
Oleh: Lukas Luwarso
Tulisan yang menarik lazimnya karena dua hal, isinya menguraikan luasnya pengetahuan atau uniknya pengalaman. Kumpulan tulisan 66 Esai Isti Nugroho berjudul “Refleksi Aktivis dalam Secangkir Kopi (RADSK)” ini masuk pada kategori kedua. Buku ini menarik bagi kawan dan sobatnya, sebagai bahan obrolan sembari minum kopi. Ini buku ketiga Isti, sebelumnya ia menerbitkan buku Menyembah Bendoro Cuan (2025) dan antologi puisi esai Negara dalam Gerimis Puisi (2024). Buku RADSK ini terbit untuk menandai usia 66 tahun Isti, dan 40 tahun kiprahnya sebagai aktivis.
Esai yang dikompilasi dalam buku ini bersumber dari catatan status Facebook. Menulis di platform media sosial tentu cenderung bersifat “sambil lalu”. Bukan dimaksudkan untuk memantik pemikiran mendalam, lazimnya buku serius yang menuntut keutuhan gagasan dan disiplin referensi. Esai-esai Isti tidak berpretensi ingin mengupas problem besar, atau mengulas paradoks semesta kehidupan. Melainkan sekadar catatan pikiran selintas situasi keseharian yang ia amati dan rasakan. Problematik hidup sebagai aktivis yang terus bergiat, seniman yang terus berkarya, dan penulis yang terus ingin mengkomunikasikan pemikiran.
Lahir di Yogyakarta, 30 Juli 1960, nilai-nilai kultural kota budaya Yogya ikut membentuk karakteristik Isti. Ia menetap di Jakarta mulai1994, usai menjalani hukuman penjara karena aktivitas politiknya di Yogya. Ia sempat menempati “Rumah Rakyat”, milik Keluarga Soebadio Sastrosatomo, tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI), di Jalan Guntur 49 Jakarta. Di rumah inilah ia meraih gelar “doktor,” mondok di kantor. Menjaga rumah sekaligus mengelola Yayasan Budaya Guntur 49. Kemudian ia bergabung mengelola INDEMO (Indonesian Democracy Monitor), pimpinan Hariman Siregar, tokoh Malari aktivis gerakan mahasiswa tahun 1974, hingga kini.
Problematik Generasi Transisi
Hidup di Jakarta yang keras, pada dekade 1990-an, membuat Isti harus menjalani hidup secara “asketis”. Maksudnya, ia selalu hidup dalam kesederhanaan –adakalanya dalam kemiskinan–serta didera problem identitas generasi. Hidup yang ia jalani lazim dialami oleh banyak aktivis pemuda yang bergiat pada era 1980-an. Generasi aktivis yang, di Indonesia, dilupakan sejarah, karena tidak membuat perubahan politik-sosial yang signifikan. Generasi yang tidak mendapat label “angkatan”, sebagaimana Angkatan 1945, 1966, atau 1998.
Dalam kajian sosiologi dan demografi (spesifik teori generasi, yang dipakai untuk analisa manajerial dan marketing ekonomi), generasi Isti dikenal sebagai “Late Baby Boomers dan Early Gen X”. Generasi yang lahir pada dekade 1960 sampai 1970 (saat ini berusia 56 – 66 tahun), tumbuh besar di ambang transisi dua dunia yang kontras. Generasi yang menjadi “saksi hidup”, menjalani transisi peradaban manusia dari era teknologi manual ke digital. Dari paradigma ideologisasi sosial-politik ke disrupsi sosial-ekonomi. Karakteristik pergulatan hidup generasi transisi, seperti yang dialami Isti dan kawan-kawan aktivis segenerasinya, situasinya bisa dirangkum dalam tiga karakteristik berikut ini:
Satu, Menjadi Penyambung Lidah Dua Zaman. Generasi ini memiliki keunikan yang tidak dimiliki generasi lain. Tumbuh kembang dengan nilai-nilai disiplin ala BabyBoomer, namun dipaksa memiliki kemampuan adaptasi ala Gen X. Etos kerja “banting tulang” masih menjadi prinsip, kerja keras adalah cara mendapat kesejahteraan. Memiliki loyalitas komitmen perkawanan dan pada institusi, namun merasakan pahitnya “dikhianati” oleh kultur korporasi dan politik pasca-modern. Generasi yang terdidik memiliki etos mandiri, komitmen, dan tidak banyak mengeluh.
