Oleh: Oka Swastika Mahendra

Oleh dini hari yang menggigil, Oka Jiwa memulai langkah dari kaki gunung. Desa Kinahrejo.

Rambut gondrongnya diikat seadanya. Sehelai demi sehelai masih lepas diterpa angin lereng. Sorot matanya bening—bukan karena hidup yang ringan, tetapi karena terlalu sering menatap langit dari tempat-tempat tinggi. Ia termasuk jenis pendaki yang percaya bahwa setiap puncak menyimpan jawaban yang tak bisa ditemukan di kota.

Gunung Merapi memanggilnya lagi.

Bukan pertama kali. Bukan juga yang terakhir, begitu pikirnya.

Di tasnya ada perlengkapan secukupnya, air, jaket lusuh, sepotong roti, dan sebuah buku catatan kecil yang hampir penuh. Pada halaman terakhir tertulis kalimat yang ia tulis beberapa bulan lalu:

*”Kalau Tuhan tersembunyi di mana-mana, mungkin aku akan lebih mudah menemukannya dari atas.”*

Ia berjalan sendiri.

Langkah demi langkah menembus jalur yang gelap. Lampu kepala menyorot tanah berbatu. Sesekali ia berhenti, menoleh ke bawah, melihat lampu-lampu rumah yang mengecil seperti bintang jatuh ke bumi.

Dalam dirinya ada sesuatu yang tak pernah selesai.

Ia tidak menyebutnya penyesalan.
Ia menyebutnya: suara.

Suara yang muncul setiap selesai turun gunung.

Suara yang bertanya:
_*”Kamu mencari apa di puncak?”*_

Menjelang subuh, udara berubah.

Merapi tidak pernah benar-benar diam.

Tanah terasa hangat di beberapa titik. Angin membawa bau tajam yang membuat tenggorokan seperti disayat pelan.

Oka mengenal bau itu.
Belerang.
Ia menarik buff menutupi hidung.

Namun langkahnya tak berhenti.
_*“Sedikit lagi,”*_ katanya pada diri sendiri.

Puncak selalu membuat manusia percaya bahwa sedikit lagi adalah jarak yang masuk akal.

Semakin tinggi, semakin sunyi.

Ia teringat percakapan seorang tua _*Surakso Hargo*_ mBah Hargo di bawah gunung beberapa jam sebelumnya.

_*“Kalau naik gunung, jangan cuma bawa tenaga. Bawa hati yang ringan.”*_

Oka tertawa waktu itu.
Hati ringan?

Ia sudah lama berjalan dengan dada penuh.

Penuh ambisi. Penuh pembuktian. Penuh rasa ingin menjadi seseorang yang bisa berkata: _*aku pernah sampai.*_

Langit mulai memucat.
Lalu tiba-tiba angin berbalik.
Asap putih keabu-abuan bergerak cepat.

Bukan kabut.
Belerang.

Dalam hitungan detik jalur yang tadi jelas berubah samar.

Oka menutup wajah.
Mengambil napas.
Salah.
Udara terasa berat.

Dadanya sesak.
Sekali.
Dua kali.
Ia batuk keras.

Pandangan mulai bergetar.
Langkah yang tadi penuh keyakinan berubah menjadi pencarian.

Ia menunduk, mencoba bergerak menjauh.

Namun arah terasa hilang.
Asap menelan ruang.

Dadanya seperti ditekan tangan tak terlihat.
Di saat seperti itu, tubuh biasanya jujur.

Pikiran yang selama ini berhasil ia kalahkan mulai bicara.

Bukan tentang gunung.
Bukan tentang puncak.
Melainkan tentang dirinya.

Tentang orang orangtuanya saudara saudara nya yang selalu ditinggalkan tiap seminggu sekali mendaki demi perjalanan apa, entahlah.

Tentang ibunya yang sering berkata:

_*“Jangan terlalu sering mengejar yang jauh sampai lupa pulang.”*_

Tentang ibadah yang sering ditunda atau jelas dilalaikan.

Tentang doa doanya yang hanya muncul saat takut.

Tentang dirinya yang diam-diam mengubah puncak menjadi sesuatu yang lebih tinggi daripada rasa syukur.

Ia berlutut.
Batuk.

Air mata keluar—entah karena asap atau karena hal lain.

Dalam dada yang sesak, muncul kalimat yang tak ia cari:

_*Yang membuat sesak bukan hanya belerang.*_

Ada dosa yang lama disimpan.

Ada kesombongan yang disamarkan menjadi petualangan.

Ada keyakinan bahwa semua bisa ditaklukkan.

Padahal manusia bahkan tak sanggup memilih udara berikutnya.

Oka memejamkan mata.

Untuk pertama kali dalam banyak pendakian, ia tidak meminta puncak.

Ia berdoa pendek.
Tidak indah.
Tidak puitis.
Hanya jujur.

_*“Kalau aku turun nanti… aku ingin pulang dengan dada yang lebih lapang saat naik.”*_

Entah berapa lama.
Angin berubah lagi.
Asap menipis.
Jalur mulai terlihat.

Oka berdiri pelan.
Puncak masih di atas.
Ketinggian 2911 mdpl.
Masih mungkin dicapai.

Ia menatap ke arah sana cukup lama.

Lalu tersenyum kecil.
Hari itu ia berbalik.
Turun.

Bukan karena kalah.
Tetapi karena baru sadar
tidak semua perjalanan harus selesai di titik tertinggi.

Ada yang selesai saat manusia berhenti merasa paling kuat.

Saat mencapai lereng bawah, matahari sudah muncul.

Orang-orang mulai naik.

Seseorang bertanya:

_*“Mas, nggak jadi summit?”*_

Oka menoleh.

Rambut gondrongnya berantakan. Sorot matanya tetap bening.

Ia tersenyum.

_*“Jadi.”*_
Orang itu bingung.

Oka melihat ke langit lalu ke dadanya sendiri.

_*“Cuma ternyata puncaknya bukan di atas sana.”*_

Ia melangkah pulang.

Dan untuk pertama kali setelah sekian ratus pendakian dan puluhan gunung napasnya terasa lebih lega.

Jogjakarta, 26 Mei 1979
Advertisement
Artikulli paraprakAllah “Mem-Prank” Nabi Ibrahim?

Tinggalkan Komentar