In this photo released by the official website of the office of the Iranian Presidency, Revolutionary Guard troops attend a military parade marking 39th anniversary of outset of Iran-Iraq war, in front of the shrine of the late revolutionary founder Ayatollah Khomeini, just outside Tehran, Iran, Sunday, Sept. 22, 2019. (Iranian Presidency Office via AP)

Oleh: Agus Wahid

Mencemaskan. Itulah jika kita mencermati eskalasi konflik Israel plus Amerika (AS) versus – Iran saat ini. Israel plus sekutu utamanya (AS) mendesak Iran untuk menyerah dan atau menghentikan serangannya, atau gencatan senjata. Sebaliknya, pemimpin tertinggi Iran justru meminta Israel untuk bertekuk lutut. At least, negeri Mullah tak menggubris permintraan negeri Zionis dan Paman Sam itu.

Sebuah pertanyaan mendasar, apakah eskalasi konflik itu akan mengglobal? Potensinya terbuka. Di satu sisi, beberapa negara Eropa sudah menyatakan kesiapannya bergabung dengan kekuatan AS. Bahkan, beberapa negara Arab seperti Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab – atas nama menjaga kedaulatannya – pun lebih berpihak pada kepentingan politik Zionis dan AS. Sementara, jika agresi gabungan itu terjadi, Rusia, China dan Korea Utara bahkan Pakistan, Yaman, Irak, Turki dan Libanon siap back up kekuatan all out Iran.

Kita bisa bayangkan, jika dua kubu besar merealisasikan egoisme nasionalnya masing-masing, maka dengan kecanggihan sistem persenjataan saat ini, planet bumi ini terlalu kecil untuk dihancurkan. Masing-masing kubu punya senjatan strategis untuk menciptakan dunia ini kiamat. Yang hancur bukan hanya kawasan mereka yang berkonflik langsung. Tapi, areal seperti Asia Tenggara dan Asia Selatan, Australia, Selandia Baru, bahkan wilayah Kutub Utara dan Kanada akan terkena imbas ledakan senjata nuklir itu.

Kini, kembali pada laptop, mungkinkah perang global terjadi? Jika tetap mengumbar amarah mereka yang berkonflik – at least Israel plus AS di satu sisi, dan Iran di sisi lain – lalu tidak menghargai keberadaan bumi dan umat manusia, maka perang terbuka secara global sulit dicegah.

Maka, harus ada aktor pendamai, yang cukup dihormati oleh ketiga aktor yang berkonflik. Juga, masing-masing menghormati causa prima konflik itu. Tak bisa disangkal, saat ini sulit mencari juru damai. Sekjen PBB letoy, apalagi AS telah keluar dari PBB. Juga, sangat ilusif keinginan Prabowo menjiadi penengah, apalagi posisinya bagian dari Boar of Peace pimpinan Trump.

Sementara, Israel hanya bisa diredam egoismenya jika AS mengambil prakarsa perdamaian. Menjadi dilema, posisi AS saat ini dipegang oleh manusia yang – secara bawaan – sejatinya cacat mental. Donald Trump – jika kita buka catatan kepribadiannya, sejak kecil dia bermasalah dibanding empat saudara lainnya. Karena mental Trump yang bermasalah, orang tuanya (Fred Trump) selalu memanjakannya. Dan jadilah pribadi Donald Trump yang kian tak terkendali mentalnya, terutama saat marah.

Individu Trump sebagai Presiden AS menjadi problem besar ketika diminta untuk mengendalikan diri. Hasilnya, ia tak akan bisa menjadi juru damai antara Iran yang berkepentingan besar untuk menyelesaikan masalah Palestina. Sementara, dalam perundingan, sang juru damai pasti gagal jika memaksakan kehendaknya, apalagi dengan cara marah-marah.

Dengan kondisi seperti itu, kekuatan pencegah Trump hanya ada pada rakyatnya. Mereka mendesak kongres untuk mamakzulkan dan diganti pada figur yang pendamai dan kooperatif. Sisi lain, rakyat Israel itu sendiri juga – atas nama kepentingan hidup nyaman di negaranya – harus mendesak Knesset Israel untuk mengimpeach Netanyahu. Dua kekuatan rakyat yang disuarakan parlemennya masing-masing menjadi potensi untuk meredakan konflik regional.