Dua, Menjadi Imigran Digital yang Gigih. Berbeda dengan Gen Z yang native digital, generasi transisi harus “belajar bahasa dan cara baru” dunia digital, dan mulai meninggalkan dunia manual. Generasi yang mahir memakai mesin ketik dalam menulis, berkenalan dengan komputer, kemudian harus fasih posting di media sosial. Melakukan rapat via Zoom, mengelola grup WhatsApp, berdebat secara online. Situasi ini menempatkan Generasi Transisi dalam posisi terjepit, sebagai “Generasi Sandwich”.
Tiga, Menjaga Relevansi di Era Media Sosial. Ada keinginan Generasi Transisi untuk tetap eksis, namun sering kali berbenturan dengan etika digital. Mengapa banyak kaum generasi manual ini terjebak dalam penyebaran hoaks di grup WhatsApp atau membagikan konten ke media sosial dengan estetika “jadul”. Isti dan kawan segenerasi mencari validasi di dunia yang tidak sepenuhnya dikenali, sudah banyak berubah. Berupaya menerapkan nilai kesantunan lama di ruang digital yang sering kali agresif dan vulgar tanpa filter. Ini menciptakan stres psikologis; merasa dunia menjadi tempat yang asing dan tidak ramah. Pergulatannya di era kini bukanlah gagal beradaptasi, melainkan bagaimana menjaga relasi kemanusiaan yang hangat di tengah dunia yang semakin mekanis dan dingin.
Beban terberat Generasi Isti adalah, di satu sisi, harus merawat orang tua (kaum Baby-Boomers awal) yang semakin renta dengan segala persoalan medisnya. Di sisi lain, perlu menyokong anak-anak (generasi Millennials dan Gen Z) yang berjuang menghadapi krisis ekonomi, sulitnya lapangan kerja, dan harga properti yang tidak masuk akal. Di tempat kerja, Generasi Transisi mengalami culture shock menghadapi etos kerja anak muda yang berbeda dari eranya. Terhimpit di antara gaya kelaziman kepemimpinan otoriter (masa lalu, era Soeharto) dan tuntutan kepemimpinan populis-kalkulatif (masa kini, Era Jokowi-Prabowo).
Tantangan di Usia Pensiun
Tantangan paling sulit Generasi Isti adalah soal beban finansial, kondisi kesehatan, dan menjaga relevansi identitas di tengah gempuran budaya digital. Secara finansial harus memikul tanggung jawab pada tiga front sekaligus, menanggung beaya masa lalu (orang tua) dan masa depan (anak-anak), juga masa kini, pensiun mulai membayangi. Membeayai perawatan kesehatan orang tua, di saat yang sama masih menanggung biaya pendidikan anak-anak. Etos tidak bisa mengandalkan anak-anak nantinya (beda dengan dulu, mereka diandalkan orang tua). Karena tidak ingin membebani anak-anaknya (Gen Z) yang sulit secara ekonomi.
Jika beban finansial menyerang kantong, gempuran digital menyerang baju identitas kultural. Ketercerabutan identitas karena kehilangan peran sebagai “otoritas informasi” level keluarga. Selaku pembaca buku, Generasi Isti dulu adalah sumber pengetahuan dan kebijaksanaan bagi keluarga. Kini otoritas itu diambil alih oleh Google dan AI. Ada rasa “terasing” ketika pengetahuan atau pengalaman hidup dianggap ketinggalan zaman dan tidak relevan oleh generasi baru yang lebih percaya pada internet dan algoritma.
Secara digital Generasi Isti sangat terkoneksi, melalui grup WhatsApp atau media sosial lainnya, namun secara emosional justru sering kesepian dan terasing. Menyaksikan dunia berubah begitu cepat, instan, dan seringkali banal, sangat kontras dengan nilai etos ketekunan, kedisiplinan, dan komitmen pada proses pembelajaran era jadul.
Generasi Isti mengalami kelelahan kognitif karena dipaksa melakukan “upgrade” otak terus-menerus. Dari aplikasi perbankan, transportasi daring, hingga sistem birokrasi yang semuanya bermigrasi ke digital. Bagi Generasi Isti, semua yang goes-digital ini bukan memudahkan, melainkan “kerja tambahan” yang melelahkan secara mental. Generasi Isti juga rentan terhadap penipuan, sering menjadi target kejahatan siber, penipuan perbankan, investasi bodong, judi online, termasuk godaan rayuan scam.
