Sesudah pemilu usai, biasanya politik memasuki musim sunyi.
Spanduk diturunkan. Sorak-sorai mereda. Nama-nama yang kemarin memenuhi layar televisi dan linimasa media sosial perlahan kembali menjadi arsip. Demokrasi modern memang mengenal apa yang disebut para ilmuwan politik sebagai attention cycle—siklus perhatian publik yang bergerak cepat, naik dengan mendadak lalu turun tanpa pamit.
Kita melihat itu setelah Pilpres 2024.
Ganjar Pranowo, Mahfud MD, Muhaimin Iskandar, dan Anies Baswedan adalah empat tokoh yang sama-sama memenuhi ruang percakapan nasional selama masa kompetisi. Namun beberapa waktu setelah pemilu berakhir, ada sesuatu yang menarik: dari keempat nama itu, Anies tampak paling sering kembali muncul dalam percakapan publik.
Padahal ia tidak sedang memegang kekuasaan.
Ia bukan menteri. Ia bukan kepala daerah. Ia tidak memimpin lembaga negara. Bahkan ia tidak memiliki kendaraan politik formal yang kuat sebagaimana lazimnya tokoh-tokoh yang ingin tetap relevan dalam politik Indonesia.
Tetapi setiap kali ia berbicara, ada gema yang memanjang.
Mengapa?
Barangkali karena politik hari ini tidak lagi semata-mata ditentukan oleh posisi, melainkan oleh kemampuan seseorang bertahan dalam ingatan publik.
Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu pernah menyebut adanya symbolic capital—modal simbolik. Bukan kekuasaan formal, bukan pula kekayaan material, melainkan kemampuan seseorang memperoleh pengakuan sosial yang membuat ucapannya dianggap penting. Dalam politik modern, modal semacam ini sering kali lebih tahan lama daripada jabatan.
Jabatan berakhir.
Pengaruh belum tentu.
Di media sosial fenomena itu tampak jelas. Sebuah komentar singkat dari Anies dapat berkembang menjadi perdebatan panjang. Media mengutipnya. Pendukung menyebarkannya. Pengkritik menanggapinya. Bahkan elite pemerintah merasa perlu memberikan respons.
Menariknya, bukan karena Anies selalu menawarkan gagasan yang baru. Sering kali yang ia lakukan hanyalah mengartikulasikan sesuatu yang sudah beredar dalam benak masyarakat.
Di sinilah letak kekuatan seorang artikulator.
Ia tidak menciptakan seluruh percakapan.
Ia menangkap percakapan yang sudah hidup lalu memberinya bahasa.
Hannah Arendt pernah menulis bahwa politik lahir ketika manusia berbicara dan bertindak di ruang publik. Dalam pengertian itu, relevansi politik tidak selalu bergantung pada kursi kekuasaan, tetapi pada kemampuan menghadirkan narasi yang membuat masyarakat merasa suaranya diwakili.
Mungkin karena itu sebagian publik masih melihat Anies sebagai simbol perubahan.
Bukan semata-mata karena program atau partai politik tertentu, melainkan karena ia sering hadir sebagai pengingat bahwa demokrasi membutuhkan kritik, dialog, dan percakapan yang terus hidup. Di tengah kecenderungan politik yang semakin pragmatis, posisi semacam ini memiliki daya tarik tersendiri.
Tetapi ada hal lain yang sering luput diperhatikan.
Anies tidak muncul setiap hari.
Ia tidak bereaksi terhadap semua isu.
Ia tidak tergoda untuk mengomentari setiap kontroversi nasional.
Dalam dunia media sosial yang menghargai kecepatan dan kebisingan, pilihan untuk tidak selalu berbicara justru menjadi strategi yang menarik. Ia hadir secukupnya. Tidak menghilang, tetapi juga tidak membanjiri ruang publik.
Seolah memahami bahwa eksposur yang berlebihan dapat melahirkan kejenuhan.
Dalam teori komunikasi politik, konsistensi sering lebih penting daripada frekuensi. Publik tidak selalu mengingat siapa yang paling sering berbicara. Publik lebih mudah mengingat siapa yang berbicara pada saat yang tepat.
Karena itu setiap kemunculan Anies terasa memiliki bobot politik yang lebih besar daripada durasinya.
Namun semua itu belum tentu cukup.
Politik Indonesia adalah ruang yang cair. Loyalitas berubah. Koalisi berpindah. Tokoh yang hari ini diperhitungkan bisa saja tenggelam besok pagi. Mereka yang hari ini berada dalam lingkar kekuasaan belum tentu tetap berada di sana ketika 2029 tiba.
Sejarah politik Indonesia penuh dengan kejutan.
Yang tampak kuat bisa runtuh.
Yang dianggap selesai bisa kembali.
Karena itu terlalu dini menyimpulkan bahwa konsistensi komunikasi Anies otomatis menjadi tiket menuju kompetisi 2029. Modal simbolik penting, tetapi politik juga membutuhkan organisasi, jaringan, sumber daya, dan momentum sejarah yang tepat.
Meski demikian, ada satu fakta yang sulit dibantah.
Sampai hari ini, setiap kali Anies berbicara mengenai isu publik, Indonesia masih mendengarkan.
Barangkali bukan karena semua orang setuju.
Justru sebaliknya.
Ia didengar karena masih mampu memunculkan persetujuan sekaligus penolakan. Dan dalam politik, sering kali relevansi diukur bukan dari seberapa banyak orang yang menyukai kita, melainkan dari seberapa banyak orang merasa perlu merespons kita.
Mungkin di situlah letak cerita yang sesungguhnya.
Anies belum tentu sedang berada di pusat kekuasaan.
Tetapi ia masih berada di pusat perhatian.
Dan dalam politik demokratis, perhatian sering kali merupakan mata uang yang nilainya tak kalah mahal dibandingkan kekuasaan itu sendiri.
_penulis Tinggal di Jogjakarta_
Advertisement











