peserta hadrat. Mulai saat itu hingga kini peserta hadrat wajib menggunakan jas serta celana berbahan.

Pemakaian jas saat hadrat Idul Adha di masyarakat muslim Maluku sudah membudaya, hanya jika di kebanyakan kampung lainnya memilih jas yang bervariasi atau juga gamis, maka masyarakat negeri Sepa lebih memilih jas hitam sebagai pakaian wajib ketika hadrat. Maka kesan rapi yang timbul semakin elok dipandang, di mana kaum lelaki yang tampil menawan dibaluti dengan celana bahan serta jas hitam dan kopia hitam itulah ciri khasnya.

Seperti hadrat di masyarakat muslim Maluku umumnya, penghantaran hewan qurban biasanya dilakukan mengelilingi kampung, diiringi dengan tahlil, tahmid, dzikir, shalawat serta syair syair bermuatan pesan moral dari kisah Nabiyallah Ibrahim AS serta Nabi Ismail AS.

Sejatinya Hadrat dan zikir diperkirakan sudah lama masuk yang tidak lepas dari akar sejarah masuknya Islam ke Maluku pada abad ke-15. Praktik zikir dan hadrat berhubungan erat dengan amalan tarekat (tasawuf) yang dibawa oleh para ulama dan penyebar agama Islam terdahulu, yang kemudian diinkulturasi dengan budaya khas Maluku yang mengutamakan kebersamaan. (Perkembangan pendidikan Islam masa awal di Maluku ; jurnal kesehatan jompa).

Hadrat dan zikir dikalangan muslim Maluku adalah perpaduan harmonis antara syiar agama Islam dan budaya lokal (seni tradisi) yang telah diwariskan secara turun-temurun. Praktik ini berfungsi sebagai media dakwah, bentuk pujian kepada Allah dan Rasul-Nya, serta perekat silaturahmi antar warga di berbagai negeri.
Advertisement
Artikulli paraprakDua Kali Adil

Tinggalkan Komentar