Budaya digital menciptakan standar hidup baru yang serba-cuan. Langganan berbagai platform, gawai yang cepat usang, hingga tren konsumtif yang dipicu kemudahan belanja online. Ini menambah beban finansial yang sudah berat. Generasi Isti terjangkit psikosa Peniaphobia, ketakutan irasional dan berlebihan terhadap kemiskinan atau menjadi miskin. Penyakit mental ini tipikal mendera Generasi millennial dan Gen Z, akibat semakin sulitnya mendapat pekerjaan danembyka usaha di era serba digital dan AI.
Peniaphobia bukan hanya tentang ketakutan kehabisan uang, tetapi juga dianggap gagal oleh masyarakat. Tertinggal dalam karir, keuangan, bahkan pengaruh sosial, dapat memicu perasaan tidak berharga. Situasi ini diperparah dengan maraknya “ilusi media sosial.” Platform komunikasi bermotto “No Narcist No Exist”, sebagai panggung pertunjukan ekshibisionis 24 jam non-stop. Media sosial, seperti Instagram, TikTok, YouTube, sering menjadi ajang pamer versi kehidupan seseorang yang telah dikurasi dan difilter. Situasi ini membuat Generasi Isti harus bergulat agar tetap relevan tanpa kehilangan saldo, dan bertarung untuk mapan tanpa kehilangan kewarasan.
Refleksi 40 Tahun Sebagai Aktivis
Isti menyebut esai-esainya di buku ini sebagai mozaik perjalanan budaya, catatan tentang situasi politik, pemikiran filsafat, seni, kemiskinan, kesehatan, hingga obat-obatan. Refleksi pengalaman keseharian yang ia amati, pikirkan, dan tulis. Sebagai pembelajar otodidak, sekolahnya hanya sampai SMA, namun ia pernah mengikuti kuliah, sebagai pendengar, di Fakultas Filsafat, saat bekerja sebagai pegawai administrasi di kampus UGM. Yang menarik ia pernah menjadi koordinator Kelompok Studi Sosial Palagan Yogyakarta (KSSPY), yang mayoritas anggotanya mahasiswa.
Isti adalah pembaca kehidupan, selain pembaca buku. Namun, gara-gara membaca novel “Bumi Manusia” karya Pramudya Ananta Toer, ia bersama dua mahasiswa UGM, Bonar Tigor Naipospos dan Bambang Subono, divonis 8 tahun, menjadi narapidana politik rezim Orde Baru. Saat itu, pada 1989, membaca dan memiliki buku yang dianggap berideologi “kiri” adalah aktivitas subversif dan dituduh simpatisan komunis. Hobi baca buku dan menulis berlanjut hingga saat ini, melengkapi kiorahnya sebagai aktivis pro-demokrasi. Ia membaca buku filsafat, sains, dan teologi. Dari referensi bacaannya, ia berpedoman “hidup tanpa sains itu buta, tanpa filsafat itu gelap, tanpa teologi itu, hampa. Tapi hidup tanpa dana, itu pusing.”
Kemiskinan dan Kesehatan
Kemiskinan menjadi topik penting dalam esai-esai Isti, boleh jadi karena ia melihat, bahkan mengalami, realita kemiskinan itu sehari-hari. Dalam esai berjudul Shockbreaker Orang Miskin, ia beretorika, kenapa orang-orang miskin cenderung tahan menderita? Dan bertanya, kapan penguasa bisa menghentikan hobinya membikin rakyat menderita? Esai Dari Mana Datangnya Kemiskinan?; Mental Makelar, Janji Surga Untuk Orang Miskin; Juga esai Menyembah Bendoro Cuan dalam Rezim Uang. Kemiskinan, menurutnya, adalah produk pemerintah tamak yang gemar mempermainkan penderitaan rakyat.
