Ulasan Buku Oleh: Satrio Arismunandar*
Andrew Mattison. “Reading the Literary Past: Critical History and the Interpretation of Early Modern Texts.” Penerbit: University of Pennsylvania Press, 2026. Tebal: 240 halaman.
Di tengah derasnya arus teori sastra kontemporer—mulai dari postkolonialisme, feminisme, ekokritik, hingga posthumanisme—muncul sebuah pertanyaan yang jarang diajukan: apakah kritik sastra modern justru mulai melupakan sejarahnya sendiri?
Pertanyaan inilah yang menjadi titik berangkat Andrew Mattison dalam “Reading the Literary Past: Critical History and the Interpretation of Early Modern Texts.” Alih-alih menawarkan teori baru yang revolusioner, profesor sastra Inggris dari University of Toledo ini mengajak pembaca kembali menengok akar disiplin kritik sastra. Hasilnya adalah sebuah buku yang tenang, reflektif, namun menawarkan tantangan serius terhadap cara kita membaca karya sastra pada abad ke-21.
Buku ini bukan sekadar membahas Shakespeare, John Milton, atau John Donne. Yang sesungguhnya dipersoalkan Mattison adalah cara para kritikus membaca mereka selama berabad-abad. Dengan kata lain, objek utama buku ini bukan hanya teks sastra, melainkan sejarah pembacaan terhadap teks sastra itu sendiri.
Kritik Sastra yang Terlalu Percaya pada Metode
Selama puluhan tahun, dunia kritik sastra Barat dipenuhi berbagai pendekatan metodologis. Ada kritik Marxis, feminis, psikoanalitik, dekonstruksi, new historicism, hingga postkolonialisme. Setiap pendekatan memiliki perangkat analisisnya sendiri dan sering kali berlomba mengklaim mampu menghasilkan tafsir yang paling sahih.
Mattison memandang kecenderungan tersebut secara kritis. Menurutnya, kritik sastra modern terlalu percaya pada metode, seolah-olah sebuah teori mampu memberikan jawaban yang pasti terhadap sebuah karya sastra.
Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa membaca selalu merupakan tindakan manusia yang dipengaruhi pengalaman pribadi, tradisi intelektual, ketersediaan sumber bacaan, bahkan kebetulan-kebetulan yang sulit diprediksi. Karena itu, tidak ada metode yang sepenuhnya dapat mengendalikan proses interpretasi.
Pandangan ini menjadikan buku tersebut terasa segar di tengah kecenderungan akademik yang sering kali terlalu menekankan kerangka teori.
Menelusuri Sejarah Para Pembaca
Secara garis besar, Reading the Literary Past mengajak pembaca menyusuri perjalanan kritik sastra sejak era modern awal (early modern). Mattison menelaah bagaimana para pembaca, editor, filolog, dan kritikus dari berbagai zaman memahami karya-karya klasik Inggris.
Ia menunjukkan bahwa setiap generasi tidak hanya membaca teks yang sama, tetapi juga membawa pertanyaan-pertanyaan baru sesuai zamannya. Karena itu, sejarah kritik sastra bukanlah sejarah teori yang saling menggantikan, melainkan sejarah dialog yang terus berlangsung antara masa lalu dan masa kini.
Dalam pembahasannya, Mattison mempertemukan tokoh-tokoh besar seperti Edward Said, Rosalie Colie, Mark Pattison, hingga sejumlah sarjana yang kini jarang dibicarakan. Dari perjumpaan itulah tampak bahwa persoalan-persoalan mendasar dalam kritik sastra—tentang makna, pengarang, pembaca, dan sejarah—sesungguhnya terus berulang dalam bentuk yang berbeda.
Lima Tahap Memahami Kritik Sastra
Struktur buku ini juga memperlihatkan perjalanan intelektual yang menarik. Bab pertama, “Critical Vocations”, membahas hakikat profesi kritikus sastra. Mattison mempertanyakan apa sebenarnya tugas seorang kritikus dan mengapa kegiatan membaca memiliki nilai intelektual yang begitu penting.
Bab kedua, “Collections, Arrangements, Glosses”, mengulas bagaimana penyusunan naskah, anotasi, dan edisi-edisi lama ikut membentuk cara pembaca memahami sebuah karya sastra. Di sini pembaca diajak menyadari bahwa sejarah penerbitan sebuah teks sama pentingnya dengan teks itu sendiri.