Dua pemimpin baru ini – atas nama mempertimbangkan ketertiban dunia – akan berusaha memahami tekad di balik sikap tegas Iran. Yaitu, jangan coba ganggu negaranya, apalagi terobsesi ingin mengubah sistem pemerintahannya yang Islamic fundamentalist. Jangan coba-coba mencampuri pemerintahan negara lain. Juga, beri kesempatan Palestina memerdekan diri, apalagi sudah mendapat pengakuan 153 negara di 193 anggota PBB. Jika dua hal ini tidak diindahkan, Iran yang saat ini di atas angin dari sisi persenjataan canggihnya tak akan rela surut dari agresitasnya.

Jika skenario itu berhasil, maka ada potensi untuk mendinginkan Netanyahu. Perlu kita catatm negeri Zionis – dari sebelum dan sejak berdiri 1948 hinggi kini – tak akan mampu tegak tanpa back up sejumlah negara pendukung utamanya. Jika dulu diback up penuh oleh Inggris. Sejak era 1950-an, back up terkuatnya AS. Dan itu sangat tergantung sosok AS yang menjadi faktor derteminan untuk mencegah terjadinya eskalasi konflik yang lebih meluas. Eropa sendiri juga perlu menyadari, jika terjadi konflik global, bukan hanya daratannya akan ikut musnah, tapi krisis energi di depan mata.

Bahkan, krisis energi di Kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan, Asia Tmur Jauh (Jepang dan Korea Selatan) dan Australia sedang menanti cemas akan mengikisnya pasokan migas. Hal ini karena pusat transportasi minyak dunia sedang terancam. Kapal-kapan tanker minyak Venezuela tak bisa lagi ekspor ke Jepang karena lalu-lintas samudranya dalam lintas perang global. Instalasi minyak di sejumlah negara Arab juga tak bisa diekspor ke sejumlah negara Eropa, apalagi Amerika. Laut Kaspia yang harus melalui Selat Hormuz ada dalam cengkeraman Iran.

Di depan mata, potensi konflik global akan menghantam kepentingan ekonomi global, termasuk di Tanah Air ini. Cadangan migas nasional – tercatat – hanya untuk memenuhi kebutuhan sekitar 20 hari. Implikasinya, harga migas berpotensi naik. Sisi lain, harga berbagai barang dan jasa lainnya juga naik. Ekonomi negeri ini menjadi dalam bayang-bayang krisis.

Jika sekitar 2008 terjadi krisis pangan global dan itu mengakibatkan negeri ini juga terpukul. Apalagi, krisis energi. Sekedar memori komparatif, sekitar tahu 1973, ketika terjadi Perang Arab – Israel kala itu, Saudi menggunakan minyaknya sebagai senjatra politik untuk menekan Israel. Eropa yang kala itu pro Israel penuh, terdampak: sekitar 2 bulan, hunian mereka gelap. Tanpa cahaya. Tanpa penghangat. Benar-benar pemandangan yang menyiksa. Sisi lain, roda industri di Jepang pun mengalami stag. Akibatnya, mereka berubah sikap politiknya. Yaitu, mengakui PLO sebagai pejuang Palestina, bukan sebagai teroris.

Sekali lagi, jika terjadi eskalasi konflik global, kita tak bisa bayangkan tingkat kesulitan hidup di berbagai negara. Tak terkena radiasi nuklir saja sudah untung. Yang lebih mengkhawatirkan, Indonesia yang “ambigue” sikap politiknya – bisa jadi – perlu diberi pelajaran: dihajar oleh rudal-rudal Iran. Inna lillahi. Dunia serasa gelap. Di sinilah, keberadaan Prabowo akan diuji kecerdasan geopolitik dan strateginya.

Yang jauh lebih krusial adalah kembali ke khittah: tetap berjuang bersama Palestina, bukan bermain ganda. Inilah format politik yang cinta rakyat. Dengan langkah politik yang jelas dan tegas, sama artinya menyelamatkan umat manusia dan tanah air Indonesia ini. Akan secerdas itukah Prabowo? Let`s see. Kita berharap, Prabowo masih ingat nasib bangsa dan negeri ini yang harus diselamatkan, bukan ambisi pribadinya yang notabene sudah merancang periode ke depan dan karenanya merapat ke Trump dan Zionis. Inna lillahi.

Bekasi, 05 Februari 2025
Penulis: analis politik dan kebijakan publik

Advertisement
Artikulli paraprakMenimbang Ulang Keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace dan Sinyalemen Anies Baswedan
Artikulli tjetërSiaga Satu Perang Asimetri

Tinggalkan Komentar