Isti menaruh respek pada sejumlah kawan dekat yang ia nilai punya sikap “dermawan”. Sosok yang paling ia hormati adalah Hariman Siregar, Sang Demonstran Intelektual. Baginya, Hariman memiliki sikap altruisme yang tinggi, sering membantu aktivis yang berada dalam kesulitan finansial maupun non-finansial. Ia menulis: “Bang Hariman memiliki jiwa filantropi, … mewakafkan atau mendarmakan diri demi kebaikan manusia dan dunia.” Ia juga menulis esai tentang Denny JA, yang baginya adalah Radar Filantropi ‘Satriyo Pinayungan’. Entah apa maksudnya istilah ini.
Amarah Isti pada kekuasaan yang memproduksi kemiskinan dan penderitaan rakyat ia tuangkan dalam esai berjudul Melihat Politik dari Pangkal Paha. Baginya politik itu kotor, harus dibongkar dan dilawan. “Sejarah terus berulang, Indonesia dipimpin penguasa yang rakus, bodoh, nekat, ngawur, ambisius dan culas. Politikus yang cuma pintar mengoperasikan mesin pencitraan, mesin kebohongan, memiliki peternakan buzzer bayaran yang tugasnya menelikung akal sehat dan opini rakyat,” tulisnya. Siapakah yang ia maksud?
Selain kemiskinan, Isti juga mengupas soal kesehatan, yang merefleksikan kondisi jasmaninya saat ini. Esai berjudul Soeharto Saja Kulawan Apalagi Cuma Diabetes; Atau tulisan Gula Darah, Soto Betawi dan ‘Tidak Pentingnya Filsafat’ mengindikasikan kegeraman pada penyakit yang ia derita. Sebagai pembaca referensi filsafat, ia gemar memikirkan berbagai fenomena terkait persoalan sosial, politik, budaya, teologi, termasuk kondisi kesehatannya, secara filosofis.
Namun, bagi Isti yang menyandang diabetes, berfilsafat itu berat. Berpikir filosofis memerlukan energi besar untuk menopang kerja otak. Cilakanya, penderita diabetes sepertinya harus berpantang mengkonsumsi berbagai makanan atau minuman yang dibutuhkan oleh otak agar memiliki cukup energi untuk berpikir. Satu situasi ironis, pergulatan dilematik yang harus dia jalani saat ini. Ingin terus berpikir tapi tak cukup energi.
Namun, pergulatan Isti pada “kemiskinan dan kesehatan”, mulai menunjukkan titik terang. Satu soal, tentang kemiskinan, sepertinya, mulai teratasi. Isti kini bekerja sebagai staf khusus di Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) pemerintahan Prabowo. Di lembaga ini, fungsi percepatan mengentaskan kemiskinan sudah terbukti “berhasil”, setidaknya buat Isti secara personal.
Pergulatan Isti berikutnya adalah mengatasi penyakit diabetes. Dengan perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI), melalui software AlphaFold. Satu platform revolusioner yang dikembangkan oleh DeepMind (Google) berhasil memprediksi struktur protein berdasarkan urutan asam aminonya. Teknologi ini memecahkan masalah biologis, bagaimana protein bekerja agar organ tubuh berfungsi optimal.
AlphaFold telah mampu mensimulasi struktur jutaan protein yang diketahui oleh sains. Teknologi ini bakal mengakselerasi penelitian di bidang biologi, kedokteran (penemuan obat), dan bioteknologi. Cuma soal waktu, paling lama lima tahun lagi, penyakit diabetes yang diderita Isti bakal bisa diatasi. Melengkapi kesuksesan kemiskinannya yang sudah teratasi.
Buku 66 Esai “Refleksi Aktivis dalam Secangkir Kopi” ini, menggambarkan pengalaman unik Isti dalam menyedu dan meminum kopi kehidupan. Ada rasa pahit dan getir, tapi itulah yang membuatnya selalu terjaga. Ada nada optimisme dalam torehan catatan esai-esai Isti, mengindikasikan kejelasan visi dan misinya untuk memenangi pergulatan hidup.
Hidup cuma mampir minum kopi, begitu ajaran filosofis yang dihayati Isti sebagai Wong Jowo. Bagaimana tetap optimis menjalani hidup dengan berbagai drama dan problematika, itulah pergulatannya. Begitulah cara Isti dalam mengkomunikasikan pesan, melalui tulisan, memastikan kehidupan terus terjaga. Buku kumpulan esai ini adalah pengalaman hidup dan pemikiran reflektif Isti sebagai aktivis. Menarik dibaca sembari ditemani secangkir kopi.
Jakarta, 7 Mei 2026.