Bab ketiga, “Reading Before and After Interpretation”, merupakan inti argumen buku ini. Mattison menunjukkan bahwa proses membaca sudah dimulai bahkan sebelum interpretasi dilakukan. Setiap pembaca datang membawa harapan, pengetahuan, pengalaman, dan prasangka tertentu yang memengaruhi hasil pembacaan.
Pada bab keempat, “The Lure of the Author”, ia kembali mengangkat perdebatan klasik mengenai posisi pengarang. Apakah niat pengarang masih penting? Ataukah makna sepenuhnya berada di tangan pembaca? Mattison tidak memberikan jawaban hitam-putih, melainkan menunjukkan bahwa hubungan antara teks dan pengarang selalu lebih rumit daripada yang sering diasumsikan.
Sementara itu, bab kelima, “Evaluation and the Intimacies of Response”, berbicara tentang penilaian estetik dan hubungan emosional pembaca dengan karya sastra. Kritik sastra, menurut Mattison, bukan hanya soal membedah struktur teks, tetapi juga memahami mengapa sebuah karya mampu terus berbicara kepada generasi yang berbeda-beda.
Menghidupkan Kembali Close Reading
Salah satu kekuatan terbesar buku ini adalah upayanya menghidupkan kembali tradisi close reading—membaca teks secara cermat—tanpa terjebak pada formalisme lama.
Mattison tidak menolak teori. Ia juga tidak mengajak pembaca kembali ke masa sebelum lahirnya teori sastra modern. Yang ia usulkan adalah keseimbangan: teori tetap penting, tetapi harus selalu disertai kesadaran historis. Kritik sastra bukan sekadar penerapan metode, melainkan dialog yang terus berlangsung antara teks, pembaca, dan sejarah.
Pandangan ini terasa relevan pada era kecerdasan buatan (AI), ketika teks dapat diringkas, dianalisis, bahkan ditafsirkan secara otomatis. Buku ini mengingatkan bahwa membaca sastra tetap merupakan pengalaman manusiawi yang tidak sepenuhnya dapat direduksi menjadi prosedur teknis.
Relevansi bagi Indonesia
Meskipun berangkat dari tradisi sastra Inggris, gagasan Mattison sesungguhnya memiliki makna yang luas, termasuk bagi kajian sastra di Indonesia.
Dalam dunia akademik Indonesia, perdebatan sering kali terfokus pada pemilihan teori: apakah sebuah karya lebih tepat dibaca melalui lensa feminisme, Marxisme, semiotika, atau postkolonialisme. Tidak jarang teori menjadi lebih dominan daripada teks yang sedang dibahas.
Mattison mengingatkan bahwa kritik sastra tidak boleh kehilangan sejarahnya. Setiap interpretasi selalu berdiri di atas jejak pembacaan yang telah dilakukan oleh generasi sebelumnya. Dengan memahami sejarah interpretasi, seorang kritikus tidak hanya menghasilkan tafsir baru, tetapi juga memahami mengapa tafsir lama pernah dianggap masuk akal.
Pendekatan seperti ini berpotensi memperkaya kajian terhadap sastra Indonesia klasik maupun modern, mulai dari karya-karya Hamzah Fansuri, Raja Ali Haji, Marah Rusli, Pramoedya Ananta Toer, hingga sastrawan kontemporer.
Sebuah Ajakan untuk Rendah Hati
Pada akhirnya, Reading the Literary Past bukanlah buku yang menawarkan resep praktis untuk membaca sastra. Sebaliknya, ia mengajarkan kerendahan hati intelektual.
Andrew Mattison menunjukkan bahwa setiap generasi merasa telah menemukan cara terbaik membaca sastra. Namun sejarah membuktikan bahwa setiap metode pada akhirnya akan menjadi bagian dari sejarah itu sendiri. Yang bertahan bukanlah teori tertentu, melainkan tradisi dialog yang tidak pernah berhenti antara pembaca, teks, dan masa lalu.
Itulah mengapa buku ini layak mendapat perhatian. Di tengah kecenderungan dunia akademik mengejar teori-teori baru, Reading the Literary Past justru mengingatkan bahwa masa depan kritik sastra mungkin hanya dapat dipahami jika kita terlebih dahulu bersedia membaca kembali sejarahnya.
*Satrio Arismunandar, penggemar komik Kindaichi dan Samurai-X. Pelanggan warteg di Depok II Tengah. WA: 081286299061. #
Advertisement










