Oleh: Haidar Bagir


Saat menyempatkan diri mengikuti kuliah musim panas di George Washington Universitas bersama Sayed Hossein Nasr, beliau pernah menceritakan sebuah kisah terkait dengan Ayatullah Khomeini. Waktu itu adalah saat terjadinya Perang Irak-Iran, yang memakan waktu sampai 8 tahun karena Iran ngotot tidak mau berhenti perang, meski bagi mereka itu adalah perang yang dipaksakan oleh Rezim Saddam di Irak—betapa pun Iran menderita korban manusia serta kerusakan fisik dan biaya perang yang amat besar. (Btw, meski tidak selengkapnya penuturan Sayed Hossein Nasr, saya sebelumnya sudah membaca cerita yang sama dari sebuah buku tentang Revolusi Islam di Iran).

Alkisah, saat itu banyak sukarelawan muda Iran menjadi korban dalam perang tersebut. Lalu, seorang murid yang gelisah bertanya kepada Imam Khomeini, gurunya: “Agha (Tuan), kenapa kau biarkan ini semua ini terjadi?”

Jawab Imam Khomeini, “Tuhan saja membiarkan ribuan orang tak berdosa gugur karena gempa bumi (di Iran memang tak jarang terjadi gempa bumi yg menelan nyawa ribuan orang). (Sedang ini pengorbanan— yang jelas tujuannya—untuk melawan agresi yang zalim).”

Advertisement

Si murid masih terus gelisah dan berusaha membantah. Sampai akhirnya Imam Khomeini menukas: “Aku telah tuntas melewati empat perjalanan (al-asfar al-arba’ah).” (Empat perjalanan adalah sesuatu siklus perjalanan hidup yang lengkap, menyusuri kehidupan keduniaan dan kebersamaan dengan Tuhan setelah mencapai maqam spiritual tertinggi, sebagaimana diungkapkan oleh Mulla Sadra).

Kira-kira dengan ini sang Imam ingin mengatakan bahwa dia sudah mengetahui misteri Ketuhanan tentang segala sesuatu. Termasuk soal pengorbanan demi Tuhan ini.

Saya sendiri tidak tahu, seberapa akurat kisah ini. Tapi, setidaknya hal ini menggambarkan suatu ideologi ketuhanan, yang memperlawankan—setidaknya di suatu titik kritis—antara keduniaan sekularistik dan kemutlakan Ketuhanan).

(Di kisah yang saya baca di buku, siapa si murid, tidak disebutkan. Tapi, dalam kisah Nasr, saya mendapati bahwa si murid bukanlah sembarang murid. Melainkan Mahdi Hairi Yazdi. Cucu Abdul Karim Hairi—pembangun kota Qum sebagai pusat ilmu Islam di Iran–yang belakangan dikenal sebagai salah satu filosof besar Iran modern. Dia lama mengajar di McGill University. di Kanada, sebelum akhirnya menjadi profesor di George Washington University itu.

Buku utamanya, “‘Ilm Hudhuri”, diterjemahkan Mizan, dan menjadi salah satu referensi utama disertasi saya).

Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran tidak semata-mata dapat dipahami sebagai konflik geopolitik atau militer. Pada lapisan yang lebih dalam, ia mencerminkan benturan antara dua horizon pemikiran—dua cara mendasar dalam memahami realitas, kehidupan, dan tujuan eksistensi manusia. Inilah suatu hal yang tak dipahami oleh banyak orang, khususnya oleh Trump dan Netanyahu ketika memutuskan untuk mengagresi Iran—dan telah, dan akan mengakibatkan biaya besar petualangan militer kedua negara ini.

Begini ceritanya…

Selama beberapa abad terakhir, dunia—termasuk dunia Muslim—semakin didominasi oleh paradigma sekularistik-rasionalistik. Dalam kerangka ini, kehidupan dipusatkan pada dunia yang tampak, dan realitas dinilai terutama melalui rasionalitas instrumental: kalkulasi kekuatan, efisiensi, kepentingan material, dan keberhasilan yang terukur secara empiris. Analisis Max Weber tentang disenchantment of the world menggambarkan proses ini: dunia kehilangan dimensi sakralnya dan direduksi menjadi objek pengelolaan rasional. Agama tidak selalu ditolak, tetapi sering dipinggirkan menjadi etika privat atau simbol legitimasi, tanpa peran menentukan dalam arah sejarah.

