Oplus_16908288

Oleh: Sobirin Malian

Suasana di dalam Masjid Nabawi mendadak hening dan menegangkan. Di dekat mimbar, Khalifah Umar bin Khattab duduk tercenung bersama para sahabat senior. Di hadapan mereka, berdiri tegap delegasi pendeta Nasrani dan Yahudi yang datang membawa misi besar. Mereka datang bukan untuk berdebat kusir, melainkan untuk menguji kebenaran Islam dengan membawa empat teka-teki rumit yang selama ini mengunci nalar banyak orang.

“Wahai Umar,” ujar pemimpin delegasi dengan nada menantang dan penuh percaya diri. “Jika agama yang kalian bawa ini memang benar, jawablah pertanyaan kami. Kami bersumpah, jika semua jawaban kalian benar dan memuaskan akal, kami akan menanggalkan jubah kami dan memeluk Islam hari ini juga.”

Umar mengangguk, mempersilakan mereka bicara. Pemimpin pendeta itu kemudian melangkah maju dan membacakan pertanyaannya satu per satu dengan suara lantang:

“Apakah yang tidak dimiliki oleh Allah? Apakah yang tidak diketahui oleh Allah? Apakah yang tidak ada di sisi Allah? Dan di manakah tempat di bumi ini yang hanya pernah disinari matahari satu kali saja semenjak dunia diciptakan hingga hari kiamat?”

Mendengar rangkaian kalimat yang paradoks dan menjebak itu, keheningan di dalam masjid terasa kian mencekam. Para sahabat saling pandang, dahi mereka berkerut, dan ruang itu mendadak diselimuti kecemasan. Pertanyaan-pertanyaan itu terasa seperti jebakan logika yang mustahil dijawab tanpa mencederai keagungan sifat-sifat Tuhan. Jika salah menjawab, taruhannya adalah wibawa Islam di mata dunia.

Melihat situasi yang buntu tersebut, Umar segera menoleh ke arah budaknya dan memerintahkan dengan tegas, “Cepat, panggil Ali ke mari!”

Tidak lama kemudian, masuklah Sayyidina Ali bin Abi Thalib dengan langkahnya yang tenang dan berwibawa. Wajahnya memancarkan kedamaian seorang lelaki yang dadanya telah dipenuhi oleh cahaya nubuwah. Umar segera menyambutnya dan menceritakan kegelisahan yang sedang melanda majelis tersebut.

Ali tersenyum tipis, sangat tenang. Tanpa ada keraguan sedikit pun di wajahnya, ia melangkah mendekati para pendeta yang mulai tampak di atas angin. Di dalam benak para sahabat, sabda Rasulullah SAW bertahun-tahun lalu seolah bergema kembali di ruangan itu: “Aku adalah kotanya ilmu, dan Ali adalah pintunya.” Sang pintu ilmu kini bersiap menyingkap kebenaran.

Ali memandang para pendeta itu dengan teduh, lalu mulai berbicara. Suaranya jernih, mengalir, dan menembus sanubari yang mendengarnya.

“Mengenai pertanyaan pertama kalian, tentang apa yang tidak dimiliki Allah,” ujar Ali memecah kesunyian. “Jawabannya adalah anak dan istri. Karena Allah Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Hal ini mutlak seperti firman-Nya dalam Kitab Suci kami:”

“Katakanlah (Muhammad), ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.’” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Para pendeta tertegun. Jawaban itu begitu lugas. Tanpa memberi jeda bagi keraguan mereka, Ali melanjutkan ke pertanyaan kedua.

“Mengenai apa yang tidak diketahui Allah, jawabannya adalah keberadaan sekutu atau tuhan lain selain diri-Nya. Allah tidak mengetahuinya karena hal itu memang tidak pernah ada di seluruh alam semesta.

Allah menegaskannya dalam Al-Qur’an:”

“…Katakanlah, ‘Apakah kamu hendak memberitahukan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak (pula) di bumi?’ Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Yunus: 18)

Suasana masjid yang tadinya tegang perlahan-lahan mulai mencair. Decak kagum mulai terdengar samar. Ali kemudian menatap tajam para penanya untuk memberikan jawaban ketiga.

“Mengenai apa yang tidak ada di sisi Allah, jawabannya adalah sifat zalim. Allah adalah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan Dia telah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya serta bagi seluruh makhluk-Nya. Sebagaimana firman-Nya:”

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa berbuat jahat maka (dampaknya) menimpa dirinya sendiri; dan Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-(Nya).” (QS. Fushshilat: 46)

Mata para pendeta mulai berkaca-kaca. Logika teologis yang mereka susun untuk menyudutkan Islam justru berbalik menjadi hujah yang mempertegas keagungan tauhid. Terakhir, Ali menutup jawabannya dengan sebuah visualisasi sejarah yang menggetarkan hati:

“Dan pertanyaan terakhir kalian, tentang tempat di bumi yang hanya pernah disinari matahari satu kali hingga hari kiamat… Tempat itu adalah dasar Laut Merah. Yaitu ketika Nabi Musa membelah lautan atas izin Allah. Saat air terbelah menghablur menjadi dinding-dinding raksasa, matahari menyinari dasarnya yang mendadak kering. Namun setelah Musa dan kaumnya menyeberang, laut itu menutup kembali, mengubur Fir’aun, dan dasarnya tidak akan pernah lagi melihat cahaya matahari sampai hari kiamat tiba.”

Begitu kalimat terakhir selesai diucapkan, suasana masjid langsung pecah oleh gema takbir para sahabat yang membubung tinggi ke langit-langit Madinah. “Allahu Akbar! Allahu Akbar!”
Kecemasan yang sempat menggelayuti wajah Umar runtuh seketika, berganti rasa syukur yang teramat dalam. Umar menatap Ali dengan mata berkaca-kaca penuh rasa hormat. Di hadapan Ali, para pendeta itu terdiam seribu bahasa. Mereka tertunduk, bukan karena merasa dihinakan oleh kekalahan, melainkan karena hati mereka telah ditaklukkan oleh keindahan kebenaran yang begitu presisi.

Sesuai dengan janji yang mereka ucapkan di awal, hidayah Allah akhirnya merasuk tanpa penghalang ke dalam dada mereka. Di bawah bimbingan sang gerbang ilmu dan disaksikan langsung oleh Khalifah Umar, delegasi tersebut bersujud, mengucapkan dua kalimat syahadat, dan memeluk Islam. Logika manusia yang angkuh malam itu menyerah pasrah di hadapan samudera ilmu Allah yang dialirkan lewat lisan suci Ali bin Abi Thalib.

Advertisement
Artikulli paraprakTerjebak Asam Belerang
Artikulli tjetërDanantara: Antara Harapan Efisiensi dan Jebakan Konflik Kepentingan Sebuah Tinjauan Kritis atas Arsitektur Baru Pengelolaan Aset Negara

Tinggalkan Komentar