Dalam lanskap semacam ini, sikap Iran—terlepas dari kompleksitas politiknya—mengangkat kembali suatu horizon pemikiran yang selama beberapa dekade, bahkan abad, terakhir ini semakin terdesak ke bawah permukaan. Horizon ini menegaskan bahwa kehidupan pada akhirnya bersifat ukhrawi, eskatologis, dan berporos pada Ketuhanan. Dunia bukan tujuan akhir, melainkan medan ujian; rasionalitas tetap digunakan, tetapi tidak absolut; dan keberhasilan tidak semata-mata diukur secara material, melainkan juga secara spiritual dan moral.

Dalam kondisi normal, cara pandang ini bisa seperti tidak lagi hadir. Tapi, sesungguhnya dia hanya menjadi latent. Namun ketika eksistensi itu sendiri terancam—terlebih oleh kekuatan yang secara ideologis berbeda secara diametral—lapisan terdalam kesadaran keagamaan itu kembali muncul ke permukaan. Di sinilah dimensi eskatologis kembali menjadi faktor yang hidup dalam tindakan kolektif.

Syahadah dan Imajinasi Eskatologis

Fenomena ini tampak jelas dalam budaya keagamaan Syiah, khususnya dalam konteks Republik Islam Iran, Yang di dalamnya orientasi eskatologis tidak hanya menjadi keyakinan pribadi, tetapi juga membentuk imajinasi sosial. Konsep syahadah (martyrdom) tidak dipahami sebagai kematian yang sia-sia, melainkan sebagai puncak kemenangan spiritual. Berakar pada peristiwa Karbala, ia menegaskan bahwa kesetiaan pada kebenaran lebih tinggi nilainya daripada kelangsungan hidup itu sendiri. Kematian dalam jalan ini bukan akhir, melainkan pintu menuju kehidupan yang lebih abadi.

Sejalan dengan itu, keyakinan akan kebangkitan Imam Mahdi memberi dimensi waktu yang khas. Sejarah tidak dianggap tertutup, ketidakadilan tidak dipandang final, dan masa depan tetap terbuka bagi intervensi ilahi. Bahkan bagi sebagian kalangan, kemunculan Mahdi diyakini semakin dekat di tengah meningkatnya ketidakadilan global. Keyakinan ini, terlepas dari perdebatan tentang validitasnya, memiliki dampak nyata: ia menumbuhkan harapan, daya tahan, dan kesiapan untuk berkorban.

Namun, sebagaimana ditegaskan oleh Ruhollah Khomeini, keyakinan ini tidak boleh melahirkan sikap pasif. Kehadiran Mahdi tidak dipahami sebagai peristiwa yang datang secara tiba-tiba dan terlepas dari sejarah, melainkan sesuatu yang menuntut kesiapan kondisi sosial dan moral. Karena itu, perjuangan melawan ketidakadilan—termasuk terhadap kekuatan yang dipandang anti-agama atau sekularistik—dipahami sebagai bagian dari proses tersebut. Dalam kerangka ini, mati dalam jihad bukan hanya dimaknai sebagai meraih syahadah, tetapi juga sebagai partisipasi dalam menyiapkan panggung bagi terwujudnya keadilan eskatologis di bawah panji Imam Mahdi.

Religiusitas tanpa Eskatologi: Perbandingan dengan Israel

Jika dibandingkan dengan ideologi Israel, perbedaannya menjadi lebih jelas. Memang, dalam sebagian arus pemikiran Israel terdapat motif religius—seperti gagasan tentang tanah yang dijanjikan atau bangsa terpilih. Namun dalam praktik politiknya, motif tersebut cenderung beroperasi dalam horizon yang sama-sama duniawi dan sekularistik: penguasaan teritorial, supremasi militer, dan dominasi politik. Agama dalam konteks ini sering berfungsi sebagai legitimasi identitas dan pembenaran historis atas klaim politik, bukan sebagai orientasi menuju realitas yang melampaui dunia.

Penutup: Kembalinya Dimensi Transenden

Dengan demikian, konflik ini memperlihatkan bahwa yang sedang berhadapan bukan hanya kepentingan politik, tetapi dua cara memaknai realitas: antara visi yang melihat dunia sebagai tujuan akhir, dan visi yang melihatnya sebagai bagian dari perjalanan menuju sesuatu yang melampaui dunia itu sendiri.

Di titik inilah dimensi teologis dan eskatologis kembali tampil ke panggung sejarah—bukan sebagai sisa masa lalu, melainkan sebagai kekuatan yang masih mampu membentuk tindakan manusia dalam situasi paling ekstrem sekalipun.

AS dan Israel sekarang sedang menghadapi kenyataan ini. Apa yang akan dilahirkan dari semuanya ini nanti? Apakah keyakinan religius a la Iran Syiah ini akan bisa dikalahkan, ataukah ini justru akan menjadi pencetus kebangkitan kembalinya?

Let’s wait and see…

Advertisement

Tinggalkan Komentar